
Prof Mahmud Mustain, Guru Besar Teknik Kelautan ITS
Ada potongan hadits yang memberikan peringatan keras tentang hidup dan mati, yakni:
“عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ”
“Hiduplah sesuka hatimu, sesungguhnya engkau pasti akan mati.”
Potongan hadits ini dari lengkapnya hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari (no. 6055) dan Imam Muslim (no. 2838). Lengkapnya hadits tersebut adalah sebagai berikut:
“عِشْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَيِّتٌ، وَأَحْبِبْ مَنْ شِئْتَ فَإِنَّكَ مُفَارِقُهُ، وَاعْمَلْ مَا شِئْتَ فَإِنَّكَ مَجْزِيٌّ بِهِ”
“Hiduplah sesuka hatimu, sesungguhnya engkau pasti akan mati. Cintailah siapa saja yang kamu suka, sesungguhnya engkau pasti akan berpisah dengannya. Dan beramallah apa saja yang kamu suka, sesungguhnya engkau pasti akan diberi balasan karenanya.”
Artikel ini hanya membahas tentang hidup dan mati yang berhubungan dengan kontek perintah HIDUPLAH.
Perintah hidup tersebut memberikan peringatan keras lantaran dikaitkan dengan mati. Sedangkan mati adalah peristiwa terbesar dalam perjalanan hidup, yakni berakhirnya kehidupan. Karena kita tidak bisa menolak kematian, maka sangat logis apabila kita harus memanfaatkan hidup ini sebaik mungkin. Waktu demi waktu kita lewati berarti waktu demi waktu pula kita mengurangi sisa hidup. Lebih jelasnya, bahwa semakin lama kita hidup semakin sedikit kesempatan hidup kita.
Potongan hadits tersebut sebenarnya adalah bermaksud untuk supaya kita sangat berhati-hati dalam menggunakan waktu. Skala waktu detik demi detik adalah sangat berharga. Kita tidak bisa menghentikan waktu, mau tidak mau kita harus mengikuti. Di sisi lain kita dibebaskan untuk menentukan kehidupan, kita maunya seperti apa terserah kita. Ini artinya kita diperintahkan harus berbuat baik yakni secara umum ta’at kepada Allah SWT dan rasulNya. Jangan kita ada waktu dan ruang untuk berma’siat kepada Allah SWT dan rasulNya.
Semoga kita bisa mengambil manfaat dari potongan hadits tersebut, untuk memperoleh ridloAllah SWT dan surgaNya, Allahumma aamiin.
Semoga barokah selamat dunia akhirat aamiin.
🤲🤲🤲
Surabaya, 18 Robiul Awal 1447
atau
12 September 2025
m.mustain
