Akhlak di Era Digital: Spirit 80 Tahun Jawa Timur Menyongsong Peradaban Berbasis Moral dan Teknologi

 

Oleh: Dr. H. Romadlon, MM.(Pemerhati Pemberdayaan Lingkungan, Sosial, SDM dan Kebijakan Daerah).

Di tengah derasnya arus digital, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa menyerukan pentingnya akhlak sebagai penuntun moral masyarakat modern.

Dalam momentum sakral peringatan HUT Ke-80 Provinsi Jawa Timur, Khofifah menggelar doa bersama dan khotmil Quran bersama 4.000 hafiz-hafizah di Islamic Center Surabaya,sebuah simbol spiritualitas dan rasa syukur atas delapan dekade perjalanan bumi Majapahit.

Ia mengingatkan bahwa kemajuan teknologi informasi harus seiring dengan nilai akhlakul karimah agar tidak menjadi sumber kekacauan moral.

Wakil Gubernur Emil Dardak menegaskan bahwa visi Jatim Berkah dalam Nawa Bhakti Satya telah menjadi komitmen strategis Pemprov Jatim untuk menjadikan moralitas dan spiritualitas sebagai fondasi pembangunan. Momentum reflektif ini menegaskan bahwa di era serba cepat, Jawa Timur bertekad menjadi “baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur” negeri yang makmur, bermartabat, dan dirahmati Tuhan.

Refleksi 80 Tahun Sebuah Perjalanan.

Di bawah cahaya temaram Gedung Islamic Center Surabaya, ribuan suara lembut para hafiz dan hafizah melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur’an. Di malam yang penuh khidmat itu, 4.000 penjaga Kalamullah bersatu dalam doa, memanjatkan syukur atas delapan puluh tahun perjalanan panjang bumi Majapahit—Jawa Timur yang kini menapaki era digital dengan langkah yang kian cepat.

Namun di tengah gegap gempita transformasi teknologi dan derasnya arus informasi yang tanpa sekat, Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengajak warganya berhenti sejenak untuk merenung. Bahwa di balik inovasi dan konektivitas global yang memudahkan segalanya, terselip tantangan besar: menjaga akhlak di era digital.

“Antara akhlak dan digital IT harus nyambung,” ucap Ibu Gub Khofifah tegas, seolah mengirim pesan moral ke seluruh penjuru Nusantara.

Di hadapan para ulama, hafiz-hafizah, dan tokoh masyarakat, Khofifah menegaskan bahwa kemajuan digital tidak boleh menjadi alasan tergerusnya nilai-nilai luhur. Ia menekankan pentingnya akhlakul karimah—budi pekerti yang baik—sebagai panduan dalam menapaki dunia maya yang luas namun rawan misinformasi.

Malam itu, Jawa Timur tidak hanya merayakan ulang tahun ke-80, melainkan juga mengikrarkan arah baru: membangun peradaban digital yang berakar pada moralitas dan spiritualitas.

Akhlak sebagai Navigasi Era Digital.

1. Era Digital dan Krisis Moral Global

Dunia kini hidup di zaman di mana informasi menyebar lebih cepat daripada refleksi. Menurut data We Are Social (2025), 80% masyarakat Indonesia aktif di media sosial, sementara 65% mengaku pernah membagikan informasi tanpa verifikasi. Fenomena ini memunculkan kekhawatiran: derasnya arus data seringkali tak diimbangi dengan kesadaran etis.

Ahli etika digital, Dr. Siti Hidayah dari Universitas Airlangga, menyebut bahwa literasi digital bukan hanya kemampuan teknis, tetapi juga “kapasitas moral untuk memilih kebenaran.” Tanpa itu, masyarakat berpotensi terjerumus dalam budaya share first, think later—membagikan dulu, memikirkan kemudian.

Inilah yang disorot Ibu Khofifah: bahwa membangun Jawa Timur modern tidak cukup dengan infrastruktur dan teknologi, tapi juga infrastruktur moral—pondasi nilai yang menjaga setiap warga dari arus hoaks, ujaran kebencian, dan degradasi etika publik.

