Kedalam Bhatin

By Ketum PP HPK

Bagaimana mengukur kedala

man jiwa’ manusia, sepanjang sejarah realitas peradaban secara spiritual tidak pernah berhenti masyarakat memikirkan untuk menyelami bhatin sebagai dinamika religi, karena semua rohaniawan semestinya mampu mengukur kedalaman jiwa’ murni manusia, dan menerangkan secara sosiologis dan filosofis agar terhubung dengan iman dan realitas kehidupan semesta.

Jiwa’ dan bhatin manusia adalah lautan, bahkan semesta yang sampai hari ini belum terungkap maka janganlah engkau menilai luas serta kedalamannya, ibarat lautan kita hanya melihat pantainya saja. Di permukaan, laut tampak tenang atau bergelora, gemuruh dimalam hari dan berkilau oleh cahaya atau muram oleh mendung. Namun apa yang terlihat bukanlah keseluruhan kisah.

Pantai hanyalah batas pertama antara yang tampak dan yang tersembunyi, antara kesan dan kenyataan.

Langit gambaran semesta, kita hidup di bentangan alam, Kita diatas langit seperti naik pesawat terbang angkasa, lupa bahwa kita bisa terbang dg Bumi Yg melayang, masihkah dipertanyakan bahwasanya Bumi ini terbang melayang layang tanpa bahan bakar, dan langit bukan kubah rumah ibadah, tetapi ruang yg tanpa batas, bila Nalar lepas maka akan muncul gambaran umum tentang manusia halusinasi dan semakin tersesat dari kewarasan kritis.

Di balik ombak yang datang dan pergi, dibalik Bumi dilangit Yg Terus berputar putar,
ada arus yang bekerja tanpa suara,
Ada angin gravitasi lembut sebagai tumpuan
Ada palung yang terus menyimpan gelap dan belum terungkap,
Ada terumbu karang yang menjaga kehidupan. ….

Begitu pula kedalam bhatin manusia, merupakan panduan dinamika dan animasi kehidupan.

Ada Senyum bisa menjadi gelombang yang menenangkan, dan menentramkan, tetapi gelombang juga menghadirkan kehancuran.

ada gemuruh amarah bisa menyerupai badai, terbawa oleh pusaran angin, tetapi keduanya tidak selalu mampu mengungkap sebab yang terdalam , yg bisa mengungkap adalah jiwa’ murni, kadang Banyak luka tersembunyi , terus lah belajar di ruang sunyi, dan banyak harapan masih menunggu tetapi memilih diam agar tetap bernapas,
Begitulah dinamika dan animasi hidup ( ANIMIS-ME dan DINAMIS – ME)

Menilai manusia dari tampaknya adalah suatu kekeliruan yang lahir dari ketergesaan, mudah menyimpulkan, Kita lupa bahwa kedalaman menuntut waktu, menuntut kesabaran, menuntut NALAR dan keberanian untuk menyelam, agar sampai diruang sunyi dan damai, tujuan mencari kedalaman bukan mencari keadilan apalagi untuk mencari kedamaian tetapi Para pendahulu kita mengajarkan untuk mendapatkan keselarasan, harmoni jiwa’, Tidak semua orang siap basah oleh kebenaran orang lain. Tidak semua telinga sanggup mendengar cerita yang berlapis, dan tidak setiap orang mampu menemukan jiwa’ sejati nya yang murni, dan tidak semua orang berpikir bahwa tujuan akhir Yg sebenarnya adalah titik kesempurnaan untuk menemukan kewaskitaan dengan berbudi bawa laksana

Karena itu, kebijaksanaan bermula dari kerendahan hati. Mengakui bahwa kita belum tahu. Memberi ruang bagi sunyi untuk menemukan…. Mendekat dengan empati, bukan untuk memvonis.

Saat kita belajar menyelam, bukan sekadar memandang, dan mengatur napas tetapi merasakan , barulah kita memahami bahwa setiap manusia menyimpan samudra luas yang layak dihormati, meski semua nya tidak selalu bisa dijelaskan.

Terus menerus menerawang jiwa’ agar menemukan jiwa’ sejati.

Freedom of religion

Salam hormat NALAR INTUITIF.

~`HP`~
HADI PRAJOKO

Semeru – Tengger Ngadas puncak