
Pati-menaramadinah.com-Awalnya, mereka adalah dwitunggal yang tak terpisahkan. Di warung-warung kopi dan sudut-sudut jalan, Om Botok dan Husein membakar semangat warga. Mereka berjanji akan berdiri di garda terdepan untuk menuntut keadilan. Rakyat percaya, selama ada Om Botok yang vokal dan Husein yang mendampingi, suara mereka tidak akan senyap.
Namun, kekuasaan memiliki cara yang licin untuk menghancurkan perlawanan. Sadewo, dengan segala pundi uang dan jejaring kuasanya, mulai menebar jaring. Di tengah jalan, goyangan itu membuahkan hasil. Husein, sang kawan seperjuangan, memilih untuk bertekuk lutut. Ia menyerah pada kenyamanan yang ditawarkan Sadewo, meninggalkan Om Botok yang masih berdiri tegak di tengah badai.
Di saat Husein mungkin sedang menikmati hasil pengkhianatannya dan Om Botok masih menatap jeruji besi, sebuah tim khusus dari Jakarta bergerak dalam senyap. Tidak ada yang menyangka bahwa benteng kokoh yang dibangun Sadewo memiliki retakan besar di dalamnya. Dalam sebuah Operasi Tangkap Tangan (OTT) yang dramatis, sang bupati yang dikenal tak tersentuh itu tertunduk lesu saat digiring masuk ke mobil penyidik KPK.
Sadewo sang penguasa yang dulu memandang remeh rakyat, kini harus mengenakan rompi oranye. Kekuatan uang dan “beking” kokoh yang selama ini ia banggakan rontok seketika di hadapan bukti-bukti korupsi yang tak terbantahkan.
Husein tetap menjadi pengkhianat di mata sejarah. Meski ia memilih sisi yang “menang” di tengah jalan, kini ia harus menanggung malu karena berdiri di pihak yang salah dan korup.
Meski tubuhnya masih terkurung, integritas Om Botok justru bersinar. Penjara tidak lagi menjadi simbol kekalahan, melainkan bukti bahwa ia adalah satu-satunya yang tidak bisa dibeli. SALUT !
MM
