بسم الله *MasyaAllah Indahnya Qona’ah*

 

Prof Mahmud Mustain, Guru Besar Teknik Kelautan, ITS

Sering dan bahkan umumnya orang mengatakan bahwa qona’ah atau bisa menerima ketentuan (nrimo ning pandum) itu sebuah kelemahan, sebab yang tertangkap sekilas adalah menyerah. Artikel ini menjelaskan keindahan karakter qona’ah yang disertai dermawan sebagai buah perwujudan Iman.

Ada dua ayat pendek yang menyentuh qona’ah, yakni;

وَالَّذِينَ فِي أَمْوَالِهِمْ حَقٌّ مَّعْلُومٌ (24) لِلسَّائِلِ وَالْمَحْرُومِ (25)

“Dan orang-orang yang dalam hartanya ada hak yang tertentu, bagi orang yang meminta dan orang yang tidak meminta yang tidak mempunyai apa-apa.” (QS Al-Ma’arij: 24-25).

Tafsir Ibnu Katsir:
Ayat-ayat ini menjelaskan tentang sifat-sifat orang yang beriman, yaitu mereka yang memiliki harta dan memberikan hak-hak yang tertentu kepada orang lain, baik itu orang yang meminta maupun orang yang tidak meminta. Hak-hak yang tertentu ini adalah zakat dan sedekah yang wajib dikeluarkan oleh orang yang memiliki harta.

Orang yang meminta adalah mereka yang meminta-minta karena tidak memiliki harta. Sedangkan orang yang tidak meminta adalah mereka yang tidak memiliki harta dan tidak meminta-minta, tetapi masih membutuhkan bantuan.

Dua ayat ini menunjukkan bahwa orang yang beriman harus memiliki sifat qona’an, yaitu sifat yang menerima dengan lapang dada dan tidak merasa berat untuk memberikan harta kepada orang lain yang membutuhkan. Mereka juga harus memiliki sifat dermawan dan peduli terhadap orang lain (Meta AI, 2025).

Ada satu ayat yang lain, yakni;

وَالَّذِينَ تَبَوَّءُوا الدَّارَ وَالْإِيمَانَ مِن قَبْلِهِمْ يَحِبُّونَ مَنْ هَاجَرَ إِلَيْهِمْ وَلَا يَجِدُونَ فِي صُدُورِهِمْ حَاجَةً مِّمَّا أُوتُوا وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ ۚ وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ (9)

“Dan orang-orang yang telah menempati kota Madinah dan telah beriman sebelum mereka (Muhajirin) itu, mereka (Anshor) mengasihi orang-orang yang berhijrah kepada mereka (Muhajirin). Dan mereka (Anshor) tidak merasa ada keberatan dalam hati mereka terhadap apa yang diberikan kepada mereka (Muhajirin), dan mereka (Anshor) mengutamakan (Muhajirin) atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka (Anshor) dalam keadaan membutuhkan. Dan siapa yang terpelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS Al-Hasyr: 9)

Tafsir Ibnu Katsir:
Ayat ini menjelaskan tentang sifat-sifat orang yang beriman, yaitu mereka yang memiliki sifat qona’ah dan tidak merasa keberatan untuk memberikan harta kepada orang lain yang membutuhkan. Mereka juga mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri, sekalipun mereka sendiri dalam keadaan membutuhkan.

Ayat ini juga menunjukkan bahwa orang yang terpelihara dari kekikiran dirinya adalah orang yang beruntung. Hal ini karena mereka telah memiliki sifat qona’ah dan tidak merasa berat untuk memberikan harta kepada orang lain. Sebab dasar qona’ah maka ketika kita teruji dengan kepemilikan harta, kita tetap rela menerima ujian dan merespon ujian dengan benar sebagai berikut.

Pertama, bisa menerima terhadap pembagian rizqi seperti apapun (Qona’ah). Kedua, bisa menerima bentuk ujian apapun terkait dengan pembagian rizqi tersebut, misalkan harus tetap meningkatkan sifat dermawan kita. Betapa indahnya Qona’ah ini, juga bisa mengajak karakter kedermawanan kita. Semoga kita bisa demikian aamiin.

Semoga manfaat barokah selamat aamiin.
🤲🤲🤲

Surabaya,
24 Jumadil Ula 1447
atau
16 November 2025
m.mustain