
Oleh : Imam Kusnin Ahmad SH. Wartawan Senior Jawa Timur.
SEBAGAI ORGANISASI terbesar di Indonesia dengan akar yang dalam di masyarakat, Nahdlatul Ulama (NU) selalu menjadi pusat perhatian dalam setiap masa kepemimpinannya. Ketika KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) menjabat sebagai Ketua Umum PBNU, ia membawa gaya kepemimpinan yang berbeda dengan mengedepankan satu prinsip utama: KOHERENSI. Bukan hanya sekadar kata yang diucapkan, prinsip ini menjadi landasan bagi setiap langkah yang diambil, dari penyampaian pesan hingga pelaksanaan program-program besar yang menjangkau jutaan keluarga di seluruh Indonesia.
Bagaimana prinsip koherensi ini mampu mengubah wajah NU dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat, terutama melalui program GKMNU dan transformasi digital Digdaya NU?
*Kepemimpinan yang Terasa dalam Setiap Ucapan*
Gaya komunikasi Gus Yahya memiliki daya tarik tersendiri. Ia mampu menyampaikan pesan dengan cara yang cerdas, tegas, dan lugas, namun tidak pernah luput dari kehangatan yang khas bagi kalangan Nahdliyin. Humor yang renyah yang ia sajikan bukan hanya untuk mencairkan suasana, melainkan juga sebagai alat untuk mendekatkan jarak antara pemimpin dan masyarakat.
Saat berbicara di depan ribuan jamaah di acara besar NU atau bahkan di forum internasional seperti Majelis Tinggi Kerjasama Islam (OIC), ia selalu mampu menyederhanakan konsep-konsep kompleks menjadi bahasa yang mudah dipahami, tanpa mengurangi kedalaman maknanya. Ini bukan retorika kosong yang hanya sekadar menggugah emosi, melainkan seni berbicara yang dibangun atas dasar kepercayaan dan integritas yang teruji waktu.
Sebagai seorang Kiai yang juga memiliki pengalaman di dunia politik dan pemerintahan—seperti pernah menjadi juru bicara Presiden KH.Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan anggota Dewan Pertimbangan Presiden—Gus Yahya mampu menyampaikan gagasan dengan cara yang mudah dipahami oleh berbagai lapisan masyarakat. Ia tidak hanya berbicara kepada para ulama atau pengurus NU, tetapi juga mampu menjembatani pemahaman kepada khalayak luas, termasuk kaum muda, profesional, serta tokoh dari berbagai agama dan latar belakang budaya.
Hal ini tercermin dalam perannya sebagai pendiri gerakan Humanitarian Islam yang bertujuan untuk mengembalikan prinsip rahmah (cinta dan kasih sayang universal) sebagai pesan utama ajaran Islam, serta menjadikan NU sebagai teladan bagi peradaban dunia. Dalam salah satu ceramahnya, ia pernah menyatakan bahwa “kepemimpinan yang koheren adalah ketika apa yang kita katakan, apa yang kita pikirkan, dan apa yang kita lakukan adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan—sehingga masyarakat tidak perlu meragukan niat kita.”
*Visi Besar yang Membumi: “Merawat Jagat, Membangun Peradaban”*
Slogan “Merawat Jagat, Membangun Peradaban” bukan sekadar frasa kosong bagi Gus Yahya. Ini adalah arah perjuangan yang ia tetapkan bagi NU, sebuah cita-cita yang melampaui batasan organisasi atau bahkan bangsa. Ia menyampaikan visi ini dengan keyakinan yang kuat, sehingga terdengar bukan hanya sebagai kemungkinan, tetapi juga sebagai sesuatu yang tak terelakkan untuk dilakukan.
Bagi Gus Yahya, NU sebagai organisasi terbesar di Indonesia dengan lebih dari 90 juta anggota tidak dapat hanya fokus pada urusan internal, tetapi harus mengambil peran aktif dalam membangun masa depan bangsa dan berkontribusi pada kemajuan peradaban dunia.
