Aurel Vinka’ Anak PKH’ Jago Nulis Cerpen dari SMA Negeri 1 Kecamatan Kandangan Kabupaten Kediri

Kediri-MenaraMadinah. Com Jum’at Wage, 15 Agustus 2025 sore yang cerah, gadis remaja anak PKH yang memiliki berbagai hobi yang ditekuni hingga menghasikan berbagai prestasi antara lain ‘menulis’ dengan ramah dan sopan berkata; ”Halo, perkenalkan nama saya Aurel Vinka, seringkali dipanggil Aurel”.

Aurel adalah putri dari Bapak Mujiono dan Ibu Winarmi, tinggal di Jl. Sooko, DesaKandangan, Kecamatan Kandangan, Kabupaten Kediri, Provinsi Jawa Timur.

Saat ini Aurel baru naik ke kelas XI IPS 6 di SMAN 1 Kandangan.

Inilah beberapa hobinya, di antaranya: menggambar, mengedit video maupun foto, menulis (seperti cerpen, puisi, dan karya sastra lainnya), serta menari, baik tari tradisional maupun modern dance. Lebih lanjut dia berkata: “Saya juga senang mendengarkan musik saat beraktivitas namun, dari semua hobi tersebut, ada satu yang paling saya sukai, yaitu membaca”.

Aurel menjelaskan bahwa di tengah menurunnya minat literasi pada zaman sekarang, Aurel mengaku merasa senang masih bisa menikmati membaca sebagai salah satu kegiatan favorit nya.

Selain hobi, diatas Aurel juga memiliki beberapa pengalaman yang berkesan.

Dulu Aurel berberapa kali pernah mengikuti pentas seni tari bersama sanggar, meskipun hanya sebatas pertunjukan dan bukan perlombaan. Tahun lalu, tepat pada 17 Agustus 2024, saya ikut serta dalam tari kolosal bersama tim tari dari SMAN 1 Kandangan di Lapangan Ngrangkok untuk memeriahkan perayaan Hari Kemerdekaan.
Tahun ini, dia juga mendapat kesempatan untuk mengikuti lomba menulis cerpen FLS3N tingkat kabupaten, dan alhamdulillah berhasil meraih Juara 1.

“Waktu itu, saya tahu informasi lomba cipta cerpen ini dari guru Bahasa Indonesia saya, dan saat itu saya langsung minat untuk mengikuti lomba tersebut”: jelas Aurel dengan senyum manis.

Aurel berkata lagi: “Tapi pastinya sekolah menginginkan yang terbaik untuk maju mewakili sekolah, oleh karena itu diadakanlah seleksi”.

Waktu itu dia mengikuti seleksi bersama beberapa anak lainnya dan kami tahu bahwa hanya satu anak yang akan dikirim untuk mengikuti lomba menulis cerpen.
“Saya tidak pesimis, tapi saya juga tidak berekspektasi lebih akan lolos pada tahap seleksi ini”: jelas Aurel.

Namun, suatu ketika… tanpa diduga, Aurel terpilih untuk mewakili sekolah. Sejak itu, dia mulai giat berlatih menulis cerpen untuk menyiapkan lomba agar bisa mendapatkan hasil yang memuaskan.

Waktu itu Aurel mendapat banyak sekali dukungan dari guru-guru nya, terutama Bu Rafi. Aurel tidak hanya berlatih menulis cerpen satu tema saja, tapi mencoba semua tema yang sudah ditentukan oleh juknis, dan beberapa hari sebelum lomba, dia telah menentukan cerpen bertemakan apa yang siap dia angkat nantinya.

Berikut ini adalah keterangan singkat cerpen karya Aurel yang membanggakan itu, cerpen berjudul “Tangan Ketiga” dengan tema kepedulian.

Cerpen Tangan Ketiga mengisahkan masa depan ketika manusia hidup tanpa emosi akibat kendali chip neuro-regulator. Raka, seorang teknisi, mengalami kerusakan chip sehingga kembali merasakan kepedulian dan menemukan fakta bahwa manusia memiliki backup emosi yang disimpan terpisah dari tubuh asli. Konflik muncul ketika ia bertemu Fragmen Rasa, representasi emosi dasar yang memiliki tujuan berbeda. Cerita ini menghadirkan plot twist tentang hakikat kemanusiaan dan menegaskan bahwa kepedulian bukan kelemahan, melainkan kunci untuk menyelamatkan dunia.

Aurel dalam kesempatan ini ingin menyampaikan sebuah motivasi untuk anak muda di luar sana, khususnya bagi teman-teman penerima PKH seperti dia.
“Walaupun kita termasuk golongan penerima PKH, bukan berarti kita tidak bisa berprestasi”: kata Aurel dengan penuh semangat.

Lebih lanjut Aurel mengatakan bahwa justru dari keterbatasan itulah kita bisa membuktikan bahwa dengan kemauan, kerja keras, dan semangat yang tinggi, kita mampu menjadi hebat dan membawa perubahan positif bagi diri sendiri maupun orang lain. serta engan kemauan yang kuat, kerja keras tanpa henti, dan semangat pantang menyerah, kita mampu membuktikan bahwa kita bisa berdiri sejajar dengan siapa pun. Ingatlah, itu bukan soal dari mana kita berasal, tetapi tentang bagaimana kita berjuang dan membuktikan diri.

Apa yang disampaikan oleh Aurel itu juga senada dengan yang disampaikan oleh Pendamping PKH Desa Kandangan Nia Kumalasari, yang akrab dipanggil Mbak Nia. Semoga semakin banyak Anak-anak PKH yang berprestasi dan memiliki semangat belajar yang tinggi, seperti Aurel yang bercita-cita belajar sampai pendidikan tinggi, dan kita do’a kan Aurel nanti betul-betul menjadi sarjana sastra Indonesia sebagai mana cita-citanya.
Nur Habib, mengabarkan.