
Para Kiai petinggi PWI LS Surabaya yang sangat peduli terhadap sejarah Kiai Pejuang Kemerdekaan berkumpul di Kantor Penerbit Menara Madinah Books. Guna mengikuti Bedah Buku Peran Kiai Dalam Pertempuran 10 November 1945. Bagaimana ceritanya. Berikut ini laporan Pemred menaramadinah.com Drs. Husnu Mufid, M PdI :

Bedah Buku Peran Kiai Dalam Pertempuran 10 November 1945 di Surabaya pada Minggu 24 Agustus 2025 di kantor Penerbit Menara Madinah Jl. Jemurwonosari Gang Lebar No. 100 Wonocolo Surabaya penuh dengan semangat juang. Diikuti secara terbatas oleh petinggi PWI LS Surabaya. Yang terdiri dari para kiai yang sangat santun dan peduli kepada sejarah perjuangan para kiai terdahulu.
Adapun para petinggi Kiai Kiai PWI LS Surabaya yang hadir adalah 1.Drs. KHR.Ismail, 2. Kiai Zainal Arifin. 3. Kiai Syahir, 4.Soatani Surahman, 5. Kiai Abdul Ghofar Nur Hadi, 6. KH.Abdul Muin SH, 7. Kiai Budi Setiawan, 8. Kiai Joko Murijantono 9. Kiai Abdullah Faqih, 10. Kiai Riegison dan sebagainya.
Awal acara dilakukan penyerahan Kitab Basab Karya KH. Imaduddin Al Bantani. Diserahkan oleh Ketua PC PWI LS Surabaya KHR. Ismail kepada KRT. Drs. Husnu Mufid. M.PdI Direktur Utama Penerbit Menara Madinah Books selalu penyelenggara Bedah Buku. Suasanapun menjadi hangat.
Kemudian dilanjutkan sambutan dan baca PUISI oleh KHR. Ismail dengan lantang menusuk telinga dan jiwa. Karena isi puisinya menyendiri keberadaan Habib Baalawi dan puisi ini dihadiahkan kepada KH. Imaduddin Al Bantani. Tokoh mujahit pembongkar kepalsuan Nasab Habib Baalawi.
Usai baca puisi dilanjutkan Bedah Buku. Para Kiai Petinggi PWI LS Surabaya mengawali dengan membaca buku karya KRT. Drs. Husnu Mufid, M.PdI dan mendengarkan pemaparannya.
Kemudian bertanya tentang jumlah Kiai yang ikut bertempur di Surabaya. Mereka menyatakan banyak sebenarnya. Tidak hanya 21 orang Kiai seperti tertera dibuka tersebut. Juga tidak ada Habib Baalawi yang ikut berjuang melawan Belanda pada Agresi Militer pertama dan kedua.
Pertanyaan tersebut dijawab oleh KRT. Drs. Husnu Mufid, M.PdI bahwa akan menulis kiai kiai yang ikut bertempur pada 10 November 1945. Khususnya yang tinggal di Surabaya. Sehingga jumlahnya akan semakin banyak. Mengingat zaman dulu banyak kiai yang tidak ingin ditulis dalam buku.
Dari saling tanya dan menjawab serta memberi masukan. Selanjutnya para kiai PWI LS Surabaya itu menyimpulkan dan sepakat dari hasil pemaparan Drs. Husnu Mufid M.PdI selaku penulis buku Peran Kiai Dalam Pertempuran 10 November 1945 bahwa Habib Ba’alawi tidak ada yang terlibat dalam pertempuran 10 November 1945. Malahan mendukung Belanda. Padahal Surabaya merupakan bagusnya Habib Baalawi. Dibuktikan banyak rumah dan toko toko bangunan gedung yang megah kala itu.
Bahkan dengan bukti lagi tidak ada Habib Baalawi yang di Penjara Kalisosok. Melainkan Kiai pribumi yang dipenjara. Salah satunya KH. Mas Mansur yang meninggal di Penjara Kalisosok Surabaya. Kini menjadi Pahlawan Nasional dan makamnya disebelah Masjid Ampel Surabaya.
Suasana Bedah Buku sangat hidup. Seluruh Kiai yang hadir menyampaikan pendapatnya dan memberi masukan agar Kiai Kiai yang ikut berjuang dimasukkan ke buku. Karena jumlahnya sangat banyak. Sehingga tercatat dalam buku dan nantinya, diketahui anak cucu akan datang.
Tak terasa jam menunjukkan pukul 16.00 wib acara Bedah Buku diakhiri dan dilanjutkan sholat Ashar berjamaah di Musholla Al Ikhlas di imami Kiai Abd Ghofar Nur Hadi.
Usai sholat Ashar kembali ke kantor Penerbit Menara Madinah Books lantai 2 untuk menyatakan sikap mendukung tuntutan terhadap Perusakan Cagar Budaya Makam Sunan Bonang dari Surabaya hingga Jakarta dipimpin KH. Abd Muin. SH. suasanapun menjadi genggap gempita disertai yel yel PWI LS Surabaya.
Seluruh peserta yang terdiri dari para kiai PWI LS Surabaya diakhir Bedah Buku merasa senang dan bahagia. Terlihat semakin kompak. Bersalaman saat mau pulang dengan wajah ceria.