Untuk mewujudkan visi tersebut, Gus Yahya menekankan pentingnya koherensi yang terbangun dari tiga bentuk disiplin: disiplin norma, disiplin agenda, dan disiplin kepemimpinan. Disiplin norma mencakup baik aturan tertulis berupa peraturan perkumpulan (seperti 19 peraturan yang telah disusun setelah Muktamar NU ke-34 di Lampung) maupun norma tak tertulis berupa adab dan akhlak yang menjadi ciri khas kalangan santri.
Ia selalu menegaskan bahwa tanpa landasan norma yang kuat, setiap program akan mudah menyimpang dari tujuan utama. Disiplin agenda berarti menjalankan program-program yang telah ditetapkan sesuai mekanisme yang ada, tanpa membuat program sendiri yang tidak selaras dengan tujuan organisasi—hal ini penting untuk memastikan bahwa seluruh kekuatan NU dapat terkonsentrasi pada hal-hal yang paling penting.
Sementara itu, disiplin kepemimpinan menuntut kejelasan mengenai siapa yang memimpin dan siapa yang dipimpin, serta kesadaran akan batasan wewenang yang ada, sehingga tidak terjadi tumpang tindih atau konflik yang tidak perlu.
Pengakuan Gus Yahya terhadap kelemahan yang inheren pada setiap manusia juga menjadi bagian penting dari visi kepemimpinannya. Ia menyadari bahwa kepemimpinan sejati tidak lahir dari kesempurnaan, tetapi dari kesungguhan untuk tetap berjalan di jalan yang benar meskipun terdapat tantangan dan kekurangan.
Dalam sebuah pidato pada Kongres Ulama Nasional, ia pernah berkata, “Kita tidak perlu menjadi pemimpin yang sempurna, tetapi kita harus menjadi pemimpin yang konsisten dalam berjuang untuk kebaikan—karena konsistensi itulah yang akan membangun kepercayaan dan membawa perubahan nyata.” Hal ini justru menguatkan pesannya tentang integritas dan konsistensi antara nilai dan tindakan, antara cita-cita dan karya yang dilakukan.
*Program Unggulan yang Wujudkan Visi: GKMNU dan Transformasi Digital*
Di bawah kepemimpinan Gus Yahya, NU tidak hanya fokus pada pemeliharaan tradisi, tetapi juga melakukan langkah-langkah transformatif yang adaptif dengan perkembangan zaman. Pada tahun 2025, ia menetapkan dua program prioritas yang menjadi tonggak dalam mewujudkan visi besar NU: Gerakan Keluarga Maslahat Nahdlatul Ulama (GKMNU) dan transformasi digital melalui platform Digdaya NU. Kedua program ini bukan hanya sebagai wujud dari koherensi antara kata dan tindakan, tetapi juga sebagai bukti bahwa kepemimpinan yang berlandaskan nilai-nilai luhur dapat memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dari Sabang hingga Merauke.
*Gerakan Keluarga Maslahat Nahdlatul Ulama (GKMNU)*
GKMNU diluncurkan sebagai gerakan pengabdian NU untuk masyarakat (lapis bawah) dengan fokus pada keluarga sebagai unit dasar masyarakat. Konsep ini muncul dari pemahaman Gus Yahya bahwa perubahan besar hanya dapat terjadi jika dimulai dari tingkat keluarga—karena keluarga adalah tempat di mana nilai-nilai dibentuk, karakter dikembangkan, dan tanggung jawab dipelajari.
Tahap awal pada 2023 menjangkau 20.277 desa di 5 provinsi Jawa (Jawa Timur, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, Banten) dengan total 1.013.850 peserta, dan akan diperluas ke Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Maluku, dan Papua pada tahap berikutnya, dengan target menjangkau 50 juta keluarga pada tahun 2027.
