
Kita sebagai manusia pengabdi sudah wajar apabila selalu berharap mendapatkan pahala atau balasan yang berlipat ganda. Ada dalil naqli yang tidak asing lagi bagi kita bahwa Allah SWT akan melipatgandakan balasan amal kita. Bahkan semua amalan akan dilipatgandakan sampai tidak berhingga, dalam bahasa lain mutlak bergantung kehendak Allah SWT. Tentu ada parameter yang menjadi ketergantungan untuk mendapat pahala yang berlipat ganda. Artikel ini menjelaskan parameter yang dominan mempengaruhi besar kecilnya lipatan pahala.
Dalil naqli yang mendasari pemikiran tersebut adalah ada pada QS Al-Baqoroh 261, yakni:
والله يضاعف لمن يشاء والله واسع عليم
“Dan Allah melipatgandakan (pahala) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
Ayat ini menunjukkan bahwa Allah SWT memiliki kekuasaan untuk melipatgandakan pahala bagi siapa saja yang dikehendaki. Allah SWT Maha Luas karunia-Nya dan Maha Mengetahui siapa yang berhak menerima karunia tersebut.
Terkait pada korelasi antara kwalitas keikhlasan ibadah kita terhadap jumlah lipatan pahala yang diberikan oleh Allah SWT, maka jelas berupa berbanding lurus. Logika sederhananya adalah semakin tinggi tingkat keikhlasan maka akan semakin tinggi pula jumlah lipatan pahala.
Lipatan pahala terkecil adalah 700 kali lipat dalam dalil Al-Qur’an, dan 10 kali lipat dalam dalil hadits. QS Al-Baqoroh awal ayat 261 yakni,
مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍۗ
“Perumpamaan (pahala) orang yang menginfaqkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji.
Sedangkan dalam hadits, Rasulullah SAW menyebutkan bahwa lipatan pahala terkecil untuk orang yang berinfaq adalah 10 kali (HR. Bukhari dan Muslim), yakni;
*الله يضاعف الحسنات عشر أمثالها*
“Allah melipatgandakan kebaikan-kebaikan (dengan) sepuluh kali lipat.”
Contoh lipatan pahala yang sangat besar bahkan tidak bisa dihitung, adalah kisah terkenal seorang pelacur. Yakni dikisahkan dari hadis Abu Hurairah radhiallahu’anhu, bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,
غُفِرَ لِامْرَأَةٍ مُومِسَةٍ مَرَّتْ بِكَلْبٍ عَلَى رَأْسِ رَكِيٍّ يَلْهَثُ قَالَ كَادَ يَقْتُلُهُ الْعَطَشُ فَنَزَعَتْ خُفَّهَا فَأَوْثَقَتْهُ بِخِمَارِهَا فَنَزَعَتْ لَهُ مِنْ الْمَاءِ فَغُفِرَ لَهَا بِذَلِكَ
Seorang wanita pezina diampuni oleh Allah. Dia melewati seekor anjing yang menjulurkan lidahnya di sisi sebuah sumur. Anjing ini hampir saja mati kehausan. Si wanita pelacur tersebut lalu melepas sepatunya, dan dengan penutup kepalanya. Lalu dia mengambilkan air untuk anjing tersebut. Dengan sebab perbuatannya ini, dia mendapatkan ampunan dari Allah” (HR. Al Bukhari no.3321, Muslim no.2245) (NU Online-Jabar).
Kembali pada kuantitas lipatan dari yang terkecil 10 kali lipat sampai dengan tidak berhingga, maka dengan tidak sulit bahwa ketergantungan lipatannya adalah tingkat keikhlasan. Kita bisa membayangkan bahwa memberi minum anjing apabila dikonversi ke rupiah mungkin Rp50.000 sudah terlalu mahal, tetapi sebab keikhlasan yang sangat tinggi maka menghasilkan pahala masuk surga. Masuk surga ini apabila dinilai finansial maka tak mungkin dihitung yakni tidak berhingga. Hal ini sebab kita yakini bahwa di surga adalah ber-alam ruang dan alam waktu yang tidak berhingga.
Alhasil, mari kita upayakan selalu meningkatkan kualitas ikhlas kita dalam semua jenis ibadah. Sehingga bisa meraih lipatan pahala sebanyak mungkin. Ikhlas tertinggi adalah hanya lillahi ta’ala yakni karena Allah SWT semata. Niat ini melebihi bagusnya niat mendapat pahala Allah SWT, apalagi hanya karena selain Allah dan pahalanya. Semoga kita bisa melakukan demikian aamiin.
Semoga manfaat barokah selamat dunia akhirat aamiin. 🤲🤲🤲
Surabaya, 6 Robiul Awal 1447 atau 28 Agustus 2025
m.mustain
