
SURABAYA — Ketua Umum Pimpinan Pusat Dewan Masjid Indonesia (PP DMI), Dr.H.Jusuf, mengingatkan pentingnya meneladani akhlak Rasulullah, termasuk menjadikan masjid bukan sekadar tempat ibadah, melainkan juga pusat aktivitas sosial, ekonomi, dan kemajuan umat.
Hal itu disampaikan H. Yusuf Kalla saat acara pelantikan dan mengukuhkan pengurus Pimpinan Wilayah (PW) DMI Jawa Timur masa khidmat 2025-2030 serta Peringatan Maulid Nabi Muhammad 2025 di Islamic Center Jawa Timur, Surabaya, beberapa hari lalu.
Acara juga diisi peluncuran kitab Nahrul Qadiriyah karya ulama internasional, As-Syeikh Prof. Dr. Muhammad Fadhil Al-Jailani, yang hadir memberikan tausiyah.
Pelantikan dilakukan Ketua Umum DMI sekaligus Wakil Presiden ke-10 dan ke-12, H. M. Jusuf Kalla, serta dihadiri Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Jatim, mantan Gubernur Jatim H Imam Utomo, serta perwakilan PWNU,Muhammadiyah,LDII, Kemenag Jatim dan ulama lain, diantaranya KH Dr. Asep Saifuddin Halim, dan Prof. Dr. KH Abdul Hakim Subchan.
Pada kesempatan itu, H.Yusuf Kalla berpesan agar para pengurus mengemban amanah dengan penuh keikhlasan serta tanggung jawab. Ia juga mendoakan agar seluruh jajaran DMI senantiasa mendapat kemudahan, bimbingan, dan ridha Allah SWT.
Ia menyinggung jumlah masjid di Jawa Timur yang mencapai lebih dari 53 ribu unit untuk melayani 42 juta penduduk. Jumlah itu melampaui rata-rata nasional dan menurutnya mencerminkan kuatnya keimanan masyarakat Jatim.
“Di Eropa dan Amerika banyak rumah ibadah dijual, sementara di Indonesia setiap hari kita mendirikan masjid. Ini pertanda kemajuan beragama kita,” ujar Yusuf Kalla.
Lebih jauh, Jusuf Kalla menekankan peran strategis masjid dalam mendorong kemandirian ekonomi umat. Menurutnya, dakwah tidak hanya membicarakan soal ibadah, tetapi juga muamalah. Ia mencontohkan Rasulullah SAW yang lebih lama berkiprah sebagai pedagang sebelum diangkat menjadi Rasul.
“Masjid harus mendorong semangat umat untuk bekerja, berdagang, dan membangun kemandirian ekonomi,” ungkap Yusuf Kalla yang saat ini juga menjabat Ketua PMI Pusat ini.
Selain itu, ia juga menyoroti situasi sosial nasional belakangan ini, termasuk unjuk rasa yang berujung anarkis. Ia menilai masjid memiliki peran strategis sebagai penjaga kedamaian dan corong ketertiban masyarakat.
“Menara masjid bukan hanya untuk azan, tetapi juga menenangkan umat, menjaga keadilan, dan mendamaikan bangsa,” pesannya.
Dengan jumlah masjid yang besar, ia berharap pengurus DMI di semua tingkatan dari provinsi hingga desa dapat berperan aktif meningkatkan kualitas keislaman, memperkuat ukhuwah, sekaligus mendorong kemajuan masyarakat.
“Pengurus masjid tidak hanya bertanggung jawab mengelola rumah ibadah, tetapi juga memajukan, mendamaikan, serta memberi dorongan positif bagi umat,” pungkasnya.
Wakil Gubernur Jatim Emil Dardak menyampaikan Pemprov Jatim siap bersinergi dengan DMI.
Data Pemprov terdapat sekitar 53.500 masjid di Jawa Timur, dengan sekitar sekitar 78.000 imam yang telah memperoleh tunjangan kehormatan sejak 2019.
Nilainya mungkin kecil, tapi keberkahannya besar. Masjid adalah amal jariyah lintas generasi yang menjadi pusat peradaban,” ujar Emil
Ketua Pimpinan Wilayah DMI Jawa Timur 2025-2030, Dr.H.M. Sudjak,pada kesempatan itu memaparkan program kerja organisasi ke depan. Ia menjelaskan, struktur PW DMI Jatim terdiri atas 12 bidang atau departemen yang masing-masing dipimpin oleh seorang wakil ketua.
“Kami berharap para wakil ketua tidak hanya menjalankan fungsi seremonial, tetapi juga bertanggung jawab penuh terhadap departemen yang dipimpinnya,” tegas M.Sudjak yang juga Ketua Takmir Masjid Nasional Al.Akbar ini.
Dari 12 departemen tersebut, lanjut Sujak, PW DMI Jatim merumuskan tiga program unggulan. Pertama, Program Tunjangan Kehormatan Imam Masjid, yang sudah berjalan sejak 2019 atas inisiatif Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa. Hingga tahun ketujuh, program tersebut telah menjangkau 78 ribu imam masjid, termasuk 12.500 orang pada tahun ini.
“Jumlah ini memang belum seluruhnya, karena total imam masjid di Jatim mencapai sekitar 160 ribu. Namun komitmen pemerintah daerah insyaallah akan terus berlanjut dan ditingkatkan,” jelasnya.
Kedua, Program Masjid Award, yaitu penghargaan bagi masjid-masjid berprestasi sesuai kriteria yang ditetapkan Dewan Masjid.
Ketiga, Program Ekosistem Produk Halal melalui pembentukan Halal Center DMI. Program ini sejalan dengan upaya pemerintah provinsi dalam meningkatkan jumlah sertifikasi halal.
“Saat ini Jawa Timur berada di peringkat ketiga nasional dalam jumlah sertifikasi produk halal. Dengan jaringan masjid yang mencapai lebih dari 52 ribu, insyaallah kita bisa mendongkrak posisi Jatim menjadi yang terdepan,” kata Sudjak.
Menurutnya, keberadaan Halal Center DMI akan memperkuat kontribusi masjid tidak hanya di bidang spiritual, tetapi juga ekonomi. “Masjid bisa menjadi motor penggerak untuk mendukung produk halal dan membangun kemandirian umat,” pungkas aktifis PW ISNU Jatim ini.
Acara pelantikan ditutup dengan doa bersama dan penegasan komitmen seluruh pengurus untuk menjadikan masjid sebagai pusat spiritualitas, persatuan, serta pemberdayaan umat di Jawa Timur.*Imam Kusnin Ahmad*
