
Dr. Ir. Hadi Projoko, SH, MH.
Ketika Surya tidak lagi adil, ketika gelap tidak lagi setitik pun cahaya,
ketika Tuhan tidak lagi mengerti bahasa suku suku Bangsa,
ketika Tuhan tidak lagi mengerti bahasa manusia, dan
ketika rohaniawan menjadi wajah pemusnah,
ketika Tuhan menciptakan Diskriminasi,
ketika Tuhan sudah pilih kasih tidak lagi demokrasi Dan
ketika Tuhan dan para penyambung lidah nya telah kehilangan moralitas maka saat nya bagi manusia untuk menyiapkan diri akan datang nya bahaya kehancuran peradaban, selanjutnya itulah akan pertanda akan datang nya bencana besar dan
Tanda tanda itu wahai saudariku semua sadar lah untuk menyiapkan diri agar tidak tergulung gelombang Angkara murka…. Kita selamat atau kiamat , hidup atau mati…..
Pernahkah engkau terus menunggu di ujung malam yang terasa tak berujung? Tak pernah datang nya kemilau cahaya, dan seperti angin meninggalkan jejak napas mu, dan getaran jantung đź’“ mu berhenti.
Saat kegelapan tak hanya menyelimuti langit, seperti hati yang terus-menerus petang tapi juga merayap ke dalam hati, mulai mengaburkan jiwa’ murni, memusnahkan harapan, kehilangan keindahan senyum semesta….
Setiap detik akan terasa panjang, setiap nafas terasa berat, aliran darah serasa berhenti, setiap akal’ sehat musnah.
Tetapi percayalah, fajar Dan cahaya akan selalu menepati janjinya, tidak pernah ingkar, pasti akan datang walaupun mungkin terlambat.
Perlahan, setitik cahaya pertama akan menyibak tabir hitam, mengusir bayang-bayang kelam yang menakutkan, dan membuka borgol penjara jiwa’ yang akan mengajarkan kita bahwa tidak ada kegelapan yang abadi, cahaya selalu bekerja dengan caranya sendiri, tanpa merasa ada kekuasaan dan ancaman siapapun Yg menghalangi seluruh rantai pemasungan akan musnah, matahari terbit sampai hari ini tidak ada satupun kekuasaan dan kekuatan yg akan bisa menahan,
Ia datang bukan dengan wajah seram , gegap gempita, tidak dengan gemuruh, tidak dengan suasana ramai bahkan sluman slumun Slamet, yg tidak menakutkan melainkan dengan kelembutan, dengan kedamaian yang past datang dengan tentram , seperti sebuah rasa sejati dan menepati kepastian…. setelah penderitaan panjang, setelah gelap yang tanpa ujung, dan kesabaran menunggu malam tanpa lelah.
ingat lah langit akan datang untuk membalas duka lara dan membawa suka cita dengan berbagai warna-warna harapan, pelangi jiwa’ hadir dengan keindahan yang berbagai mosaik kehidupan yang tentram
Begitu pula dengan satu perjalanan kehidupan, Setiap kesabaran, keteguhan yang kita tahan, kerapuhan Yg Terus hidup walaupun setiap air mata yang jatuh yg selama ini kita terus sembunyikan, dan setiap langkah beban berat yang kita ayunkan, semuanya adalah ujian, soal yg tidak mudah bagian dari perjalanan menuju ketentraman, kedamaian, adem ayem tentrem seneng guyub.
Damai dan bahagia itu tidak datang dengan tiba-tiba; tidak bisa diukur dgn emas dan Permata, serta getaran.
Ia adalah hadiah bagi jiwa-jiwa yang tetap bertahan, teguh , dan ulet serta kekeuh meski badai mencoba, walaupun diterjang gempuran ombak meruntuhkan jiwa’ rapuhnya, Dan ketika saatnya tiba, kita akan merasakannya—seperti angin sejuk, melumat halus jiwa’ setelah terik panjang akan datang cinta seperti senyum tulus setelah sekian lama menangis, bagian dari cerita panjang nya malam tetapi Percayalah pasti ada ujungnya.
Di sanalah, di puncak keteguhan , ujian kesabaran, keperkasaan walaupun terbanting berulang kali tetapi kita akan duduk tenang, tentram damai, memahami bahwa segala dinamika yang hadir sebagai bentuk perjuangan itu, demikian animasi hidup ( ANIMISME ),
sedang
DENGAN daya dan kekuatan sebagai Dinamika jiwa teguh ( DINAMISME ) semua halangan Dan hambatan segera akan sirna, itulah kerja semesta dan hal ini bukanlah hukuman, melainkan cara alam semesta membawa kita pulang ke dalam ke- damaian yang menuju titik nglaras (HARMONI) YG sesungguhnya… Para pendahulu kita, leluhur tanah Nusantara Bumi Pertiwi mengajarkan religiusitas sebagai satu panduan penghayatan nilai kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa, satu tuntutan believe yg hidup di dalam jiwa bagi yg merasa sebagai entitas *tumpah darah* dari tanah air…. habitat.
Esa bukan lah satu ,
Esa bukan lah Tunggal,
Esa bukan lah Eka,
Esa bukan lah sekedar kekuatan nilai luhur
tetapi *ESA ADALAH KESEMPURNAAN UNIVERS*.. Langgeng.
Sejahtera lah yg mau’ berfikir waras, tetap terbangun merdeka, jangan terus-terusan tidur, bangkitkan intuitif mu Nalar kritis MU, jangan terpasung dgn dokma, doktrin dan kultus, hidup lah opo anane , e, hidup apa adanya, sak madyo,
Terus Trengginas.
Melawan gelapnya malam yg panjang.
Hong Mandera Ulun Basuki langgeng.
Freedom of religion
SEMBAH NUWUN
~~HP~~
Dr Ir HADI PRAJAKA, SH MH
Anti virus KESADARAN bekerja secara totalitas