2. Jatim Berkah: Visi Moral Pembangunan

Wakil Gubernur Emil Elestianto Dardak menegaskan, visi Jatim Berkah dalam Nawa Bhakti Satya adalah bentuk konkret dari upaya menjadikan moralitas sebagai pilar pembangunan. “Janji tersebut telah beliau tunaikan. Hafiz dan hafizah kini menjadi garda terdepan penjaga keberkahan di bumi Majapahit,” ujarnya.

Program Jatim Berkah bukan sekadar slogan, melainkan strategi pembangunan berbasis spiritualitas. Pemerintah Provinsi Jawa Timur telah menempatkan para penjaga Al-Qur’an dan imam masjid dalam posisi terhormat, bukan hanya sebagai tokoh agama, tapi juga sebagai agen moral masyarakat.

Dalam pandangan sosiolog Prof. M. Syafii, kebijakan ini mencerminkan kesadaran bahwa “kemajuan sejati lahir dari keseimbangan antara logika digital dan etika spiritual.”

Jatim Berkah menjadi manifestasi dari konsep tersebut: sebuah provinsi yang modern sekaligus religius, kompetitif sekaligus santun.

3. Membangun Ekosistem Digital yang Bermoral.

Kemajuan digital membawa peluang besar bagi Jawa Timur: efisiensi birokrasi, keterbukaan informasi, ekonomi kreatif, dan industri 4.0. Namun tanpa etika, inovasi bisa berubah menjadi bumerang.

Khofifah mengingatkan agar masyarakat tak sekadar menjadi konsumen teknologi, tetapi juga subjek moral yang mampu memilih mana yang benar. “Setiap pesan harus disaring, apakah membawa kebaikan atau justru kerusakan,” pesannya.

Pendidikan karakter menjadi kunci. Program literasi digital yang diintegrasikan dengan pendidikan akhlak perlu diperkuat di sekolah, pesantren, dan komunitas. Kolaborasi lintas sektor—pemerintah, ulama, akademisi, dan pelaku industri—menjadi kebutuhan mutlak untuk membangun ekosistem digital yang sehat dan beradab.

4. Doa, Refleksi, dan Syukur: Spirit 80 Tahun Jatim

Delapan puluh tahun bukan sekadar angka, tapi jejak panjang perjuangan. Dari masa agraris hingga era industri 4.0, Jawa Timur telah melewati berbagai babak sejarah. Momentum HUT ke-80 menjadi ruang reflektif untuk mendoakan para pahlawan dan memantapkan arah masa depan.

Doa bersama dan khotmil Quran yang dipimpin para ulama bukan sekadar ritual, melainkan afirmasi nilai: bahwa spiritualitas tetap menjadi jantung dari setiap langkah pembangunan.

“Jawa Timur harus terus menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” ujar Emil, mengutip doa yang tertulis dalam Al-Qur’an—sebuah cita-cita tentang negeri yang baik, subur, makmur, dan dirahmati Tuhan.

Jawa Timur di Persimpangan Moral dan Teknologi.

Perayaan HUT ke-80 Jawa Timur menjadi lebih dari sekadar seremoni. Ia adalah refleksi peradaban. Dalam pusaran globalisasi dan digitalisasi, Khofifah Indar Parawansa mengingatkan bahwa masa depan hanya bisa ditapaki dengan keseimbangan antara akal digital dan akal budi.

Akhlak bukan sekadar atribut spiritual, melainkan kompas moral yang memastikan kemajuan tak kehilangan arah. Jawa Timur dengan visinya, Jatim Berkah, tengah membangun ekosistem sosial yang berlandaskan nilai, menciptakan harmoni antara inovasi dan kemanusiaan.

Ketika layar gawai semakin terang, semoga nurani pun ikut menyala. Sebab di era serba cepat ini, mereka yang berakhlak adalah mereka yang paling mampu menjaga kemanusiaan.

Jawa Timur, dengan 80 tahun perjalanan dan doa yang tak pernah putus, kini berdiri di garda depan peradaban baru: digital, religius, dan berakhlak.*Imam Kusnin Ahmad*.*