
Oleh : Kirena Dzihni Tsamroti Maulidiya dkk
Kami dari kelompok 6 mahasiswi PIAUD FTK UNISA ;
1. HENYSA SALSABILA(06020925034)
2. Kirena Dzihni Tsamroti Maulidiya(06020925037)
3. Ma’isyata kamilia sasmitha (06020925039)
4. Naurah Rayyani (06020925054)
5. Nazira Mutia Afsari (06020925055)
Menulis hasil resensi dari buku “Perbedaan Wali Allah Yang Keramat & Wali Setan Yang Terlaknat” oleh K. H. Imam Ghazali Said, sebagai tugas “Resensi Buku2 Islam mata kuliah bahasa Indonesia yang dibimbing oleh : Yahya Aziz dosen FTK UINSA.
Buku ini menjelaskan terkait pemikiran Ibn Taymiyyah tentang kewalian, sebuah konsep yang kerap disalahpahami dan diselewengkan. Dengan landasan kuat dari Al Qur’an dan Hadist, ia membedakan antara Wali Allah, yaitu mereka yang beriman, bertaqwa, dan mengikuti ajaran nabi Muhammad SAW dengan Wali Setan’ yang meskipun tampak memiliki keistimewaan atau keajaiban, sejatinya menyimpang dari tauhid dan syari’at.
Dalam 15 pasalnya terdapat beberapa pendapat yang disertai dengan dalil dalil yang relevan, baik berupa Al Qur’an maupun Hadis, dengan pemikiran yang matang Ibn Taymiyyah membongkar klaim klaim kewalian yang tidak memiliki dasar dalam Islam, menjelaskan bagaimana fenomena luar biasa seperti karomah bisa menjadi alat kebenaran atau justru tipu daya setan. Ia juga mengurangikan hubungan manusia dengan jin dan menjelaskan bagaimana seseorang bisa menjadi hamba Allah yang sejati atau sekutu setan yang menyesatkan.
Namun ada 1 dalil yang berupa Al Qur’an surah Al-Mujadilah: Ayat 19 (Juz 28)
Yang berbunyi:
اِسْتَحْوَذَ عَلَيْهِمُ الشَّيْطٰنُ فَاَنْسٰىهُمْ ذِكْرَ اللّٰهِۗ اُولٰۤىِٕكَ حِزْبُ الشَّيْطٰنِۗ اَلَآ اِنَّ حِزْبَ الشَّيْطٰنِ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ
Yang artinya: Setan telah menguasai mereka, lalu menjadikannya lupa mengingat Allah. Mereka itulah golongan setan. Ketahuilah sesungguhnya golongan setan itulah orang-orang yang rugi.
Dan 1 dalil yang berupa hadis sebagai berikut: Hadis tentang Wali Setan
(HR. Muslim no. 2813)
النَّصُّ العَرَبِيّ:
قال رسول الله ﷺ:
«إِنَّ الشَّيْطَانَ قَعَدَ لابْنِ آدَمَ بِطُرُقِهِ كُلِّهَا، قَعَدَ لَهُ بِطَرِيقِ الإِسْلاَمِ، فَقَالَ: تُسْلِمُ وَتَذَرُ دِينكَ وَدِينَ آبَائِكَ؟ فَعَصَاهُ فَأَسْلَمَ، ثُمَّ قَعَدَ لَهُ بِطَرِيقِ الْهِجْرَةِ، فَقَالَ: تُهَاجِرُ وَتَذَرُ أَرْضَكَ وَسَمَاءَكَ؟ … فَعَصَاهُ فَهَاجَرَ، ثُمَّ قَعَدَ لَهُ بِطَرِيقِ الْجِهَادِ، فَقَالَ: تُجَاهِدُ؟ فَهُوَ جَهْدُ النَّفْسِ وَالْمَالِ، فَتُقْتَلُ فَتُنْكَحُ الْمَرْأَةُ وَيُقْسَمُ الْمَالُ؟ فَعَصَاهُ فَجَاهَدَ.
Yang artinya:
“Sesungguhnya setan duduk menghalangi anak Adam di setiap jalan. Ia menghalanginya dari jalan Islam, lalu berkata: ‘Apakah engkau akan masuk Islam dan meninggalkan agama nenek moyangmu?’ Namun ia menentangnya lalu masuk Islam. Kemudian setan menghalanginya dari jalan hijrah lalu dari jalan jihad. Barangsiapa menaatinya maka ia menjadi pengikut setan. Barangsiapa menentangnya maka baginya surga.”
Dengan ini kami cantumkan sebagai tambahan dalam mendeskripsikan buku ini, karena adanya keterkaitan yang sama persis.
Menurut kami buku ini adalah panduan penting bagi siapa saja yang ingin memahami hakikat kewalian dan membedakan antara kebenaran dan kesesatan serta perbedaan antara cahaya tauhid dan bayang bayang kebatilan.
