
Prof Mahmud Mustain, Guru Besar Teknik Kelautan ITS.
Hadits yang diangkat dalam judul artikel ini adalah:
الدِّينُ النَّصِيحَةُ
“Agama adalah nasihat.”
Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Muslim dan lainnya, dan merupakan salah satu hadits yang sangat penting dalam Islam. Berikut adalah bentuk lengkap haditsnya:
عَنْ أَبِي رُقَيَّةَ تَمِيمِ بْنِ أَوْسٍ الدَّارِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “الدِّينُ النَّصِيحَةُ قُلْنَا لِمَنْ قَالَ لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ” رَوَاهُ مُسْلِمٌ
“Agama adalah nasihat.” Kami bertanya, “Untuk siapa?” Beliau menjawab, “Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, dan para pemimpin kaum muslimin serta kaum muslimin secara umum.” Artikel ini menjelaskan tentang pentingnya hadits ini dan urgensi nasehat.
Berikut diberikan sekilas penjelasan tentang hadits ini sebagai berikut (Meta AI, 2025):
– Hadits ini menunjukkan bahwa agama Islam adalah tentang memberikan nasihat yang tulus dan ikhlas kepada Allah, Rasul-Nya, dan sesama muslim.
– Nasihat ini mencakup berbagai aspek, seperti memberikan petunjuk yang benar, mengingatkan dari kesalahan, dan membantu dalam kebaikan.
– Hadits ini juga menunjukkan pentingnya kejujuran dan ketulusan dalam berinteraksi dengan orang lain.
Hadits ini meningkatkan kesadaran kita tentang pentingnya terlaksananya pemberian nasihat. Selain itu juga merawat dan meningkatkan kualitas hubungan kita dengan Allah dan sesama manusia. Manfaat besarnya nasihat ini adalah berupa upaya untuk melestarikan dan meningkatkan kualitas kehidupan sosial dalam kerangka mencapai adil makmur aman damai sejahtera, yakni kehidupan ideal yang kita impikan bersama.
Sebagaimana arti nasihat yakni pengharapan kebaikan kepada yang lain, ارادة الخير للغير. Maka sudahi barang tentu capaian kinerja nasihat adalah peningkatan kebaikan umat manusia. Dengan demikian secara linear semakin gencar dan semaraknya proses nasehat, maka akan semakin terbangun kehidupan ideal tersebut.
Sedangkan materi nasehat adalah jelas berupa Addinul-Islam. Apabila kita renungkan, bagaimana kehidupan manusia di Nusantara ini bisa sebaik sekarang ini. Misalkan tidak ada proses nasihat, maka kehidupan hampir pasti akan berbudaya seperti hewan. Tidak akan mampu menahan nafsu; birahi, penguasaan, pembunuhan, judi dll. Jangankan berbuat baik menahan nafsu saja tidak akan mampu.
Jadi logika sehat mengatakan bahwa peran nasihat sangat menentukan. Kenyataan sejarah sudah jelas bahwa proses penyampaian nasihat sudah terkemas baik mapan dan kokoh dalam bentuk pengajian baik yang sifatnya terlembaga formal seperti pondok pesantren dan madrasah atau non-formal seperti pengajian-pengajian umum. Sehingga peran nasihat dalam membangun budaya santun di negri tercinta ini sungguh tidak bisa dipungkiri.
Siapa pelaku sejarah mulai sebelum zaman penjajah? Tidak ada jawaban lain kecuali peran Kiyai dengan pondok pesantrennya. Pondok pesantren sudah ada sebelum penjajah datang mendirikan sekolah-sekolah, apalagi perguruan tinggi. Bahkan yang memasok gerilyawan untuk mengusir penjajah juga dari pondok-pondok pesantren. Hal ini sangat logis lantaran zaman penjajahan itu belum ada lembaga pendidikan atau organisasi kecuali pondok pesantren.
Kembali ke peran nasihat yang berisi agama Islam, sungguh untuk mencapai tujuan dunia dan/atau akhirat harus melalui pintu nasihat. Hal ini dilakukan oleh para Kyai ke santri, dosen ke mahasiswa, dan guru ke murid. Semoga peranan nasihat semakin besar sehingga semakin sukses dalam menggapai tujuan dunia dan akhirat aamiin.
Semoga manfaat barokah selamat dunia akhirat aamiin.
🤲🤲🤲
Surabaya, 9 Robiul Akhir 1447
atau
2 oktober 2025
m.mustain
