بسم الله *Anak yang Dikuatirkan Orang Tua*

 

Prof Mahmud Mustain,
Guru Besar Teknik Kelautan ITS

Ketergantungan karakter setiap anak itu sangat besar sekali pada kedua orang tuanya. Dimaksudkan tergantung pada pendidikan dan lingkungan orang tuanya. Hal ini berdasarkan hadits riwayat Ahmad, yakni:

كُلُّ مَوْلُودٍ يُولَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ حَتَّى يُعَبِّرَ عَنْهُ لِسَانُهُ فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ

Artinya: “Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah (suci), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Ahmad)

Hadits ini menjelaskan bahwa anak-anak dilahirkan dalam keadaan suci dan fitrah, namun pendidikan dan lingkungan orang tua yang membentuk kepribadian dan agamanya. Ini artinya pengaruh kedua orang tua sangat berperan.

Ada dua kekuatiran yang digundahkan oleh kedua orang tuanya ketika menjadi dewasa, yakni anak nenjadi fitnah dan bahkan anak menjadi musuh. Kedua hal ini bukan tidak mungkin apabila tidak benar dalam membesarkan anak.

1. Anak menjadi Fitnah
Ada dalil yang memperingatkan bahwa anak bisa menjadi fitnah bagi orang tuanya. Dalil tersebut adalah QS Al-Taghabun: 15, yakni:

إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَاللَّهُ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ

Artinya: “Sesungguhnya hartamu dan anak-anakmu adalah cobaan (bagi kamu), dan di sisi Allah ada pahala yang besar.”

Ayat ini menjelaskan bahwa harta dan anak-anak adalah fitnah atau cobaan bagi kita, karena mereka dapat membuat kita lupa akan Allah SWT dan akhirat. Oleh karena itu, kita harus waspada terhadap cobaan ini dan memprioritaskan hubungan kita dengan Allah.

Dalam tafsir Ibnu Katsir, ayat ini berarti bahwa harta dan anak-anak dapat menjadi cobaan bagi kita jika kita terlalu mencintai mereka dan melupakan Allah. Oleh karena itu, kita harus menjaga keseimbangan antara mencintai keluarga dan mencintai Allah SWT (Meta AI, 2026).

Tidak asing lagi di telinga kita bahwa ada anak yang menyusahkan orang tua, misalkan anak yang berbuat ma’siat mencuri, tentu orang tua ikut susah dan menahan malu. Anak terlibat perkelaian tawuran dll, tentu hal-hal seperti ini menjadi perbincangan orang dan bapak-ibu sungguh menanggung malu. Perihal seperti ini kegolong anak yang menjadi fitnah orang tua.

2. Anak menjadi Musuh
Ada dalil yang memperingatkan keras terhadap kemungkinan anak bisa menjadi musuh kedua orang tua, yaitu Al-Qur’an surat Al-Taghabun: 14;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ وَأَوْلَادِكُمْ عَدُوًّا لَكُمْ فَاحْذَرُوهُمْ

Artinya: “Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka waspadalah terhadap mereka.”

Ayat ini menjelaskan bahwa ada beberapa istri dan anak yang dapat menjadi musuh bagi kita, yaitu mereka yang menghalangi kita dari jalan Allah dan membuat kita lupa akan akhirat. Oleh karena itu, kita harus waspada terhadap mereka dan tidak membiarkan mereka menghalangi kita dari jalan yang benar.

Dalam tafsir Ibnu Katsir, ayat ini berarti bahwa ada beberapa istri dan anak yang dapat menjadi musuh bagi kita jika mereka membuat kita lupa akan Allah dan akhirat. Oleh karena itu, kita harus memprioritaskan hubungan kita dengan Allah dan tidak membiarkan hubungan kita dengan keluarga menghalangi kita dari jalan yang benar (Meta AI, 2026).

Pernah kita dengar bahwa kasus seorang anak tega menuntut orang tua ke pengadilan. Bahkan ada anak yang tega membunuh orang tuanya, masyaAllah na’udzu billah. Bukan tidak mungkin terjadi, setingkat Nabi Nuh AS punya anak Kan’an yang notabenenya menjadi musuh sebab ikut kelompok yang memerangi Nabi Nuh AS.

Alhasil, mari kita menambah kehati-hatian kita dalam mendidik anak, cucu, keponakan, atau lainnya. Sungguh mantapkan ilmu agama lebih dulu sebelum mengenal ilmu umum. Utamakan pendidikan rumah sampai mengerti dan mengamalkan ibadah mahdloh utamanya sholat dan baca Al-Qur’an. Sekolahkan di pendidikan yang berbasis agama, pondok pesantren, MI, MTs, MA baru ke Pendidikan tinggi. Sungguh akan menyesal apabila kita tidak melakukan ini. Semoga bisa melakukan aamiin.

Semoga pinaringan manfaat barokah selamat aamiin.

Surabaya,
15 Rojab 1447
atau
05 Januari 2026
m.mustain