
Prof Mahmud Mustain,
Guru Besar Teknik Kelautan ITS
Ketika masih kecil dalam percakapan pergaulan sehari-hari kita dilarang mencemooh atau mencaci orang tua kawan pergaulan kita, seperti; bapak-ibunya, pakde-budenya, kakek-neneknya dll. Sebab akan berbalik mencemooh orang tua kita. Artikel ini mengkritisi harus hati-hati dalam berucap di setiap kesempatan.
Satu hal yang sangat harus hati-hati adalah jangan ada penghinaan terhadap Tuhan (Allah) atau agama orang lain. Hal ini menjadi urusan besar dan agama Islam memberi peringatan keras tentang akibatnya. Hal ini tertuang dalam Al-Qur’an – Surah Al-An’am (6:108), yakni;
*وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِن دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ ۗ كَذَٰلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَىٰ رَبِّهِم مَّرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُم بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ*
Arti (Terjemahan)
_”Dan janganlah kamu mencaci (menyembah) tuhan-tuhan yang mereka sembah selain Allah, karena mereka akan mencaci Allah dengan melanggar batas tanpa pengetahuan. Demikianlah Kami hiasi bagi setiap umat amal perbuatan mereka, kemudian kepada Tuhan mereka tempat kembali mereka, lalu Dia akan memberitahukan kepada mereka apa yang telah mereka kerjakan.”_
Penjelasan Ringkasnya adalah ayat ini melarang umat Islam menghina atau mencaci keyakinan agama lain karena bisa memicu balas menghina Allah SWT. Secara umum peringatan tersebut adalah bahwa setiap umat akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya.
Disamping ayat Al-Qu’ran juga ada hadis, yakni riwayat Abu Daud (no 2754) dan Tirmidzi (1927). Persisnya adalah larangan menghinakan agama lain, yakni;
*عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:
“لَا يَسُبَّ أَحَدُكُمْ رَبَّ أَحَدٍ فَيَسُبَّ رَبَّهُ.”*
Arti (Terjemahan)
_”Janganlah salah seorang di antara kalian mencaci Tuhan (agama) orang lain, karena hal itu bisa menyebabkan Allah mencaci (menghinakan) Tuhanmu.”_
Secara umum QS dan HR ini memberikan dasar etika bertoleransi dalam Islam. Menghormati keyakinan orang lain (meski berbeda) selama tidak bertentangan dengan tauhid. Dilarang adanya saling menghina karena bisa memicu fitnah dan permusuhan.
Pesan paling besar maknanya adalah perintah menghormati keyakinan Agama lain. Hal ini menjadi dasar toleransi dengan tujuan utama bersama-sama membangun perdamaian, baik skala negara maupun skala global. Setiap manusia pasti memiliki keinginan hidup damai tentram aman makmur dan sejahtera. Kesamaan yang sama-sama dimiliki ini digunakan untuk membangun persatuan dalam rangka menjamin kebersamaan yang kokoh.
Ketika terbuka celah perbedaan maka segera kita bisa saling memaklumi bukan untuk disengketakan. Ketika diantara kita ada yang memulai membuka aib yang lain maka segera ditutup. Telah dicontohkan pelajaran masa kecil oleh orang tua kita, yakni dilarang mencaci orang tua kawan-kawan kita apalagi Tuhannya. Sungguh dalil yang diambil dari QS dan HR tersebut langsung dilarang mencaci Tuhan yang diyakini kawan-kawan atau saudara-saudara kita. Hal ini larangan yang sangat telak semoga kita bisa menjauhi aamiin.
Semoga pinaringan manfaat barokah selamat aamiin.
🤲🤲🤲
Surabaya,
09 Jumadil Akhir 1447
atau
29 November 2025
m.mustain
