
Oleh Ririe Aiko
Di antara gemerlap kota,
seorang pengemudi ojek online
menunggu tanda di layar ponsel.
Sekali bunyi, ia bergegas,
mengendarai motor butut
dengan rangka yang diikat tali rafia.
Tak peduli panas atau hujan,
ia abaikan lelah,
berjuang demi mengumpulkan recehan
untuk membayar setoran
yang tak pernah berkurang.
Penghasilannya kadang habis di jalan,
bukan untuk membeli makan,
tetapi demi bensin agar bisa tetap berjalan.
Bekerja dua puluh empat jam,
kadang ngalong demi tambahan,
tidur di antara aspal jalanan,
tak pulang demi anak-istri bisa makan.
Pepatah bilang, kerja keras pasti berbuah hasil.
Namun itu tak berlaku bagi yang terlahir
dalam sistem yang memiskinkan si miskin.
“Dengan tubuh ringkih yang babak belur,
gaji mereka bahkan sulit mencapai tiga juta sebulan—
apalagi dalam sehari.”
Lalu di layar kaca,
tiba-tiba kita disuguhi berita
tentang gaji tiga juta per hari
hanya dengan duduk di kursi
yang katanya mewakili rakyat.
Mungkin beginilah logika negeri penuh ironi:
wakil rakyat sibuk “mewakili rakyat”
dalam menerima segala kemewahan—
gaji berlapis, tunjangan gemuk, fasilitas mewah.
Sementara rakyat yang diwakili
dibiarkan berjuang sendirian,
mati dalam kemiskinan…
