
Prof. Mahmud Mustain
(Teknik Kelautan ITS, Waketum PP Serikat Nelayan NU)
InsyaAllah kita semua sepakat bahwa dinamika hidup ini komplek sehingga bila diformulasikan dlm bentuk matematika ya memang berupa persamaan komplek.
Persamaan ini ya sudah barang tentu ada unsur riil dan ada unsur imajiner. Dalam penyelesaiannya hanya digunakan yang riil saja, ada juga yang menyentuh unsur imajiner tetapi berupa pendekatan.
Kenyataan dalam analisa rasional kejadian yang berjalan nyata kasat mata ini hanya berbasis riil saja. Padahal bisa jadi yang berperan dominan adalah unsur imajiner kita tutup mata.
Mestinya ilmu yang berupa sains ini dalam tela’ah juga harus selalu melibatkan imajiner.
Di sini sains dalam menggiring bentuk makro (Global) mestinya juga menyertakan imajiner. Yang menjadi masalah adalah asumsi atau pendekatan imajiner (i) kwadrat sama dengan minus satu ini yang terlalu gegabah.
Imajiner itu mestinya alam riil tidak bisa menjangkau dan tidak bisa mendefinisikan namanya juga imajiner. Jadi yang masuk akal riil itu alam logika dan imajiner itu alam keimanan.
Kalau diteruskan mestinya sains itu harus terus melibatkan iman (imaginer). Ini insyaAllah ke depan bisa menyelesaikan kekacauan dunia.
Contoh konkrit…
Betapa logika bangsa ini GUNDAH ketika mensikapi info bahwa inggris diboncengi belanda mau mengambil lagi NKRI.
Pak Karno menggunakan komponen imajiner dalam mensikapi ini atas saran Jendral Sudirman untuk sowan Mbah Hasyim As’ari. Mbah Hasyim tetap juga melibatkan komponen riil untuk mencari solusi disamping jelas juga mengandalkan (imajiner) iman yakni bantuan Allah SWT.
Komponen riil mengundang ulama sejawa-madura untuk musyawaroh. Komponen imajiner riadloh bathin. Maka ketemu solusi resolusi jihad.
Contoh lain….di NU.
Menyelesaikan rencana kudeta oleh PKI 1965.
Begitu beredar berita penculikan di jkt.
Para kyai manggil Ansor dan Banser untuk disangoni digembleng kesaktian (imajiner), Bismillah selesaikan orang2 PKI.
Maaf penulis ingat ikut menyaksikan salah satu acara penggemblengan tsb.
Penulis aslinya melihat adanya kekosongan wadah dan adanya isi yang belum ada tempat/wadah.
Persisnya antara adanya bilangan komplek komponen imajiner (yang belum/tidak jelas implementasi nyata dalam kehidupan ?), sebagai wadah dalam persamaan matematika. Sementara isi yang belum dapat wadah adalah unsur bathiniah/ruh/iman manusia hidup ini. Di sini sinergi sains dengan agama sangat relevan.
Semoga manfaat barokah selamat dunia sampai akhirat aamiin.
Surabaya,
22 Sya’ban 1447
atau
09 Februari 2026
m.mustain
