
Prof Mahmud Mustain, Guru Besar Teknik Kelautan ITS.
Ada kejelasan tentang hidup kita ini yang fana yang akan lenyap yang akan sirna, tetapi terkadang prilaku kita mencerminkan tidak demikian. Ada hadits mengajarkan kita untuk meneguhkan kefana’an kita. Artikel ini perkutat berdialog tentang hal tersebut.
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:
عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ وَأَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ فَاقِدُهُ وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ
“Hiduplah sesukamu, karena engkau pasti akan mati. Cintailah siapa saja yang engkau mau, karena engkau pasti akan berpisah dengannya. Dan beramalkanlah apa saja yang engkau mau, karena engkau pasti akan diberi balasan karenanya.”
Hadits ini sangat jelas mengingatkan kita tentang kefanaan hidup dan pentingnya beramal shaleh. Untuk itu mari kita renungkan bersama dengan harapan bisa menambahkan motifasi untuk meningkatkan amal sholih. Ada tiga hal kita dialogkan yakni; hidup dan mati, cinta dan pisah, serta amal dan balasan. Artikel ini mengkritisi hidup dan mati saja.
Hidup dan mati adalah pasangan kata yang sangat tinggi makna bahkan tertinggi. Hal ini diacu dari peristiwa kematian adalah peristiwa terbesar dalam kehidupan. Ada kebebasan dalam hidup ini tetapi disertai batasan yang jelas yakni mati. Hal ini memberikan arti bahwa hidup kita terbatas dalam ukuran waktu. Apabila batas waktu ini telah kita capai maka yang terjadi adalah telah selesai hidup kita. Ini artinya hidup kita telah fana, rusak, dan sirna. Masalah kita adalah telah siapkah kita menghadapi kematian?.
Ada ide tentang ini, mari kita lebih konsentrasi pada mati dengan mengurangi konsentrasi kebebasan dalam hidup ini. Memang bebas dalam hidup ini untuk berbuat segala sesuatu, tetapi jangan lupa ada kerangka syariah yakni aturan hudup. Alhasil, mari kita manfaatkan kebebasan hidup dengan tetap pada batasan-batasan regulasi aturan syariah dengan batasan di dalam waktu tertentu yang telah digariskan oleh Allah SWT pada masing-masing kita.
Dengan demikian insyaAllah hidup kita akan lebih efektif (mendapatkan hasil terbanyak) dan efisien (alokasi waktu paling sedikit, atau hemat waktu). Sehingga kita bisa menghemat sisa hidup kita dengan juga semakin banyak.
Point terbesar di topik ini adalah kesiapan kita menghadapi mati. Penulis ada ide besar dan revolusioner dalam mensikapi mati. Kita harus berani bersikap dan memasang badan untuk mati sekarang. Sungguh hal ini sangat revolusioner bagi personil kebayakan orang. Umumnya orang merasa belum siap dan nanti saja ketika sudah bisa memperbaiki ibadah. Persepsi dan siap mati sekarang memiliki dua keuntungan besar. Kita insyaAllah bisa meningkatkan motivasi Ibadah, sampai totalitas tidak setengah-setengah lagi. Yang kedua adalah ketika tiba saatnya waktu harus sampai pada detik mulai proses kematian insyaAllah sudah tidak kaget sebab sudah pernah kita sikapi. InsyaAllah akan dengan mudah kita melewati kematian aamiin.
Semoga manfaat barokah selamat aamiin.
🤲🤲🤲
Surabaya,
29 Robiul Akhir 1447
atau
21 Oktober 2025
m.mustain
