Menjaga Semangat Persatuan. K3 Jatim Kota Malang Konsolidasi

 

Malang, 25 Januari 2026 – Di tengah hening pagi yang dipenuhi aroma masjid dan derap langkah perantau yang rindu tanah kelahiran, sebuah pertemuan berlangsung begitu istimewa di Balai Serbaguna Masjid Sabilillah, Jl. Belimbing, Kota Malang.

Bukan sekadar rapat organisasi, namun lebih dari itu: sebuah reuni emosional, konsolidasi jiwa, dan panggilan moral untuk terus menjaga benang merah persatuan di tengah jembaran zaman.

Pada Minggu (25/1), Kerukunan Keluarga Kalimantan (K3) Provinsi Jawa Timur bertemu dengan K3 Kota Malang dalam pertemuan yang sarat makna. Di ruang yang sederhana namun penuh hikmat, puluhan tokoh masyarakat Kalimantan berkumpul—dari yang berusia senja hingga generasi muda—menyatukan hati dan langkah demi masa depan komunitas mereka di perantauan.

Acara dibuka dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang menenangkan jiwa, dilanjutkan dengan pengajian oleh Ustadz H. Budi, yang menyisipkan pesan mendalam tentang ukhuwah Islamiyah dan wathoniyah: bahwa persaudaraan tak hanya dibangun oleh darah, tapi juga oleh komitmen. “Di sinilah perantau menemukan rumah kedua. Dan K3 adalah keluarga yang menjaganya,” ujarnya.

Suasana pun mengalir dalam balutan hangatnya silaturahmi. Tawa kecil sesaat tampak di antara sesi serius—semacam bahasa tak tertulis dari mereka yang memahami betapa beratnya hidup merantau, tapi juga betapa indahnya ketika masih bisa merasa “pulang” dalam sebuah pertemuan.

H. Syahrani, Ketua K3 Kota Malang, tampil dengan wibawa yang tenang namun penuh semangat. Ia menegaskan, K3 Malang bukan hanya forum nostalgia atau sekadar ajang silaturahmi tahunan. “Kami adalah penjaga amanah,” tegasnya. “Selama lebih dari tiga dekade, kami mengelola Asrama Mahasiswa asal Kalimantan di Malang—atas kepercayaan langsung dari para Gubernur di Kalimantan.”

Asrama itu lebih dari sekadar atap dan kamar. Bagi ratusan mahasiswa dari pedalaman Kalimantan, itu adalah pelabuhan pertama ketika sampai di Jawa. Tempat mereka belajar, berkembang, bahkan menangis rindu—dan tetap merasa ada yang menjaga.

Apresiasi pun mengalir dari Provinsi. H. Makmun Hasan, Ketua Pembina K3 Jawa Timur, menyebut K3 Malang sebagai “mercusuar persatuan”.

“Di tengah arus perubahan yang begitu deras, di mana banyak komunitas mulai renggang, K3 Malang justru menyalakan api yang nyaris padam,” katanya, suaranya bergetar emosional. “Ini bukan sekadar organisasi. Ini adalah warisan. Dan warisan harus dijaga.”

Tak kalah penting, Dr. Asmirin Noor, Ketua Harian K3 Jatim, memaparkan visi besar ke depan: membangun K3 sebagai organisasi modern yang inklusif, berbasis nilai, dan berdampak sosial luas. “Kami kini menghimpun perwakilan dari seluruh Kalimantan—Barat, Tengah, Selatan, Timur, hingga Utara. K3 harus menjadi rumah bersama, bukan milik segelintir orang,” tegasnya.

Ia juga menyampaikan undangan resmi untuk acara Halal Bihalal sekaligus Pelantikan Pengurus K3 Jatim yang akan digelar pada tanggak 11 April 2026 di Islamic Centre Surabaya —sebuah momentum yang dinanti untuk menyatukan seluruh kekuatan K3 di Jawa Timur.

Di penghujung acara, ucapan terima kasih disampaikan kepada K3 Kota Malang: sebagai garda terdepan, sebagai inisiator, dan sebagai inspirasi. “Tanpa Malang, sulit bagi kami membayangkan K3 Jatim bisa sekuat ini,” kata salah satu anggota rombongan provinsi.

Pertemuan ini bukan hanya soal administrasi atau pelaporan. Ia adalah simbol: bahwa jarak ribuan kilometer tak mampu memisahkan rasa satu keluarga. Bahwa di tengah hiruk-pikuk kota besar, masih ada ruang bagi doa, cerita, dan janji untuk saling menjaga.

Dengan tema “Satu Semangat, Satu Hati, Bersama di Perantauan”, konsolidasi ini menjadi babak baru—bukan sekadar konsolidasi struktural, melainkan rekonsiliasi jiwa. K3 tak ingin sekadar eksis. Ia ingin bermakna.

Dan hari itu, di Balai Serbaguna Masjid Sabilillah, makna itu terasa begitu nyata.

Husnu Mufid