Haji Dalam Genggaman Calo Bejubah

by: HK

Haji, yang seharusnya jadi perjalanan spiritual, di negeri ini bisa berubah jadi bisnis licik, bukan lagi ibadah suci. Bukan lelang kambing di pasar hewan, tapi lelang kursi menuju Baitullah. Yang punya ratusan juta atau miliaran, silakan duluan. Yang cuma punya niat dan tabungan receh, sabar mi dulu—atau entah kapan berangkatnya.

Seorang ustadz jadi lakon terbaru dalam drama “Kuota Haram” Haji Kemenag. Bayangkan, ustadz yang ceramahnya mengajarkan zuhud, ternyata sibuk mengatur kursi haji seperti calo tiket konser. Bedanya, kalau tiket konser kehabisan, paling banter menangis di rumah. Tapi kalau kuota haji ludes karena diperjualbelikan, ada jutaan jamaah reguler yang harus menunggu sampai uban tambah putih.

Uang miliaran yang dikembalikan ke KPK jadi bukti bahwa surga pun kini ada tarifnya. Lucunya, mereka yang terlibat tetap saja berlagak korban. “Kami hanya bagian dari sistem,” katanya. Padahal kalau sistemnya busuk, bukankah berarti ikut-ikutan sekalian makan bangkai?

Korban apa kalau uang miliaran bisa dikembalikan? Itu bukan korban, tapi lebih dekat sebagai pemain. Korban itu dirugikan, ini malah untung milyaran rupiah. Tidak ada kasus korupsi berdiri sendiri, pelakunya selalu berjejaring.

Coba kalau jamaah reguler yang uangnya pas-pasan, jangankan korupsi kuota, mau setor tabungan haji saja kadang harus cicil bertahun-tahun sambil tahan lapar.

Di tanah air, haji bukan lagi soal panggilan Allah, tapi soal saldo rekening. Si kaya bisa titip nama, si miskin titip doa. Di Mekah, semua pakai ihram putih. Tapi di Jakarta, yang kelihatan jelas hanyalah belang hitam dari korupsi kuota haji.

Pertanyaannya sederhana: berapa harga sepotong surga, kalau kuncinya dipegang para calo berjubah suci? Jangan-jangan juga nanti bukan malaikat yang jaga pintu surga, tapi makelar yang atur siapa duluan masuk dan siapa yang belakangan.