KH. Marzuki Mustamar Pilihan Tepat di Muktamar NU Ke 35

*KH. Marzuki Mustamar , Pilihan Tepat di Muktamar NU Ke-35*

Oleh KH Imam Jazuli Lc., MA

Nahdlatul Ulama (NU), sebagai organisasi massa Islam terbesar di Indonesia, selalu memiliki dinamika internal yang kaya, terutama menjelang Muktamar ke 35 dengan pemilihan Rois Am dan Ketua Umum PBNU. Saat ini, kepemimpinan PBNU periode 2021-2026 dipegang oleh KH. Yahya Cholil Staquf, dengan Muktamar berikutnya diperkirakan berlangsung pada tahun 2026 ini.

Bursa calon ketua umum PBNU senantiasa terbuka bagi kader-kader terbaik, dan di antara alternatif yang mengemuka, nama KH. Marzuki Mustamar muncul sebagai salah satu kandidat potensial yang layak dipertimbangkan dengan rekam jejaknya yang mendukung.

NU memang memiliki stok kader ulama yang mumpuni dengan beragam latar belakang dan kapasitas. Selain ketua umum petahana, nama-nama seperti KH. Abdussalam Shohib (Gus Salam), yang sempat mengemuka sebagai kandidat versi MLB-NU, serta ulama lain seperti KH. Zulfa Mustofa (yang kini menjabat Pj Ketua Umum sementara) menunjukkan bahwa pilihan kepemimpinan sangat beragam.

Hal tersebut mengindikasikan kekayaan sumber daya manusia di tubuh NU, memastikan adanya opsi kepemimpinan yang dapat mengakomodasi berbagai aspirasi di tingkat wilayah dan cabang. Maka KH. Marzuki Mustamar, pengasuh Pondok Pesantren Sabilurrosyad di Malang, Jawa Timur, layak menjadi salah satu kandidat utama ketua umum PBNU, berdasarkan beberapa alasan fundamental:

Pertama. Pengalaman Organisasi yang Panjang.

Kiai Marzuki meniti karier organisasinya di NU dari bawah. Beliau pernah menjabat sebagai Ketua Tanfidziyah PCNU Kota Malang selama dua periode sebelum akhirnya memimpin PWNU Jawa Timur, organisasi wilayah terbesar di NU. Jenjang pengalaman ini menunjukkan pemahaman mendalam tentang struktur, kultur, dan manajemen organisasi NU dari tingkat cabang hingga wilayah. Bahkan prestasi gemilang saat beliau memimpin di Tingkat PC dan PW diakui banyak pihak.

Dua. Keilmuan dan Keulamaan (Alim-Allamah)

Beliau dikenal selain dosen UIN Malang, juga sebagai ulama yang mendalam ilmu agamanya, mengasuh pesantren, dan menjadi rujukan fatwa di kalangan Nahdliyin, bahkan pernah menjadi anggota Komisi Fatwa MUI Kota Malang. Kapasitas keilmuan ini adalah prasyarat mutlak bagi seorang pemimpin tertinggi NU, yang tidak hanya mengurus aspek manajerial, tetapi juga aspek keagamaan dan bimbingan umat.

Tiga. Vokal, Kritis, dan Berkarakter

Kiai Marzuki dikenal memiliki sikap yang tegas, vokal, dan kritis terhadap isu-isu yang dianggap bertentangan dengan prinsip-prinsip NU atau kepentingan umat. Sikap ini mencerminkan integritas dan keberanian moral yang dibutuhkan untuk menjaga marwah organisasi di tengah dinamika sosial dan politik yang kompleks.

Empat. Memahami Komando Organisasi

Poin penting dari karakter organisatoris Kiai Marzuki terlihat saat pemberhentian dirinya sebagai Ketua PWNU Jatim oleh PBNU. Meskipun banyak pihak, termasuk ketua umum PKB, Gus Muhaimin Iskandar, menyayangkan keputusan tersebut dan menduga adanya motif politik, Kiai Marzuki menunjukkan sikap menghormati keputusan PBNU sebagai bentuk kepatuhan terhadap hierarki organisasi.

Beliau menerima keputusan tersebut tanpa perlawanan berarti di ranah struktural, meskipun alasan pemberhentiannya sendiri tidak dijelaskan secara gamblang dalam surat resmi PBNU, yang hanya menyebut “masalah internal berlarut-larut”. Sikap ini menunjukkan kedewasaan berorganisasi dan pemahaman akan pentingnya menjaga soliditas internal NU.

Lima. Representasi Geografis dan Historis

Kiai Marzuki berasal dari Malang, Jawa Timur, sebuah basis kultural NU yang kuat dan strategis. Malang juga merupakan tempat di mana KH. Hasyim Muzadi, salah satu mantan Ketua Umum PBNU (1999-2010), pernah tinggal dan berkiprah. Keberadaannya sebagai representasi ulama Jawa Timur dapat menjadi jembatan bagi berbagai faksi dan mengembalikan keseimbangan kepemimpinan yang merata secara geografis di tubuh PBNU.

Secara keseluruhan, dengan rekam jejak organisasi yang solid, kapasitas keilmuan yang diakui, sikap kritis, dan kepatuhan terhadap etika organisasi, KH. Marzuki Mustamar merupakan salah satu alternatif kader terbaik yang sangat layak untuk memimpin PBNU di masa mendatang. Wallahu’alam bishawab.