Tawuran dalam Perspektif Dunia Remaja dan Antisipasinya

 

Oleh : Sujaya, S. Pd. Gr.
(Pemerhati Pendidikan Karakter)

Pendahuluan

Fenomena tawuran pelajar menjadi salah satu persoalan sosial yang kompleks di Indonesia. Tawuran tidak sekadar perilaku kekerasan fisik, tetapi juga cerminan krisis identitas, lemahnya kontrol diri, serta kurangnya internalisasi nilai moral di kalangan remaja. Menurut teori perkembangan Erik Erikson (1968), remaja berada pada tahap pencarian identitas (identity vs role confusion). Pada fase ini, mereka rentan melakukan perilaku menyimpang, termasuk tawuran, sebagai bentuk pencarian pengakuan kelompok dan eksistensi diri.

Tawuran dalam Perspektif Dunia Remaja

Dalam dunia remaja, tawuran sering dipersepsikan bukan hanya sebagai tindakan kekerasan, melainkan sebagai “ritual solidaritas” dan “uji keberanian.” Albert Bandura melalui teori social learning (1977) menjelaskan bahwa perilaku agresif dapat dipelajari melalui pengamatan dan peniruan terhadap model, baik teman sebaya maupun media. Remaja yang menyaksikan senior atau kelompok tertentu melakukan kekerasan dapat terdorong meniru, karena perilaku tersebut dianggap memberikan status atau penghargaan sosial.

Selain itu, teori subkultur oleh Albert Cohen (1955) menegaskan bahwa perilaku menyimpang pada remaja muncul dari kebutuhan membangun identitas kelompok tersendiri. Dalam konteks tawuran, kelompok pelajar menciptakan norma internal—seperti loyalitas, keberanian, dan perlawanan—yang bertentangan dengan norma masyarakat luas.

Faktor Pendorong Terjadinya Tawuran

Beberapa faktor yang memengaruhi remaja terjerumus dalam tawuran, antara lain:

1. Krisis Identitas – sesuai dengan Erikson, remaja sedang mencari jati diri sehingga rentan pada pengaruh kelompok sebaya.

2. Kontrol Sosial Lemah – Travis Hirschi (1969) melalui teori social control menekankan bahwa lemahnya ikatan dengan keluarga, sekolah, dan masyarakat membuat remaja lebih mudah melakukan pelanggaran.

3. Pengaruh Media dan Lingkungan – Bandura menunjukkan bahwa paparan kekerasan dalam media dapat mendorong perilaku imitasi.

4. Solidaritas Kelompok – teori Cohen menekankan peran geng dan subkultur pelajar dalam membentuk identitas melalui kekerasan.

Dampak Tawuran

Tawuran membawa dampak destruktif, baik bagi individu maupun masyarakat. Individu berisiko mengalami cedera, kriminalisasi, hingga trauma psikologis. Bagi masyarakat, tawuran menimbulkan rasa tidak aman dan merusak citra institusi pendidikan. Menurut Soerjono Soekanto (2003), konflik sosial yang dibiarkan dapat berkembang menjadi disintegrasi sosial yang lebih luas.

Antisipasi Tawuran

Mengantisipasi tawuran memerlukan pendekatan holistik:

1. Pendidikan Karakter di Sekolah
Melalui internalisasi nilai moral, etika, dan kecakapan sosial (life skills), sekolah berperan menumbuhkan empati dan kemampuan mengelola emosi remaja.

2. Keterlibatan Keluarga
Hirschi menegaskan pentingnya ikatan emosional dengan keluarga sebagai benteng utama mencegah kenakalan remaja.

3. Penyediaan Ruang Ekspresi Positif
Kegiatan ekstrakurikuler seperti olahraga, seni, dan organisasi siswa dapat menjadi saluran energi remaja sehingga tidak tersalurkan melalui kekerasan.

4. Pendekatan Restorative Justice
Pendekatan ini menekankan pemulihan hubungan antara pelaku, korban, dan masyarakat, sehingga remaja belajar bertanggung jawab atas tindakannya tanpa harus terjebak dalam stigma kriminal.

5. Sinergi Pemerintah, Sekolah, dan Masyarakat
Program pencegahan tawuran tidak bisa parsial. Dibutuhkan kolaborasi antarinstansi, penyuluhan rutin, serta patroli lingkungan sekolah.

Penutup

Tawuran dalam perspektif dunia remaja bukan hanya gejala kriminalitas, tetapi cerminan dinamika pencarian identitas dan kebutuhan pengakuan sosial. Teori Erikson, Bandura, Cohen, dan Hirschi memberi gambaran bahwa perilaku ini berakar pada faktor psikologis, sosial, dan kultural. Antisipasinya menuntut keterlibatan keluarga, sekolah, masyarakat, serta negara dalam menciptakan ekosistem yang sehat bagi perkembangan remaja. Dengan pendekatan menyeluruh, tawuran dapat ditekan, dan remaja diarahkan menjadi generasi yang produktif serta berkarakter.

Indramayu. 26/9/2025