
BLITAR-Dalam Rangka Memperingati Harlah Nahdlatul Ulama (NU) ke-103, NU Blitar Raya akan menggelar Istighotsah Kubro pada Sabtu, 24 Januari 2026, berlokasi di Stadion Soeprijadi Kota Blitar.
Acara besar ini diperkirakan akan dihadiri oleh sekitar 32.000 jamaah dari berbagai elemen masyarakat NU di Blitar Raya. Kegiatan ini lebih dari sekadar perayaan seremonial; istighotsah merupakan sebuah ikhtiar spiritual dan sosial kolektif yang memiliki makna mendalam bagi umat dan bangsa Indonesia di tengah dinamika dan tantangan global yang sedang dihadapi.
Istighotsah, secara istilah, adalah doa bersama yang dipanjatkan dengan harapan memperoleh pertolongan dan rahmat dari Allah SWT. Dalam tradisi Islam Nusantara, khususnya di kalangan Nahdlatul Ulama, istighotsah memiliki fungsi penting sebagai sarana memperkuat ukhuwah atau tali persaudaraan antarjamaah, mengokohkan keimanan, sekaligus menjadi momentum refleksi spiritual bersama menghadapi berbagai ujian hidup.
Terlebih, Istighotsah Kubro yang mengumpulkan puluhan ribu jamaah ini menghadirkan kekuatan doa berjamaah yang diyakini mampu membuka pintu langit untuk mendatangkan keberkahan dan perlindungan bagi umat dan bangsa.
Dalam konteks negara Indonesia yang tengah mengalami berbagai tantangan, seperti dinamika politik yang kompleks, ketegangan sosial, perubahan ekonomi, hingga berbagai isu global yang berimbas lokal, Istighotsah mengalami fungsi yang strategis.
Doa bersama ini menjadi ungkapan kehambaan sekaligus harapan kolektif untuk memperoleh petunjuk agar bangsa tetap kokoh, bersatu, dan mampu menjalankan nilai-nilai moderasi dan toleransi yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia.
Tak hanya sebagai manifestasi spiritual, Istighotsah Kubro ini juga berperan sebagai wahana penguatan solidaritas sosial dan ketahanan komunitas Nahdlatul Ulama di Blitar Raya.
Dengan hadirnya sekitar 32 ribu jamaah di satu tempat, momentum ini melambangkan sinergi dan kebersamaan antara PCNU Kota dan Kabupaten Blitar dalam membangun soliditas jam’iyah (organisasi keagamaan) yang menjadi pilar dalam menjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).
Ikhtiar ini menunjukkan bahwa kekuatan NU tidak hanya terletak pada jumlah anggotanya, tetapi juga kesatuan visi dan misi spiritual serta sosial yang bersinergi dalam kemajuan umat dan bangsa.
Menurut Ketua OC, H. Hartono, kegiatan ini bertujuan untuk menggapai kekuatan doa kolektif, agar NU tetap istiqamah dalam menjaga nilai-nilai Aswaja, yang selama ini menjadi pegangan dalam menyikapi perbedaan dan keragaman di masyarakat.
Selain itu, Istighotsah ini menjadi momen untuk memantapkan peran NU sebagai pilar moderasi Islam dan sumber kekuatan sosial yang konstruktif dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Rangkaian kegiatan yang akan berlangsung sejak pagi hari meliputi khataman Al-Quran, doa sembilan kiai, hingga sambutan berbagai pimpinan PCNU dan PWNU. Panitia telah menyiapkan skema teknis matang untuk mengantisipasi antusiasme pendukung yang diperkirakan melimpah, termasuk ketentuan busana serba putih guna menjaga kesucian suasana dan ketertiban selama acara berlangsung.
Manfaat lain dari Istighotsah Kubro yang dapat diambil adalah sebagai media pembinaan spiritual yang memperkuat mental dan emosional jamaah. Di tengah permasalahan bangsa yang sering kali menghadirkan kelelahan mental dan gejolak sosial, kegiatan doa bersama ini dapat menumbuhkan ketenangan jiwa serta rasa persatuan yang harmonis antarwarga.
Ketenangan spiritual ini menjadi bekal penting dalam menghadapi pergumulan zaman yang penuh tantangan dan perubahan cepat.Dari sudut pandang sosial-politik, Istighotsah Kubro menjadi simbol bahwa agama dan praktik spiritual bukanlah hal yang terpisah dari pembangunan bangsa.
Seperti halnya NU yang selama ini dikenal sebagai organisasi Islam yang moderat dan mendukung keutuhan NKRI, acara seperti ini memberikan kekuatan moral dan spiritual yang dapat dijadikan kekuatan bersama mengisi kemerdekaan dan membangun Indonesia yang adil dan makmur.
Di tengah kondisi global yang penuh ketidakpastian seperti pemanasan global, pandemi, hingga konflik geopolitik, acara ini menjadi pengingat bahwa bangsa Indonesia perlu menjaga ukhuwah dan berpegang pada spiritualitas sebagai pondasi utama dalam bertahan dan bangkit.
Istighotsah Kubro ini secara simbolik mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk bersatu, berdoa, dan berikhtiar bersama demi kemaslahatan bersama.
Doa untuk Kesuksesan dan Keberkahan
Semoga Istighotsah Kubro NU Blitar Raya tahun ini berlangsung lancar, hikmat, dan membawa keberkahan bagi seluruh jamaah serta masyarakat luas. Semoga dengan kekuatan doa bersama, NU semakin kokoh dalam menjalankan peran strategisnya sebagai penjaga tradisi Ahlussunnah wal Jamaah, pendorong moderasi beragama, serta penguat persatuan bangsa.
Semoga Allah SWT meridhoi seluruh usaha dan niat baik yang terselenggara melalui momentum peringatan Harlah NU ke-103 ini, menjadikan Indonesia lebih damai, sejahtera, dan berkeadaban.*Imam Kusnin Ahmad*
