بسم الله *Filsafat Ontologi: Teknologi Kelautan*

 

Prof. Mahmud Mustain
(Teknik Kelautan ITS, Waketum PP Serikat Nelayan NU)

Ontologi adalah cabang filsafat yang membahas tentang hakekat keberadaan atau eksistensi suatu entitas. Teknologi kelautan telah menjadi bagian integral dari kehidupan manusia modern. Dari eksplorasi laut sampai pengembangan energi terbarukan, teknologi kelautan telah membuka pintu bagi manusia untuk memahami dan memanfaatkan sumber daya laut. Tetapi, di balik kemajuan teknologi ini, terdapat pertanyaan ontologis yang perlu dijawab: apa hakikat teknologi kelautan itu sendiri?

QS Al-Nahl: 14 mensinyalir tentang kelautan, yakni:

هُوَ الَّذِي سَخَّرَ لَكُمُ الْبَحْرَ لِتَأْكُلُوا مِنْهُ لَحْمًا طَرِيًّا وَتَسْتَخْرِجُوا مِنْهُ حِلْيَةً تَلْبَسُونَهَا وَتَرَى الْفُلْكَ مَوَاخِرَ فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya: “Dan Dia-lah yang menundukkan laut untukmu, agar kamu dapat memakan darinya daging yang segar, dan agar kamu dapat mengeluarkan darinya perhiasan yang kamu pakai. Dan kamu melihat kapal-kapal berlayar di atasnya, dan agar kamu dapat mencari karunia-Nya dan agar kamu bersyukur.”

HR: Bukhari dan Muslim juga menjelaskan, yakni:
“Telah dikirimkan kepada umat manusia angin yang membawa rahmat, dan telah dikirimkan kepada mereka kapal-kapal yang berlayar di laut.”

Hadits ini menunjukkan bahwa teknologi kelautan, seperti kapal-kapal, adalah nikmat Allah yang diberikan kepada manusia untuk memudahkan urusan mereka.

Ontologi Teknologi Kelautan dalam konteks filsafat ontologi, teknologi kelautan dapat dipahami sebagai suatu entitas yang memiliki eksistensi sendiri. Teknologi kelautan bukanlah sekadar alat atau instrumen, melainkan suatu sistem yang kompleks yang melibatkan manusia, mesin, dan lingkungan laut. Teknologi kelautan memiliki kemampuan untuk mengubah cara kita memahami dan berinteraksi dengan laut, serta mempengaruhi hubungan kita dengan alam.

Eksistensi Teknologi Kelautan memiliki eksistensi yang unik, yaitu sebagai suatu entitas yang berada di antara alam dan manusia. Teknologi kelautan memungkinkan manusia untuk mengakses dan memanfaatkan sumber daya laut, namun juga mempengaruhi lingkungan laut dan ekosistemnya. Dalam hal ini, teknologi kelautan dapat dipandang sebagai suatu “agen” yang memiliki kemampuan untuk mempengaruhi dan diubah oleh lingkungan sekitarnya.

Implikasi Ontologis dari teknologi kelautan adalah bahwa kita perlu memahami teknologi kelautan sebagai suatu entitas yang memiliki hakikat sendiri. Kita perlu mempertimbangkan dampak teknologi kelautan terhadap lingkungan laut dan ekosistemnya, serta mempertimbangkan tanggung jawab kita sebagai manusia dalam mengembangkan dan menggunakan teknologi kelautan.

Alhasil, Teknologi kelautan adalah suatu entitas yang kompleks yang memiliki eksistensi sendiri. Kita perlu memahami teknologi kelautan sebagai suatu sistem yang melibatkan manusia, mesin, dan lingkungan laut, serta mempertimbangkan implikasi ontologis dari teknologi kelautan. Dengan demikian, kita dapat mengembangkan teknologi kelautan yang lebih bertanggung jawab dan berkelanjutan untuk kesejahteraan manusia. Semoga demikian adanya aamiin.

Artikel ini adalah hasil sintesis dari berbagai sumber referensi:
1. Buku-buku filsafat ontologi, seperti “Being and Time” oleh Martin Heidegger atau “The Phenomenology of Spirit” oleh Georg Wilhelm Friedrich Hegel.
2. Artikel-artikel jurnal ilmiah tentang teknologi kelautan dan filsafat ontologi, seperti “Journal of Maritime Research” atau “Philosophy & Technology”.
3. Penelitian ilmiah tentang teknologi kelautan dan dampaknya terhadap lingkungan laut, seperti penelitian oleh International Maritime Organization (IMO) atau National Oceanic and Atmospheric Administration (NOAA).
4. Sumber-sumber online, seperti situs web UNESCO, IMO, atau organisasi lingkungan laut lainnya.

Diberikan 3 contoh referensi spesifik:
– Heidegger, M. (1962). Being and Time. (J. Macquarrie & E. Robinson, Trans.). New York: Harper & Row.
– Ihde, D. (1990). Technology and the Lifeworld: From Garden to Earth. Bloomington: Indiana University Press.
– Latour, B. (1993). We Have Never Been Modern. (C. Porter, Trans.). Cambridge: Harvard University Press.

Semoga manfaat barokah selamat dunia sampai akhirat aamiin.

Surabaya,
17 Sya’ban 1447
atau
04 Februari 2026
m.mustain (Modified AI, 2026)