Diamnya PBNU, Kritik KH. Khalwani dan Prof. Anhar Gonggong Terhadap Habib Lutfi bin Yahya

 

Catatan Drs. Husnu Mufid. M.PdI Dirut Penerbit Menara Madinah Books.

 

Hingga saat ini PBNU masih  memilih diam soal pembahasan Nasab Habib Baalwi. Termasuk kepada Habib Lutfi bin Yahya pendiri Jatma Aswaja yang berani merubah sejarah NU dan Jatman.

Kritik ini datang dari pucuk kepemimpinan resmi tarekat Jatman  dalam tubuh Nahdlatul Ulama (NU)  yaitu Kyai Chalwani sejak lama.

“Saya tidak benci pada Habib Luthfi,” ujar Kyai Chalwani dalam sebuah forum resmi. “Tapi sejarah tidak boleh dimanipulasi.”

Kyai Chalwani menegaskan bahwa PBNU sebenarnya sudah mengetahui adanya perbedaan narasi tersebut. Namun, pusat organisasi memilih diam.

Diam ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah sikap itu bentuk kehati-hatian untuk menjaga stabilitas, atau justru tanda pembiaran yang memberi legitimasi pada narasi baru?

Sejarawan Prof. Anhar Gonggong pernah mengatakan dalam wawancara. “Sejarah yang didiamkan ketika dipelintir, lama-lama akan menjadi kebenaran baru.

Diam bisa berarti menyetujui tanpa kata. Dalam konteks NU, sikap semacam ini amat berbahaya karena menyangkut identitas organisasi terbesar umat Islam Indonesia.

Ditambah lagi terbit  buku berjudul Cahaya dari Nusantara  sejarah NU yang  terkait dengan Habib Luthfi. Kakeknya salah satu pendiri NU.

Menanggapi buku Cahaya Nusantara Habib Lutfi bin Yahya bahwa NU memiliki tradisi dokumentasi sejarah yang kuat.  Jika kini narasi sejarah  resmi bisa diganti oleh tafsir baru oleh Gabib Lutfi bin Yahya, hal itu akan  merusak fondasi NU. Ini harus diluruskan.

Ingat ormas NU dan JATMAN bukanlah milik perorangan. Merupakan  warisan ulama besar yang mendirikan dan merawatnya dengan darah, keringat, dan doa. Menjaga warisan itu berarti menjaga kejujuran sejarah.

Lantas  Prof. Anhar Gonggong, menyatakan,  “Sejarah yang benar kadang pahit, tetapi justru di situlah martabat organisasi diuji.”

Dalam riset akademik  yang dilakukan oleh KH Imaduddin Utsman al-Bantani, Prof. Dr. Manachem Ali (filolog Universitas Airlangga), dan Dr. Sugeng Sugiarto (ahli genetika) justru menunjukkan bahwa nasab Ba‘alwi tidak memiliki landasan kuat secara filologis, historis, maupun genetik.

Sejarah penulisan silsilah yang bersandar pada karya Ali al-Sakran abad ke-9 tanpa sumber primer otentik menjadi titik lemah yang dipertanyakan oleh para sejarawan.

Namun di sisi lain, sejarawan seperti Prof. Dr. Anhar Gonggong menekankan bahwa kedekatan ulama dengan kekuasaan harus diukur dengan kontribusinya pada rakyat, bukan sekadar pada rezim yang berkuasa.

Dalam berbagai forum, Habib Luthfi sering menegaskan kontribusi besar klan Ba‘alwi dalam perjuangan kemerdekaan. Namun, penelitian sejarah menunjukkan hal yang sebaliknya.

Prof. Dr. Anhar Gonggong menegaskan bahwa perjuangan bangsa Indonesia dari abad ke-19 hingga kemerdekaan tahun 1945 digerakkan oleh tokoh-tokoh pribumi, baik dari kalangan ulama Nusantara maupun nasionalis, bukan oleh Ba‘alwi.

Bahkan, catatan sejarah menunjukkan adanya figur Ba‘alwi yang justru dekat dengan kolonial, misalnya Habib Utsman bin Yahya yang diangkat Belanda sebagai Mufti. Fakta ini penting diungkap agar publik tidak termakan narasi “sejarah rekayasa” yang mengagungkan peran Ba‘alwi.

Perlu diketahui Habib Luthfi bin Yahya juga dikenal sebagai figur sufi dengan basis tarekat. Akan tetapi, Kyai Chalwani, seorang ulama kharismatik yang dihormati di pesantren, secara terang-terangan mengingatkan agar masyarakat berhati-hati terhadap ajaran dan klaim yang tidak sesuai dengan manhaj ulama Nusantara.

Menurut Kyai Chalwani, hubungan dengan Allah harus ditempuh melalui jalan syariat yang lurus dan tarekat yang benar, bukan melalui glorifikasi garis keturunan. Kritik ini sejalan dengan pendapat banyak ulama thariqah Naqsyabandiyah yang menekankan pentingnya mursyid sejati, bukan hanya figur populer.