Dampak program ini sudah terasa nyata di berbagai bidang. Di bidang kesehatan, GKMNU menangani masalah seperti stunting dengan memberikan edukasi kesehatan gizi kepada keluarga, serta bekerja sama dengan dinas kesehatan daerah untuk melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Di beberapa desa di Kabupaten Magetan, Jawa Timur, aktivitas penyuluhan tentang pola makan sehat dan pemberian makanan tambahan bagi anak-anak telah membantu menurunkan angka kasus stunting pada anak usia dini hingga 15% dalam kurun waktu satu tahun. Selain itu, program juga menangani masalah kesehatan reproduksi dengan memberikan penyuluhan yang sesuai dengan nilai-nilai lokal, sehingga meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya kesehatan ibu dan anak.
Di bidang sosial, melalui bimbingan perkawinan dan Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS), GKMNU membantu meningkatkan pemahaman tentang tanggung jawab dalam membangun keluarga sakinah, serta menekan angka perkawinan anak. Di Kabupaten Lebak, Banten, misalnya, BRUS telah menjadi sarana bagi ratusan remaja untuk belajar tentang pendidikan keluarga, komunikasi yang sehat, serta pentingnya mengejar pendidikan sebelum menikah. Program ini telah berdampak pada penurunan kasus perkawinan anak sebesar 8% sejak program berjalan, dan banyak remaja yang sebelumnya berencana menikah muda kini memilih untuk melanjutkan studi atau mengembangkan keterampilan kerja.
Selain itu, GKMNU juga menggerakkan kegiatan gotong royong antar keluarga di setiap desa, memperkuat tali silaturahmi dan rasa kebersamaan yang menjadi ciri khas masyarakat Indonesia.
Di bidang ekonomi, program ini fokus pada pemberdayaan ekonomi keluarga, seperti pelatihan keterampilan usaha kecil bagi ibu rumah tangga atau pengembangan UMKM lokal dengan pendampingan dari kader NU yang telah mendapatkan pelatihan khusus. Di Desa Sumberarum, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, kelompok ibu rumah tangga yang mendapatkan pelatihan pembuatan kerajinan tangan dari daun pandan kini mampu menjual produknya hingga ke pasar kota dan bahkan melalui platform daring, meningkatkan pendapatan keluarga rata-rata sebesar Rp500.000 per bulan.
Di daerah pesisir Pantai Selatan Jawa, program ini juga membantu nelayan dalam mengembangkan sistem pemasaran yang lebih baik, sehingga mereka tidak lagi terpaksa menjual hasil tangkapan kepada tengkulak dengan harga rendah.
*Transformasi Digital Melalui Digdaya NU*
Digdaya NU adalah platform digital yang menghubungkan seluruh ekosistem data dan layanan NU, bertujuan untuk mempermudah akses informasi dan meningkatkan efisiensi pelayanan. Konsep pembangunan platform ini berasal dari pemikiran Gus Yahya bahwa di era digital saat ini, organisasi besar seperti NU harus mampu beradaptasi agar tetap relevan dan dapat memberikan layanan yang lebih baik kepada anggotanya dan masyarakat luas.
Platform ini mencakup portal pendataan pesantren, kader, masjid, aset wakaf, serta sistem manajemen internal seperti dashboard satu data NU dan super app jamaah yang dapat diakses melalui ponsel pintar.
Dampak transformasi digital ini sangat signifikan, terutama di daerah-daerah yang sebelumnya memiliki keterbatasan akses informasi. Di Provinsi Banten, aplikasi digital desa Digdaya telah membantu pemerintah desa dalam mengelola data penduduk, sarana prasarana, bantuan sosial, dan potensi desa secara terintegrasi.
Sebelum adanya aplikasi ini, proses pendataan seringkali dilakukan secara manual yang rentan terhadap kesalahan dan kehilangan data. Di Kecamatan Cibadak, Kabupaten Sukabumi, proses pendaftaran bantuan sosial yang sebelumnya memakan waktu hingga seminggu kini dapat diselesaikan dalam beberapa jam saja, mengurangi kemungkinan kesalahan data dan praktik tidak transparan. Masyarakat juga dapat memantau progres pembagian bantuan secara daring, sehingga meningkatkan kepercayaan terhadap pemerintah desa dan pengurus NU.
