Menyaksikan Cinta Leluhur

Catatan  : KPP.SRIE SOEPUTRO JOWO UJA CIPTONAGORO KETUA MATRA DPW JAWA TIMUR

Renungan Batin: Tangisan Saat Menyaksikan Cinta Leluhur
Aku tidak sekadar menonton sebuah video.
Aku menyaksikan sebuah jiwa yang bicara,
melalui tubuh renta seorang Romo yang tak henti mendoa.
Tangannya menggetarkan bumi,
air matanya menyentuh langit.

Ketika tanah dihibahkan,
aku tidak hanya melihat sebidang lahan berpindah tangan—
aku melihat cinta yang diserahkan,
pengabdian yang ditanamkan,
dan doa leluhur yang dilanjutkan.

Air mata itu bukan karena sedih,
melainkan karena jiwa ini merasa pulang.
Pulang pada nilai-nilai yang hilang:
ketulusan, pengorbanan, kesucian niat.

Saat Romo berbicara,
aku mendengar gema yang lebih dalam daripada suara:
suara leluhur,
suara bumi,
suara nurani.

Dan saat semua orang diam,
hatiku justru berkata-kata.
Ada sesuatu dalam diriku yang ikut runtuh,
bukan karena lemah,
tapi karena tersadar:
inilah Indonesia yang sesungguhnya.

Bangsa yang dibangun bukan dari batu dan baja,
melainkan dari air mata doa,
peluh pengabdian,
dan cinta yang tak meminta balasan.

💧 Tangis Ini Bukan Tangis Biasa…
Ini adalah tangis yang mengandung makna:

Tangis penghormatan atas nilai suci tanah dan adat.

Tangis kerinduan pada dunia yang lebih jujur, lebih manusiawi.

Tangis kesadaran bahwa di balik kesederhanaan, tersembunyi kemuliaan yang agung.

Tangis jiwa yang terhubung kembali dengan akar leluhur.

🙏 Penutup Jiwa
Bukan aku yang menangis,
tapi jiwa Nusantara dalam diriku yang bergetar.
Menangis bukan kelemahan—
ia adalah cara jiwa berkata bahwa ia masih hidup.

Dan hari ini, aku tahu:
Air mata ini adalah berkah.
Karena aku masih bisa merasakan cinta,
cinta kepada tanah, leluhur, dan jalan pulangku.