
TERNATE-Laga tunda pekan ke-8 Super League 2025/2026 antara Malut United dan Borneo FC Samarinda di Stadion Gelora Kie Raha, Ternate, Minggu (28/12/2025), menyajikan drama penuh.
Laskar Kie Raha dua kali tertinggal namun mampu bangkit dan menang 3-2 berkat gol penentu Gustavo Franca di menit 90+4.
Sementara itu, pelatih Borneo FC Fabio Araujo Lefundes menyoroti faktor kepemimpinan wasit dan prinsip keadilan meskipun VAR sudah ada.
Laga dimulai dengan tempo cepat dari Borneo FC. Pada menit ke-3, Juan Villa membuka keunggulan tamu setelah menerima umpan akurat dari Peralta di dalam kotak penalti, mencetak gol dengan tembakan mendatar yang tenang.
Tuan rumah Malut United tidak menyerah dan menyamakan kedudukan di menit ke-23 melalui David da Silva, yang memantulkan umpan lambung meskipun dikawal rapat oleh Komang.
Di babak kedua, Borneo kembali unggul di menit ke-55 melalui Douglas Coutinho. Lewat serangan balik yang rapi, Coutinho lolos ke dalam kotak penalti dan menembak keras ke gawang Malut. Sekali lagi Malut bangkit di menit ke-69 akibat kesalahan pemain Borneo, Agung, dimanfaatkan oleh Taufik Rustam yang mencuri bola dan mencetak gol. Kedua tim terus saling menekan, dengan kiper Borneo Nadeo menepis dua peluang emas, namun drama terjadilah di injury time ketika Franca menyontek bola dari umpan Del Pino, membuat Malut menang 3-2.
Setelah laga, Fabio Araujo menilai pertandingan berjalan menarik karena kedua tim sama-sama menampilkan permainan terbaik. Borneo FC mampu mencetak dua gol dan menciptakan banyak peluang, tetapi kesalahan kecil berakibat fatal saat menghadapi tim kuat seperti Malut United.
Selain aspek teknis, ia juga menyoroti keputusan wasit, menegaskan pentingnya keadilan meskipun VAR sudah ada.
“Gol ketiga Malut menurut kami diawali pelanggaran. VAR ada, tapi keputusan akhir tetap di tangan wasit,” ujar pelatih asal Brasil dalam konferensi pers. Ia juga menilai wasit kurang tegas dalam mengendalikan pertandingan, seharusnya memberikan kartu untuk pelanggaran keras agar emosi pemain tetap terkontrol.
Dari sisi analisis permainan, Borneo FC bermain dengan fokus pada serangan cepat dan serangan balik, memanfaatkan kecepatan Villa dan Coutinho serta peran Peralta di tengah – terbukti dari gol-gol di menit ke-3 dan 55.
Namun, pertahanan menjadi titik lemah mereka: gagal menahan serangan Malut setelah unggul karena kesalahan individu dan kurangnya koordinasi.
Sementara itu, Malut United menunjukkan ketahanan mental yang luar biasa. Mereka bermain lebih terarah di babak kedua, memanfaatkan umpan udara dan serangan dari sisi, serta mampu memulihkan struktur permainan cepat setelah tertinggal.
Hasil kemenangan ini mengubah papan klasemen sementara. Borneo FC turun ke peringkat kedua dengan 34 poin dari 15 laga, disalip oleh Persib.
Sementara Malut United naik ke peringkat ketiga dengan 31 poin, menjadikan persaingan di papan atas semakin kompetitif.
Meski menelan kekalahan, Fabio tetap optimistis – mengingatkan bahwa Borneo FC masih memiliki banyak kesempatan, terutama di laga kandang, dan akan segera fokus mempersiapkan diri menghadapi PSM Makassar dan Persita Tangerang. Timnya juga tampil tanpa kekuatan penuh akibat absensi pemain karena cedera.
Laga ini membuktikan bahwa tidak ada yang pasti di sepak bola sampai peluit akhir berbunyi. Ketahanan mental Malut United yang mampu bangkit dua kali adalah teladan bagi semua tim, jangan pernah menyerah, karena kesempatan kemenangan bisa tiba kapan saja.
Bagi Borneo FC, kekalahan ini bisa menjadi momentum untuk memperbaiki kelemahan dan lebih fokus ke depan.
Semoga kedua tim terus berjuang dengan semangat dan menyajikan aksi yang lebih menarik bagi penonton di sisa kompetisi.*Imam Kusnin Ahmad*
