Kesehatan: Nikmat yang Sering Terlupakan .

Oleh : Dr. dr. H. Sukma Sahadewa, Sp.KKLP., M.Kes.

Satu tahun lalu, seorang sahabat saya yang masih berusia 40 tahun tiba-tiba jatuh sakit. Awalnya hanya keluhan lelah dan pusing ringan. Ia mengabaikannya, menganggap itu akibat bekerja terlalu keras. Hingga suatu pagi, ia tidak mampu bangun dari tempat tidur. Setelah dibawa ke rumah sakit, hasil pemeriksaan menunjukkan fungsi ginjalnya menurun drastis. Sejak itu, hidupnya berubah total. Aktivitas yang dulu sederhana seperti berjalan santai, menggendong anak, atau sekadar berbelanja ke pasar, kini menjadi hal yang mahal. Saat kami berbincang, ia berkata dengan mata berkaca-kaca, “Kalau saja dulu saya mau menjaga kesehatan, mungkin saya tidak harus menjalani ini semua.”

Kita sering menganggap sehat sebagai hal yang wajar, sampai suatu hari tubuh memberi peringatan keras. Rasulullah pernah mengingatkan dengan tegas, “Ada dua nikmat yang kebanyakan manusia tertipu di dalamnya: kesehatan dan waktu luang” (HR. Bukhari). Pesan ini jelas: kesehatan adalah salah satu aset terbesar yang kita miliki, namun ironisnya, ia sering diabaikan hingga hilang.

Kita tertipu karena mengira sehat akan selalu ada. Selama tubuh masih sanggup bekerja, kita merasa bebas mengabaikan pola makan, menunda olahraga, atau memaksakan begadang demi hiburan. Kita lupa bahwa kesehatan memiliki batas, dan batas itu sering kali tak terlihat sampai terlambat.

Sehat adalah modal utama untuk beraktivitas, meraih prestasi, dan beribadah dengan baik. Tanpa kesehatan, uang sebanyak apa pun bisa habis untuk biaya pengobatan. Tanpa kesehatan, pekerjaan akan tertunda, mimpi terpaksa berhenti, bahkan ibadah pun menjadi berat. Tubuh ini adalah titipan dari Allah, dan setiap titipan harus dijaga sebaik-baiknya. Menjaga kesehatan berarti menjalankan amanah, bukan sekadar pilihan pribadi.

Di zaman sekarang, tantangan menjaga kesehatan justru semakin besar. Makanan cepat saji yang tinggi gula, garam, dan lemak ada di setiap sudut kota. Gawai membuat kita betah duduk berjam-jam, jarang bergerak. Media sosial membuat kita rela terjaga hingga larut malam, mengorbankan waktu tidur yang seharusnya memulihkan tubuh. Perlahan-lahan, semua kebiasaan ini menggerogoti nikmat sehat tanpa kita sadari.

Padahal, Islam sejak lama mengajarkan prinsip hidup sehat. Rasulullah mencontohkan makan secukupnya, menjaga kebersihan tubuh dan lingkungan, rutin bergerak, dan membagi waktu antara bekerja, beristirahat, dan beribadah. Semua itu adalah bentuk perawatan tubuh yang sederhana namun efektif.

Kesehatan mental pun tak kalah penting. Banyak orang terlihat bugar secara fisik, tetapi menyimpan beban pikiran yang berat. Stres, kecemasan, dan depresi adalah racun halus yang menggerogoti tubuh. Islam mengajarkan ketenangan hati dengan bersyukur, berdzikir, berdoa, dan bersikap sabar. Jiwa yang tenang membuat tubuh lebih kuat melawan penyakit.

Hadis tadi mengaitkan kesehatan dengan waktu luang. Keduanya adalah peluang emas yang sering terbuang. Sehat memberi energi untuk memanfaatkan waktu dengan produktif, sementara waktu luang memberi kesempatan untuk merawat kesehatan. Sayangnya, banyak orang mengisi waktu luangnya dengan kebiasaan yang merusak tubuh, bukan merawatnya.

Kesadaran saja tidak cukup. Kita perlu aksi nyata: memilih makanan bergizi, rutin bergerak, cukup tidur, mengelola stres, dan memeriksakan kesehatan secara berkala. Jauhkan diri dari rokok, minuman beralkohol, atau gaya hidup yang melemahkan tubuh. Gunakan masa sehat untuk hal-hal bermanfaat, bekerja, belajar, membantu orang lain, dan memperbanyak ibadah.

Sahabat saya tadi kini menjalani hidup dengan lebih hati-hati. Setiap kali ia menjalani cuci darah, ia selalu mengingatkan orang-orang di sekitarnya untuk menjaga kesehatan sejak dini. Pesannya sederhana, tapi membekas, “Jangan tunggu sakit untuk mulai menghargai sehat.”

Sehat memang mahal. Tapi jauh lebih mahal lagi jika kita baru menyadarinya ketika ia telah pergi. Karena itu, mari syukuri dan rawat kesehatan hari ini selagi kita masih bisa bergerak, bernapas, dan tertawa tanpa rasa sakit. Gunakan nikmat ini untuk kebaikan, sebelum datang hari di mana kita hanya bisa menyesal karena lalai menjaganya.