Dr.Ir. HADI PRAJOKO SH, MH Ketua HPK Pusat.

Bagaimana lidah menjadi satu fenomena yg membangun nilai positif dan Negatif sebagai pencerah sosial cultural,

Sabda sabda kebajikan yg disampaikan oleh beberapa Mpu pada masa Kerajaan Majapahit:

*Mpu Prapañca*

Mpu Prapañca adalah penulis Negarakertagama, sebuah karya sastra yang menggambarkan expression emosi dan mengendalikan ucapan pemimpin dalam kehidupan masyarakat Majapahit dan konsep keselarasan lahir dan batin. Dalam Negarakertagama, Mpu Prapañca menekankan pentingnya keseimbangan antara tubuh dan jiwa dalam mencapai kesejahteraan. Ia juga menggambarkan kehidupan masyarakat Majapahit yang harmonis dan seimbang, dengan penekanan pada spiritualitas dan moralitas.

*Mpu Tantular*

Mpu Tantular adalah penulis Sutasoma, sebuah karya sastra yang mengajarkan tentang pentingnya keseimbangan tubuh dan jiwa dalam dalam mengendalikan emosi penguasa dan jiwa’ nya untuk mencapai masyarakat tujuan kesejahteraan.
Dalam Sutasoma, Mpu Tantular menekankan pentingnya spiritualitas dan moralitas dalam kehidupan sehari-hari. Ia juga menggambarkan bagaimana keseimbangan antara tubuh dan jiwa dapat membawa kesejahteraan dan kebahagiaan.

*Mpu Panuluh*

Mpu Panuluh adalah seorang pujangga terkenal pada masa Kerajaan Majapahit yang menulis karya sastra seperti Arjunawiwaha. Dalam Arjunawiwaha, Mpu Panuluh menekankan pentingnya keseimbangan suluk dawuh suci bisa diwujudkan antara tubuh dan jiwa dalam mencapai kesejahteraan. Ia juga menggambarkan bagaimana spiritualitas dan moralitas dapat membantu seseorang mencapai keseimbangan tersebut.

*Mpu Sedah*

Mpu Sedah adalah seorang pujangga yang hidup pada masa pemerintahan Raja Hayam Wuruk dan menulis karya sastra seperti Bhuwana Kośa. Dalam Bhuwana Kośa, Mpu Sedah menekankan pentingnya ucapan sbg pemandu keseimbangan antara tubuh dan jiwa dalam mencapai kesejahteraan.
Ia juga menggambarkan bagaimana spiritualitas dan moralitas dapat membantu seseorang mencapai keseimbangan tersebut.

*Mpu Panji*

Mpu Panji adalah yg melanjutkan wangsa Carita wayang setelah Carita Raden Parikesit, seorang pujangga yang hidup pada masa akhir Kerajaan Majapahit dan dikenal karena karya sastranya yang indah dan mendalam, dengan wilayah de Asia tenggara Dalam karya-karyanya, cerita dari Sabang Asia tenggara itu menjadikan seorang filsuf pujangga besar sebelum sirna ilang khertaning bumi, dialah Mpu Panji, yg menekankan pentingnya keseimbangan antara tubuh dan jiwa dalam mencapai kesejahteraan. Ia juga menggambarkan cerita cerita rakyat di seluruh pelosok dirangkum dalam kebajikan Budi pekerti luhur bagaimana spiritualitas, ucapan yg disampaikan melalui lidah bisa membentuk moralitas dan dapat membantu seseorang mencapai keseimbangan tersebut.

Mereka semua berperan penting dalam mengembangkan kesusastraan dan kebudayaan Jawa pada masa Kerajaan Majapahit. Karya-karya mereka masih dipelajari dan dihargai hingga saat ini karena nilai-nilai yang terkandung di dalamnya tentang keseimbangan tubuh dan jiwa, spiritualitas, dan moralitas.
Demikian pula seorang budayawan barat sering Secara harfiah, sebagai padanan ungkapan dari filsuf William Shakespeare di bawah ini memiliki arti yang sangat dalam dan lugas. Bagian pertama, “Lidahku akan mengungkapkan kemarahan hatiku,” menekankan perlunya ekspresi verbal sebagai katup pelepas emosi yang kuat.

Lidah (kata-kata) menjadi alat untuk mengartikulasikan dan melepaskan kemarahan atau kesedihan yang terpendam di dalam hati.

Bagian kedua, “atau hatiku yang menyembunyikannya akan hancur,” menjadi konsekuensi dari tidak adanya ekspresi tersebut. Hal ini menggambarkan bahaya dan kehancuran batin yang bisa terjadi jika seseorang terus-menerus memendam emosi negatif seperti amarah dan kesedihan.

Hati yang “menyembunyikannya” atau menahannya akan menjadi terlalu penuh dan akhirnya “hancur,” baik secara metaforis maupun fisik, yang mengacu pada beban psikologis yang tak tertahankan.

​Ungkapan ini disampaikan dalam momen yang sangat penting dalam drama Macbeth. Macduff baru saja menerima kabar bahwa seluruh keluarga, termasuk istri dan anak-anaknya, telah dibantai atas perintah Macbeth. Macduff diliputi kesedihan dan kemarahan yang luar biasa, namun ia berusaha menahannya, mungkin karena rasa syok atau keinginan untuk tampak kuat.

Di sinilah Malcolm, karakter lain, mendesaknya untuk menyuarakan kesedihannya. Malcolm berpendapat bahwa menahan kesedihan dan kemarahan bukanlah tanda kekuatan, melainkan tanda kelemahan yang akan merusak jiwa.

Dengan mengatakan ini, Shakespeare tidak hanya menggambarkan karakter yang realistis, tetapi juga menyampaikan sebuah kebenaran universal tentang kesehatan mental dan emosional. Ia menunjukkan bahwa memendam emosi yang menyakitkan dapat memiliki konsekuensi yang merusak.

​​Makna dari ungkapan ini masih sangat relevan hingga saat ini, melampaui konteks drama aslinya. Ungkapan ini bisa dilihat sebagai saran bijak yang menekankan pentingnya komunikasi terbuka dan ekspresi emosi yang sehat.

Dalam dunia modern, ungkapan ini sering digunakan untuk menggambarkan pentingnya berbicara tentang perasaan (berbagi cerita, mencari dukungan dari teman, atau bahkan melalui terapi) sebagai cara untuk mencegah beban mental yang berlebihan.

Ungkapan ini menjadi pengingat bahwa memendam amarah, kesedihan, atau frustrasi dalam waktu yang lama dapat menyebabkan tekanan psikologis, depresi, atau bahkan masalah fisik.

Dengan membiarkan “lidah” mengungkapkan apa yang ada di “hati,” seseorang dapat memproses emosi-emosi tersebut dan mencegah “kehancuran” batin. Ini adalah pesan mendalam tentang pentingnya memproses emosi daripada menekannya, untuk menjaga kesehatan jiwa yang utuh….
Moralitas adalah beyond Religion tidak dipasung oleh kitab suci dan tidak terpenjara oleh ayat ayat karena bersifat LEITSTAR DINAMIS dan Universal, yg membebaskan dari Borgo borgol ketidak sadaran, menjadi manusia yang mampu menemukan jati diri jiwa’ murni nya Yg sejati.

 

Teruslah bangun kesadaran.
Freedom of speech