Jantung Kedamaian

Dr. Ir. Hadi Prajoko, SH, MH Ketum PP HPK

Bahwasanya ke-Damai-an bukanlah sebuah titik final yang dapat kita capai lalu simpan seperti tanda kemenangan, Tetapi proses belajar diri

Ia lebih mirip denyut halus yang bergerak di kedalaman kesadaran, sebuah ritme lembut yang mesti dirawat dari satu napas ke napas berikutnya, Nalar nurani sebagai pemandu nya.

Teknologi dan Ilmu pengetahuan menyebutnya homeostasis, awardnes & kecenderungan tubuh untuk kembali ke keseimbangan, mengatur seluruh ritme.

 

Selanjutnya dalam ruang di antara berbagai stasiun ruang teleportasi manusia Terus belajar: KEDAMAIAN tetapi BUKAN TUJUAN, MELAINKAN LATIHAN UNTUK TERUS HADIR DALAM DUNIA NYATA SEHINGGA TIDAK MASUK KE DALAM DUNIA KHAYALAN SETELAH MATI.

Ketenangan sejati bukan muncul karena dunia diam. Sebab dunia tak pernah diam, ia berputar, bergeser, mengganti warna, bergetar, jiwa’ hidup dalam arus perubahannya sendiri.

Justru, jiwa menemukan ketenangannya ketika ia berani menerima bahwa aliran itu tak akan berhenti. Keberanian untuk tidak melawan kenyataan tetapi melawan sugesti mitologi. kadamaian adalah pintu kecil untuk menuju bahagia yang lebih jernih, dengan layar kesadaran langgeng.

SEPERTI ILMUWAN YANG MENERIMA BAHWA CHAOS ADALAH BAGIAN DARI HUKUM ALAM, HATI PUN PERLAHAN BELAJAR BAHWA KETIDAKPASTIAN BUKAN ANCAMAN, TETAPI LANSKAP TEMPAT KEBIJAKSANAAN dan KEWASKITAAN DAPAT TUMBUH ALAMI.

Maka, teruslah MEMPERTAJAM PENGINDERA Bhatin, apakah damai itu dalam bentuk konstan? Tidak sepenuhnya benar tetapi Ia hidup sebagai dorongan nalar dan penggerak yang lembut, seperti cahaya yang selalu berubah menerangi untuk menemukan titik intensitasnya, namun tak pernah berhenti menerangi dan tak akan padam.

Cahaya hadir bukan karena ia tanpa perubahan, tetapi karena ia bertahan di tengah perubahan. Begitu pula damai: ia adalah kualitas kebahagiaan yang muncul ketika jiwa bersedia menari menemukan jati diri nya bersama dinamika hidup, bukan bersembunyi diruang hampa darinya.

Dan akhirnya, setiap detak jantung mu dan setiap detik, bahkan yang terdengar paling bising, menyimpan ruang kecil bagi jiwa untuk pulang ke dalam sanubari.

Pulang bukan berarti mundur dari dunia, tetapi kembali ke keheningan abadi , yang menyertai setiap kesadaran yang jujur. Keheningan itu tidak selalu sunyi, tetapi ia selalu cukup luas untuk menampung segala rasa yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa.

Di sanalah damai tidak lagi menjadi keadaan yang dicari, melainkan rumah batin yang kita bangun, terus menerus, dengan keteguhan yang lembut berasa.

Tumbuhkan rasa kesadaran mu.

Teruslah berfikir Kritis Nalar… Horas

Hong Mandera Ulun Basuki langgeng

Hadi Prajoko- pelajaran intuitif