
Oleh : H.Imam Kusnin Ahmad SH. Jurnalis dan aktifis PW ISNU Jatim.
Tragedi robohnya bangunan Musalla di Pondok Pesantren Al Khoziny, Buduran,Sidoarjo,Jatim merupakan duka mendalam bagi keluarga, pesantren, dan bangsa Indonesia.
Namun di balik kesedihan itu tersimpan hikmah besar yang menjadi pijakan untuk membangun peradaban pendidikan yang lebih tangguh dan bermartabat bagi para santri sebagai tunas bangsa masa depan.
Pesantren bukan hanya lembaga pendidikan agama tertua.Tetapi juga sumber nilai gotong royong, kemandirian, dan karakter. Keterlibatan santri dalam pembangunan fasilitas pesantren adalah manifestasi semangat kebersamaan.
Oleh karenanya, tragedi ini menjadi momentum evaluasi dan pembelajaran bersama tanpa saling menyalahkan.Para santri adalah aset bangsa yang harus terus didorong semangat belajarnya.
Kiai Haji Ahmad Mustofa Bisri menegaskan, “Ilmu adalah cahaya yang harus terus menyala dan santri adalah penerusnya.”
Pendidikan berkualitas yang membentuk karakter unggul adalah bekal utama membangun masa depan bangsa.Menteri Agama Prof KH Nasaruddin Umar secara langsung meninjau ponpes terdampak, menyampaikan duka dan memberikan bantuan signifikan sekaligus menegaskan perlunya regulasi ketat agar pembangunan pesantren mematuhi standar keselamatan konstruksi.
Menurut beliau, pengalaman pahit ini menjadi momen pembelajaran penting agar kejadian serupa tidak terulang, dan pesantren tetap menjadi pusat peradaban Islam yang aman dan berkualitas.
Menko Pemberdayaan Manusia, H. Muhaimin Iskandar (Cak Imin), Menteri Sosial H. Saifullah Yusuf, Menko ATR/BPN Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), serta tokoh legislatif seperti Latif turut menguatkan dukungan bagi keluarga korban dan menegaskan komitmen pemerintah dalam memberikan perlindungan sosial, perbaikan regulasi, dan penguatan fasilitas pendidikan keagamaan.
Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf hadir memberikan dukungan moril langsung kepada korban dan santri, mengajak untuk menjadikan musibah sebagai momentum perbaikan kualitas pendidikan pesantren dengan koordinasi terpadu antara PBNU, pemerintah, dan masyarakat.
Gubernur Jawa Timur Hj. Khofifah Indar Parawansa, Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak, dan Bupati Sidoarjo H. Subandi juga turun langsung meninjau lokasi kejadian dan menegaskan komitmen pemerintah daerah dalam memberikan bantuan maksimal serta memperkuat pengawasan dan regulasi keselamatan konstruksi pesantren di Jawa Timur.
Dalam aspek teknis, pakar konstruksi dari ITS, Dr. Ir. Mudji Irmawan, MT, menjelaskan kegagalan struktur bangunan yang terjadi akibat kelalaian dalam perencanaan dan pengawasan teknis, serta pentingnya standar keselamatan berbasis SNI 2847 beton bertulang. ITS siap memberi konsultasi agar pesantren dapat membangun bangunan yang aman dan kokoh.
Penanganan bencana melibatkan sinergi Basarnas, BNPB, TNI, Polri, tim medis, dokter, ahli forensik, dan relawan dalam evakuasi dan perawatan intensif di rumah sakit rujukan.
Pemerintah menanggung penuh biaya perawatan dan dukungan psikososial.Media massa berperan vital dalam penyebaran informasi akurat dan transparan sehingga dukungan moral dan material dapat tersalurkan optimal.
Satgas Nahdlatul Ulama dan Banser GP Ansor di lapangan berperan sebagai pengayom, penguat koordinasi, dan penyedia layanan sosial.NU juga mendorong penguatan pesantren tangguh bencana dengan modul edukasi kesiapsiagaan dan simulasi tanggap darurat agar pesantren siap menghadapi risiko secara mandiri dan terstruktur.
Mari dukung para santri dengan semangat belajar dan mengaji yang tinggi, menjadikan mereka tunas unggulan yang mendorong kemajuan agama, bangsa, dan negara.
Tragedi ini mengingatkan bahwa membangun pendidikan adalah membangun karakter kuat dan jiwa tangguh. Sinergi ulama, umara, pemerintah, tenaga medis, media, ormas, dan masyarakat menjadi fondasi kokoh pesantren sebagai mercusuar peradaban dan pilar kemajuan bangsa menuju masa depan cerah dan berkelanjutan***
