
By. Diar Mandala
Banten, menaramadinah.com
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam, yang telah menurunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi umat manusia. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad, yang telah membawa risalah Islam kepada kita semua.
Dalam Islam, kita diajarkan untuk selalu berpegang pada kebenaran dan menjauhi kebatilan. Namun, dalam beberapa kasus, kita sering menemukan klaim-klaim yang tidak akurat dan upaya peningkatan kasta yang tidak sejalan dengan ajaran Islam.
Klaim bahwa Mbah Hasyim Asyari memiliki guru dari kalangan Habib Ba’alwi tidak memiliki bukti kuat dan dapat dianggap sebagai upaya untuk meningkatkan status dan legitimasi Ba’alwi. Beberapa sumber menyebutkan bahwa tidak ada catatan primer yang membuktikan Mbah Hasyim Asyari belajar kepada Habib Ba’alwi.
Kisah Nabi Muhammad belajar nahwu pada seorang Habib adalah pernyataan yang tidak akurat dan dapat dianggap sebagai pelecehan. Gelar Habib sendiri baru muncul pada abad ke-17 M, yaitu pada tahun 1661 M, ketika Umar bin Abdurrahman Alattas mendeklarasikan diri sebagai Habib.
Pernyataan ini tidak hanya tidak memiliki dasar yang kuat, tapi juga dapat dianggap sebagai upaya untuk meningkatkan status dan legitimasi seseorang atau kelompok tertentu. Perlu diingat bahwa sejarah dan kisah-kisah tentang tokoh-tokoh besar harus diverifikasi dengan sumber-sumber yang akurat dan dapat dipercaya.
Kami berharap agar masyarakat dapat lebih kritis dan tidak mudah percaya pada klaim-klaim yang tidak akurat. Kita semua sama di hadapan Allah, dan yang membedakan hanyalah ketakwaan kita.
Rasulullah sendiri pernah bersabda, “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Tuhan kalian adalah satu dan bapak kalian juga satu (yaitu Adam). Ketahuilah, tidak ada kemuliaan orang Arab atas orang Ajam (non-Arab) dan tidak pula orang Ajam atas orang Arab. Begitu pula orang berkulit merah (tidaklah lebih mulia) atas yang berkulit hitam dan tidak pula yang berkulit hitam atas orang yang berkulit merah, kecuali dengan takwa”.
Mari kita sama-sama meningkatkan kesadaran dan keimanan kita, serta tidak membedakan diri dari orang lain berdasarkan kasta atau status sosial. Kita semua adalah hamba Allah, dan yang membedakan hanyalah ketakwaan kita.
Kesimpulan:
Dalam Islam, kita harus selalu berpegang pada kebenaran dan menjauhi kebatilan. Kita harus selalu memverifikasi informasi dan tidak mempercayai klaim-klaim yang tidak akurat. Dan yang paling penting, kita harus selalu mengingat bahwa semua manusia sama di hadapan Allah, dan yang membedakan hanyalah ketakwaan mereka. Wallahu a’lam.
#sdiarm 🇮🇩🇮🇩
