Makna Hibah Tanah Untuk Pura Natasari Kiswara Pasuruan

Pasuruan-menaramadinah.com-Pada tanggal Kamis, 10 Juli 2025, berlangsung sebuah peristiwa sakral dan mengharukan di Dusun Wonorejo, Tosari, Pasuruan, wilayah Suku Tengger. Acara ini dihadiri oleh tokoh-tokoh adat dan spiritual, di antaranya Romo Sepuh,

Pangeran Panji Srie Soeputro Jowo uja Ciptonagoro (mr.abie/mas billy)
selaku Ketua DP Matra Jawa Timur (Dewan Pengurus Masyarakat Adat Nusantara), dan perwakilan warga setempat.

✨ Isi dan Arti Penting Acara:
Hibah Tanah Senilai Rp 300 Juta

Sebidang tanah seluas 17m x 30m (± 510 m²) diwakafkan atau dihibahkan untuk kepentingan spiritual dan adat — tepatnya untuk perluasan Pura Natasari Kiswara.

Tanah tersebut sebelumnya milik warga dan ditebus oleh DP Matra Jatim, kemudian diserahkan kembali kepada masyarakat Suku Tengger untuk tempat ibadah.

Simbol Kesatuan dan Toleransi

Acara ini tidak hanya bentuk penguatan budaya dan spiritual Hindu Tengger, tetapi juga menjadi simbol toleransi antaragama dan adat di Nusantara, dengan pelibatan semua unsur—baik adat, agama, maupun masyarakat sipil.

Momen Penuh Haru

Dalam video tersebut, Romo dan para tokoh bahkan menitikkan air mata karena merasa haru atas kebesaran hati, ketulusan niat, dan keberkahan dari proses ini.

“Semoga tanah ini membawa manfaat dan faedah bagi umat Hindu Tengger dan masyarakat luas,” begitu harapan yang diungkapkan dengan suara penuh getaran batin.

Disaksikan Tokoh-tokoh Lokal

Hadir pula tokoh masyarakat seperti Pak Kasun (kepala dusun), warga sekitar, serta tokoh adat dan pemilik tanah yang turut menyaksikan dan mengamini acara tersebut secara langsung.

🔥 Makna Simbolis & Filosofis
Ini bukan sekadar hibah atau pelunasan pembebasan lahan biasa, tetapi penyerahan cinta tanah leluhur kepada anak cucunya, demi kelangsungan spiritualitas dan identitas suku adat.

Romo dan para tokoh menyampaikan bahwa tanah suci harus kembali kepada fungsinya sebagai tempat penyambung langit dan bumi—dalam hal ini, Pura sebagai pusat ibadah dan pelestarian keyakinan.

🙏 Kesimpulan:
Air mata yang tumpah dalam video ini adalah air mata syukur dan cinta kepada leluhur serta tanah air. Hibah tanah untuk Pura ini menjadi aksi nyata dari filosofi “Hamemayu Hayuning Bawana”—merawat dan menjaga keindahan serta keseimbangan dunia.