
oleh: Imam Kusnin Ahmad SH. Wartawan Senior. Aktif di PW ISNU Jawa Timur.
JAKARTA, 9 Februari 2026 – Di tengah hiruk-pikuk birokrasi dan dinamika kebijakan publik, seringkali kita lupa bahwa solusi bagi masalah sosial seringkali terletak pada penggabungan kekuatan negara dengan nilai-nilai yang hidup di tengah masyarakat.
Hal inilah yang menjadi inti dari kolaborasi strategis yang baru saja dijalin antara BPJS Kesehatan dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI). Bukan sekadar penandatanganan nota kesepahaman, kerja sama ini adalah upaya cerdas untuk memperkuat Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) dengan menjadikannya bagian dari pesan moral dan spiritual, melalui media yang paling dekat dengan hati masyarakat: khutbah Jumat.
*Jembatan Antara Syariah dan Kesejahteraan*
Bayangkan sebuah momen khidmat di masjid-masjid di seluruh Indonesia. Saat khotbah naik ke mimbar, pesan yang disampaikan tidak lagi hanya berkisar pada ibadah ritual, tetapi juga menyentuh aspek kehidupan nyata: pentingnya menjaga kesehatan dan tanggung jawab sosial. Ini bukan imajinasi belaka, melainkan realitas yang mulai dibangun melalui peluncuran buku kumpulan materi khutbah berjudul “Meraih Sehat, Mensyukuri Nikmat”.
Buku ini adalah bukti nyata bagaimana nilai-nilai agama dapat diintegrasikan dengan kebutuhan modern. Di dalamnya, kesehatan tidak lagi dipandang semata sebagai kondisi fisik yang bebas penyakit, melainkan sebagai nikmat Tuhan yang wajib dijaga dan disyukuri. Lebih dari itu, partisipasi dalam JKN diposisikan bukan sebagai beban administratif, melainkan sebagai wujud nyata dari semangat ta’awun—saling tolong-menolong yang bernilai ibadah.
Direktur Utama BPJS Kesehatan, Ghufron Mukti, melihat sinergi ini sebagai kunci keberlanjutan. “Melalui pendekatan keagamaan, diharapkan literasi masyarakat terhadap pentingnya jaminan kesehatan dan semangat gotong royong dalam Program JKN dapat semakin meningkat,” ujarnya.
Pernyataan ini mengandalkan pemahaman yang mendalam tentang psikologi masyarakat Indonesia: pesan yang disampaikan dengan landasan nilai agama cenderung lebih mudah diterima dan diinternalisasi dibandingkan sekadar instruksi kebijakan.
*Kesehatan sebagai Nikmat yang Melampaui Harta*
Wakil Ketua MUI, K.H. M. Cholil Nafis, mempertegas urgensi pesan ini dengan menempatkan kesehatan dalam hierarki nikmat kehidupan. Menurutnya, kesehatan adalah indikator utama kemajuan sebuah bangsa, dan nilainya begitu agung—bahkan melampaui harta benda—hanya berada di bawah iman, Islam, dan keluarga.
Pandangan ini menjadi fondasi filosofis dari buku khutbah tersebut. Kiai Cholil menjelaskan bahwa menjaga kesehatan adalah bentuk rasa syukur, dan berbagi manfaat melalui sistem jaminan kesehatan adalah bentuk sedekah. “Konsep ta’awun dalam Program JKN menjadi sedekah, menjadi pahala bagi peserta, sekaligus memberi manfaat, karena hasilnya kembali untuk kemaslahatan peserta,” jelasnya.
Di sini terletak kejeniusan pendekatan ini: ia mengubah paradigma. Membayar iuran JKN bukan lagi dilihat sebagai pengeluaran, melainkan investasi sosial dan spiritual yang membawa pahala. Gotong royong yang menjadi jiwa bangsa Indonesia kini mendapatkan landasan syariah yang kuat, menjadikan partisipasi aktif sebagai sebuah kehormatan, bukan kewajiban yang membebani.
