Gelombang Perang: Waspada Proxy War di Indonesia

By. Diar Mandala

Banten – Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat semakin meningkat, memicu kekhawatiran akan stabilitas global. Diar Mandala, penulis dan aktivis sosial, berbagi pandangannya tentang situasi ini.

Iran telah menegaskan siap melakukan serangan balasan total jika kembali diserang oleh Amerika Serikat dan sekutunya. Perang kali ini akan jauh lebih ganas dibandingkan dengan perang 12 hari antara Iran dengan Israel pada Juni 2025 lalu.

Ketegangan antara Iran dan AS meningkat setelah kapal induk USS Abraham Lincoln bergerak ke arah barat dari Asia menuju Timur Tengah. Selain itu, jet tempur F-15 A Strike Eagle dan sistem rudal HIMARS juga telah dikerahkan di kawasan tersebut.

Diar Mandala menilai bahwa eskalasi ini sebenarnya dipicu oleh perebutan pengaruh di Timur Tengah dan persaingan geopolitik antara AS dan Iran. “Perang ini bukan hanya tentang Iran dan AS, tapi tentang perebutan kekuasaan dan pengaruh di kawasan yang sangat strategis ini,” katanya.

Menurutnya, perang dunia ini diawali oleh proxy war, di mana dua kekuatan besar menggunakan negara lain sebagai perantara untuk berperang. Contohnya adalah konflik di Yaman, di mana Iran mendukung kelompok Houthi, sementara Arab Saudi dan AS mendukung pemerintah Yaman. “Ini adalah contoh klasik proxy war, di mana dua kekuatan besar berperang melalui negara lain,” tambahnya.

Contoh lainnya adalah konflik di Suriah, di mana Iran dan AS mendukung pihak yang berbeda dalam perang saudara. Iran mendukung pemerintah Suriah, sementara AS mendukung oposisi.

“Kita harus waspada terhadap upaya-upaya yang dapat memecah belah persatuan bangsa. Ada kelompok-kelompok yang dapat digunakan sebagai alat oleh kepentingan asing untuk menciptakan ketidakstabilan dan kekacauan di negara kita. Oleh karena itu, kita harus meningkatkan kesadaran dan kewaspadaan, serta menjaga persatuan dan kesabaran dalam menghadapi tantangan ini,” kata Diar Mandala.

Dia menekankan pentingnya menghargai perbedaan dan menjaga persatuan bangsa. “Kita harus saling menghargai dan menghormati perbedaan, serta tidak membiarkan diri kita diadu domba oleh kepentingan asing. Kita adalah bangsa yang besar dan kuat, dan kita harus menjaga kedaulatan dan keutuhan NKRI dengan persatuan dan kesabaran,” tambahnya.

Dengan demikian, kita harus waspada dan tetap tenang dalam menghadapi situasi ini, serta mendukung pemerintah dalam menjaga keselamatan dan kedaulatan negara. Persatuan dan kesabaran adalah kunci untuk menghadapi tantangan ini.

#sdiarm 🇮🇩🇮🇩