
Oleh ; Aura Puspa Devina dkk
Kami dan kawan-kawan menulis resensi buku yang menarik bertajuk “Jejak Sejarah Andalusia” karya Achmad Farid
anggota kelompok kami 6 orang :
1. Aura Puspa Devina (06030925086)
2. Andini Lailatuk Zahro’ (060209250020)
3. Devin Nabillah (06020925026)
4. Is’ad Rofifah Mardhiyah (06020925004)
5. Nisrina Shofi Himmatul Abidah (06020925009)
Resensi Buku: Jejak Sejarah Andalusia Karya Achmad Farid dalam tugas mata kuliah Bahasa Indonesia dibimbing langsung oleh Bapak Yahya Aziz Dosen FTK UINSA.
Buku *Jejak Sejarah Andalusia* karya Achmad Farid, diterbitkan oleh Penerbit Checklist pada tahun 2018, adalah sebuah karya yang ringkas namun padat, membawa pembaca menyelami jejak peradaban Islam di Semenanjung Iberia (sekarang Spanyol dan Portugal). Dengan tebal 242 halaman, buku ini bukan sekadar kronologi sejarah, melainkan pengingat akan kejayaan yang hilang, diselingi rasa bangga dan duka atas runtuhnya “surga” Islam di Eropa. Farid, yang berlatar belakang pendidikan pesantren dan studi Pendidikan Agama Islam, menulis dengan gaya naratif yang mengalir, membuat sejarah yang kompleks terasa seperti dongeng klasik—tapi bukan dongeng belaka.
Buku ini mengulas perjalanan panjang Islam di Andalusia, mulai dari penaklukan awal pada 711-715 M oleh pasukan Tariq bin Ziyad hingga kehancuran akhir pada 1492 M, ketika Granada jatuh ke tangan Raja Ferdinand dan Ratu Isabella. Farid membagi narasi menjadi bab-bab yang logis: kondisi Andalusia pra-Islam (di bawah kekuasaan Visigoth yang penuh konflik internal), penaklukan oleh kaum Muslimin, masa keemasan Dinasti Umayyah di Kordoba (abad ke-10 hingga 11), peran ulama dan tokoh pengaruh seperti Ibnu Rusyd dan Ibnu Khaldun, serta faktor-faktor runtuhnya peradaban itu—dari perpecahan internal hingga tekanan eksternal dari Reconquista.
Tidak lupa, Farid menyisipkan gambaran geografis dan topografi Andalusia, yang strategis berbatasan dengan kerajaan-kerajaan Eropa, serta perbandingan dengan kebesaran Yunani kuno. Kisahnya menyoroti bagaimana Andalusia menjadi pusat ilmu pengetahuan, seni, dan toleransi antaragama, di mana masjid-masjid megah berdiri berdampingan dengan perpustakaan berjuta buku, memengaruhi Renaissance Eropa.
Achmad Farid berhasil menyajikan sejarah yang sering terlupakan ini dengan objektif, meski tak lepas dari perspektif Islamnya yang kuat. Buku ini kaya akan pelajaran moral: kejayaan lahir dari persatuan dan ilmu, sementara kehancuran datang dari perpecahan dan kelalaian. Ilustrasi oleh Khoirur Roihan dan penyuntingan Zhivana A.U. membuatnya mudah dibaca, bahkan untuk pemula. Seperti yang disebutkan dalam ulasan, buku ini “mengisahkan peradaban gemilang yang nyaris menghilang dari catatan sejarah”, dengan detail seperti kemajuan medis, filsafat, dan arsitektur yang membuat pembaca merasa sedang meniti jejak tinta emas Islam. Ini bukan buku kering; ia mengajak kita bertanya: mengapa sejarah ini tak lebih dikenal?
Meski ringkas, buku ini kadang terasa terlalu naratif, kurang mendalam pada analisis sumber primer atau perspektif non-Muslim. Perspektif Farid yang berbasis pendidikan agama membuatnya condong ke arah “tinta emas” Islam, sehingga elemen kritis seperti konflik internal atau pengaruh Yahudi dan Kristen kurang dieksplorasi secara seimbang. Bagi pembaca akademis, ini mungkin terasa kurang kritis, tapi justru itu yang membuatnya accessible untuk umum.
Kesimpulan kami yang membuat buku ini menjadi jendela pengetahuan sejarah yang menarik adalah *Jejak Sejarah Andalusia* pengingat berharga bahwa Islam pernah memimpin peradaban dunia, dan pelajaran dari runtuhnya Andalusia—perpecahan, kemerosotan moral, dan hilangnya semangat ilmu—masih relevan hari ini. Buku ini wajib dibaca bagi siapa saja yang ingin memahami akar Renaissance Eropa atau inspirasi untuk umat Islam modern.