*Negara Hadir, Masyarakat Bergerak*
Apresiasi terhadap langkah strategis ini juga datang dari Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar (Cak Imin). Baginya, JKN adalah bukti konkret kehadiran negara dalam melindungi warganya, terutama mereka yang kurang mampu melalui skema Penerima Bantuan Iuran (PBI).
“Jika data tepat dan akurat, hampir tidak ada masyarakat miskin yang tidak mendapatkan perawatan. Jika masih terdapat kendala, umumnya bersifat administratif, bukan pada prinsip sistem maupun tata kelolanya,” ujar Cak Imin.
Penegasan ini penting untuk menghilangkan keraguan masyarakat akan kredibilitas sistem. Fondasi JKN sudah kuat; yang dibutuhkan hanyalah penyempurnaan dalam pelayanan dan, yang terpenting, kesadaran kolektif untuk berpartisipasi.
Cak Imin menambahkan bahwa dari kacamata syariah, JKN telah sempurna mengimplementasikan semangat saling membantu.
Partisipasi masyarakat adalah bentuk kepedulian nyata. “Dukungan anggaran negara untuk masyarakat miskin, ditambah penguatan nilai syariah, menjadi fondasi kuat bagi keberlanjutan program ini,” katanya.
*Mengapa Kolaborasi Ini Penting?*
Kerja sama BPJS Kesehatan dan Majelis UIama Indonesia adalah jawaban atas tantangan klasik dalam kebijakan publik: acceptance atau penerimaan masyarakat. Seringkali, program sosial yang baik gagal maksimal bukan karena sistemnya yang buruk, melainkan karena rendahnya pemahaman dan rasa memiliki di kalangan masyarakat.
Dengan membawa pesan JKN ke dalam ranah dakwah, hambatan budaya dan psikologis dapat dipecahkan. Pendekatan ini bersifat inklusif dan respektif terhadap identitas masyarakat Indonesia yang religius. Ia membuktikan bahwa kebijakan publik tidak harus kaku dan terlepas dari nilai-nilai lokal. Sebaliknya, ketika kebijakan diselaraskan dengan nilai-nilai yang dianut masyarakat, efektivitas penyebaran informasi dan tingkat partisipasi akan meningkat secara signifikan.
Selain itu, penekanan pada konsep ta’awun dan sedekah memberikan motivasi intrinsik yang jauh lebih kuat daripada sekadar dorongan eksternal atau peraturan. Masyarakat diajak untuk melihat JKN sebagai gerakan kebaikan bersama, di mana setiap individu berkontribusi untuk kesejahteraan sesama, sekaligus melindungi diri sendiri.
*Inovasi dan Inspirasi ke Depan*
Kolaborasi ini membuka babak baru dalam komunikasi kebijakan kesehatan di Indonesia. Ini adalah inovasi sosial yang menunjukkan bahwa solusi terbaik seringkali lahir dari pertemuan antara sistem modern dan kearifan lokal serta nilai agama.
Ke depannya, model sinergi ini bisa dikembangkan lebih jauh. Materi dalam buku “Meraih Sehat, Mensyukuri Nikmat” tidak harus berhenti di mimbar masjid. Ia bisa diadaptasi menjadi konten digital, ceramah santai, hingga materi pembelajaran di berbagai komunitas, sehingga pesan ini menjangkau generasi muda yang lebih akrab dengan teknologi.
Mari kita jadikan momen ini sebagai pengingat yang mendalam. Menjaga kesehatan adalah cara kita mensyukuri nikmat hidup. Berpartisipasi dalam JKN adalah cara kita mencintai sesama dan membangun bangsa. Setiap langkah kita untuk terdaftar dan aktif dalam program ini adalah benih kebaikan yang akan tumbuh menjadi perlindungan bagi kita, keluarga, dan seluruh negeri. Mari bergotong royong, hidupkan semangat ta’awun, dan bersama-sama wujudkan Indonesia yang sehat, sejahtera, dan penuh rasa syukur.*Wallahu A’lam Bisshawab*