Di sisi pemerintahan desa, dengan digitalisasi, proses perencanaan, pelaksanaan, dan pelaporan pembangunan desa menjadi lebih transparan dan akuntabel. Masyarakat dapat dengan mudah mengakses informasi tentang anggaran desa, program pembangunan yang akan dilakukan, serta hasil evaluasi program yang telah selesai melalui ponsel pintar mereka, bahkan ketika kepala desa tidak berada di kantor.
Di Kabupaten Pandeglang, Banten, aplikasi ini juga membantu mengangkat potensi lokal seperti produk UMKM keripik pisang dari Desa Cimanggu atau destinasi wisata alam Gunung Halimun ke tingkat provinsi dan nasional. Melalui fitur promosi produk lokal di aplikasi Digdaya, penjualan produk UMKM tersebut meningkat hingga 30% dalam setahun, dan kunjungan wisatawan ke desa-desa tersebut juga mengalami peningkatan yang signifikan.
Bagi jamaah NU sendiri, digitalisasi data kader dan pesantren memudahkan koordinasi kegiatan dan memberikan layanan yang lebih tepat sasaran. Kini, pengurus NU dari tingkat pusat hingga desa dapat dengan mudah berkomunikasi dan berbagi informasi tentang kegiatan yang akan dilakukan, seperti pengajian besar, pelatihan kader, atau program bantuan sosial. Selain itu, rencana pengembangan chatbot AI untuk menjawab pertanyaan seputar agama dan layanan NU, serta produk digital BUM NU seperti e-wallet dan platform penjualan UMKM, diharapkan dapat meningkatkan akses masyarakat terhadap layanan keuangan dan ekonomi digital, terutama bagi mereka yang tinggal di daerah terpencil yang belum terjangkau oleh layanan perbankan konvensional.
Pada waktu Pak Joko Widodo masih jadi Presiden bahkan menyatakan bahwa digitalisasi NU melalui Digdaya dapat menjadi pintu untuk mengonsolidasikan kekuatan NU baik di dalam maupun luar negeri, sementara Gus Yahya melihatnya sebagai langkah strategis agar NU tetap relevan di era digital dan dapat terus memberikan kontribusi bagi kemajuan bangsa.
*Inovasi dan Motivasi sebagai Landasan Perubahan*
Semua upaya yang dilakukan Gus Yahya bukan hanya bertujuan untuk mengubah wajah NU, tetapi juga untuk menginspirasi seluruh masyarakat Indonesia untuk bersama-sama membangun peradaban yang lebih baik. Ia berkomitmen untuk melanjutkan dan menyempurnakan tiga program utama kepengurusan terdahulu, yaitu peningkatan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi, menunjukkan bahwa kepemimpinannya tidak hanya berfokus pada inovasi baru, tetapi juga pada kelangsungan dan penyempurnaan upaya-upaya yang telah dilakukan sebelumnya. Di bidang pendidikan, misalnya, ia mendorong pengembangan kurikulum pesantren yang lebih adaptif dengan perkembangan zaman, sekaligus tetap mempertahankan nilai-nilai tradisional yang menjadi kekuatan utama NU.
Motivasi di balik semua langkah transformatif ini adalah keinginan untuk menjadikan NU sebagai organisasi yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa dan peradaban dunia. Gus Yahya ingin menunjukkan bahwa Islam yang rahmatan lil alamin bukan hanya sebuah konsep teoretis, tetapi juga dapat diwujudkan melalui tindakan nyata yang bermanfaat bagi masyarakat luas, tanpa memandang agama, suku, atau latar belakang sosial ekonomi.
Ia mengajak setiap anggota NU dan seluruh masyarakat untuk berperan aktif dalam mewujudkan visi tersebut, bukan karena paksaan, tetapi karena keteladanan yang utuh dan keyakinan yang kuat akan nilai-nilai yang dianut. “Kita tidak dapat menunggu perubahan datang dengan sendirinya,” katanya dalam salah satu pidatonya.
“Kita harus menjadi agen perubahan yang konsisten dan koheren dalam setiap langkah yang kita lakukan, karena hanya dengan begitu kita dapat membangun masa depan yang lebih baik bagi anak cucu kita.”*Wallahu A’lam Bisawabi*
