
Oleh : Ririe Aiko
(Pada 28 Agustus 2025, Affan Kurniawan (21), seorang pengemudi ojek online, tewas setelah tertabrak dan terlindas kendaraan taktis Brimob di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat. Saat kejadian, Affan sedang mengantarkan pesanan makanan dan bukan bagian dari demonstrasi.)(1)
—000—
Wahai para pengendara besi raksasa,
Kalian bisa menginjak rem itu.
Tapi mengapa tidak?
Apakah jerit kecil itu tertelan deru mesin?
Silau perintahkah yang membuat kalian lupa:
ada manusia di bawah roda?
Atau memang di negeri ini
nyawa orang kecil tak pernah punya harga?
—000—
Wahai pengendara besi raksasa,
kalian bisa menginjak rem itu.
Tapi mengapa tidak?
Apakah jerit kecil itu tertelan deru mesin?
Silau perintahkah yang membuat kalian lupa:
ada manusia di bawah roda?
Atau memang di negeri ini
nyawa orang kecil tak pernah punya harga?
—000—
Di malam penuh riuh itu,
ketika teriakan massa pecah jadi gelombang,
seorang anak muda dua puluh satu tahun
hanya sedang mencari nafkah:
mengantarkan pesanan,
mengumpulkan rupiah,
demi menopang ibu di rumah.
Namun langkahnya terhenti di aspal basah Pejompongan.
Ia hanya melintas,
bukan bagian dari pendemo. (2)
Tapi kekuasaan itu buta pada yang lemah.
Tubuhnya sudah terserempet,
namun roda raksasa tetap menggilasnya.
Orang-orang berteriak.
Namun suara rakyat
tak cukup menghentikan laju besi.
—000—
Affan Kurniawan namanya.
Ia bukan penjahat,
bukan koruptor yang merampok uang negara.
Hidupnya sudah banyak tertindas,
mengapa mati pun harus dilindas?
Ia hanya pengemudi ojek online.
Di rumah kontrakan sederhana,
ia tinggal bersama tujuh anggota keluarga. (2)
Ia tulang punggung,
penopang ayah dan sandaran ibu.
Pekerjaannya tak mudah:
berjibaku di jalanan,
melawan panas dan hujan,
demi satu-dua juta sebulan,
bukan tiga juta dalam sehari, (3)
seperti mereka yang duduk di kursi empuk parlemen.
Ia tak punya tunjangan rumah,
tunjangan beras,
apalagi tunjangan kehormatan.
Kerjanya sering diremehkan:
“hanya” pengemudi ojol,
pekerjaan berat dengan gaji kecil.
Ia bukanlah para pejabat berdasi
yang duduk di kursi bergengsi
tapi masih tega menjadi pencuri.
Ia rakyat, hanya rakyat!
Rakyat yang masih harus membayar pajak.
Pajak itulah yang dipakai untuk menghidupi pejabat,
pajak yang dipakai untuk membeli kendaraan—
kendaraan yang seharusnya melindungi,
bukan melindasnya.
Mengapa begitu tega?
Apakah roda kuasa
lebih berat daripada nyawa seorang anak bangsa?
—000—
Tragedi ini bukan hanya milik keluarga Affan.
Ini milik kita semua.
Betapa hak berdemokrasi
terus menerus berubah jadi tragedi,
dan lagi-lagi, rakyat yang menjadi korban.
Dari jalan raya Pejompongan,
luka itu menjalar
menyakiti hati semua rakyat.
Di mana suara mereka yang terhormat
ketika rakyat bicara soal aspirasi?
Apakah mereka hanya pandai berjoget dalam ruangan, (4)
bersembunyi di balik kekuasaan,
duduk nyaman tanpa beban,
sementara yang dibiarkan bertarung adalah
pelindung rakyat…
dan rakyat itu sendiri.
CATATAN :
(1)https://www.idntimes.com/news/indonesia/11-fakta-demo-28-29-agustus-2025-yang-tewaskan-affan-kurniawan-00-f48mr-thr5rc
(2)https://www.tribunnews.com/metropolitan/2025/08/29/keseharian-affan-kurniawan-tinggal-di-rumah-kontrakan-bersama-7-anggota-keluarganya
(3)https://www.tempo.co/ekonomi/partai-buruh-kritik-gaji-dpr-rp-3-juta-per-hari-2062329
(4)https://www.detik.com/kalimantan/berita/d-8077301/joget-hingga-tunjangan-ini-sederet-aksi-anggota-dpr-yang-tuai-kritikan
