Jalan Sunyi Para Kyai Kampung, dan Keheningan yang Ditinggalkan

Oleh Mugamad Tajul Mufachir.

Di Pemalang, bentrok antara Laskar FPI dan PWI LS belum lama ini menjadi sorotan publik. Dua kelompok kecil namun vokal itu—satu menisbatkan diri pada Sadah Ba‘alawi, satu lagi mengusung panji Sadah Walisongo—beradu gagasan, bahkan fisik, demi memperjuangkan apa yang mereka yakini sebagai kemurnian dakwah. Sayangnya, dunia yang mereka ributkan sudah tak sama lagi. Saat mereka saling bersuara keras, generasi muda berjalan ke arah lain—lebih sunyi, lebih personal, lebih jauh dari keramaian masjid dan pekik spanduk agama.

Survei PPIM UIN Jakarta (2021) menunjukkan bahwa mayoritas anak muda Muslim masih percaya kepada Tuhan, namun semakin renggang dari agama sebagai institusi. Mereka mendekat, tapi tidak dalam barisan. Mereka mencari, tapi bukan dalam panggung ceramah. Mereka menemukan Tuhan dalam sunyi, bukan dalam agitasi. Ini bukan hanya tren nasional. Di Kabupaten Nganjuk, fenomena ini bisa dilihat dengan jelas. Jamaah pengajian semakin menua, langgar-langgar desa lebih sering sepi, dan generasi baru lebih nyaman menggulir video dakwah 60 detik ketimbang mengaji tafsir berjam-jam.

Namun, di balik fenomena itu, ada yang lebih mengkhawatirkan: ruang kosong spiritual yang tidak terisi ini dengan cepat direbut oleh kelompok-kelompok radikal. Di Nganjuk sendiri, gejala radikalisme perlahan masuk melalui masjid-masjid tertentu, sekolah informal, dan grup-grup media sosial. Narasi hitam-putih, ajakan untuk hijrah yang eksklusif, serta doktrin anti-kebudayaan lokal menjadi makanan sehari-hari. Ketika agama kehilangan kehangatan, ia akan digantikan oleh suara-suara keras yang menawarkan kepastian semu. Maka tak heran, beberapa remaja mulai mempertanyakan tahlil, mencemooh selamatan, bahkan membid’ahkan guru-guru mereka sendiri.

Dalam konteks ini, penting untuk mengingat kembali pemikiran Nahdlatul Ulama (NU) yang selalu menekankan tasamuh (toleransi), tawazun (keseimbangan), ta‘adul (keadilan), dan tawassuth (moderat). NU tidak hanya mengajarkan Islam sebagai dogma, tapi sebagai kebudayaan dan peradaban. Ulama-ulama NU—khususnya para kiai kampung—adalah pengawal tradisi itu: mereka bukan hanya pembaca kitab, tapi juga penjaga harmoni desa. Mereka menyambungkan langit dan bumi, mengimami salat sekaligus memberi solusi bagi konflik rumah tangga, panen, hingga warisan.

Sayangnya, eksistensi para kiai kampung hari ini semakin terdesak. Mereka bekerja dalam diam, tanpa sorotan kamera, tanpa insentif yang layak. Salah satu contoh nyata adalah Kiai Zuhdi di Demak, Kasus guru madrasah diniyah (madin) di Ngampel, Karanganyar, Demak yang terpaksa menjual motor demi membayar denda Rp25 juta akibat tindakan pembinaan kepada siswa mencerminkan wajah pilu dunia pendidikan keagamaan nonformal. Di tengah pengabdian sunyi dan tanpa jaminan kesejahteraan, guru madin justru rentan dikriminalisasi, menunjukkan lemahnya perlindungan hukum dan minimnya penghargaan negara terhadap peran strategis mereka dalam membentuk karakter generasi bangsa. Kasus itu adalah tamparan keras terhadap betapa pemerintah masih belum benar-benar berpihak kepada para pejuang pendidikan agama akar rumput.

Di Nganjuk sendiri, ribuan guru madin dan TPQ bekerja tanpa gaji tetap. Mereka belum sepenuhnya masuk dalam radar perhatian APBD. Mereka tidak punya akses dana BOS. Meski telah ada upaya, sebagaimana adanya insentif guru madin Kabupaten Nganjuk namun radar dan skalanya masih jauh dari harapan bersama. Padahal, dari tangan merekalah, ribuan anak belajar iqra, akhlak, dan mengenal agama sejak dini. Ketika pemerintah lebih sibuk membangun infrastruktur fisik ketimbang memperkuat fondasi spiritual, maka jangan heran bila banyak anak muda akhirnya lebih kenal tokoh radikal TikTok ketimbang guru ngajinya sendiri.

Ironisnya, saat para pewaris tradisi sibuk saling berebut klaim kemurnian, generasi baru sudah lama meninggalkan arena. Mereka tidak peduli siapa paling benar. Mereka hanya ingin didengar. Tapi bagaimana bisa mendengar jika semua bicara keras? Kebenaran tak harus menang. Ia hanya perlu didengar. Tapi siapa yang mau mendengar jika semua bicara keras? Agama kehilangan wibawanya bukan karena ia tua, tapi karena para pengusungnya menua tanpa belajar diam.

Barangkali jawaban dari semua ini adalah kembali ke akar: berikan ruang dan penguatan kepada kiai kampung. Berikan penghargaan yang layak bagi guru madrasah. Bangun kebijakan afirmatif untuk pendidikan diniyah. Dan yang paling penting: ubah cara berdakwah. Anak-anak muda hari ini bukan penolak agama. Mereka hanya menolak otoritas yang tak membumi. Maka, dekati mereka dengan cinta, bukan klaim. Ajak mereka berdialog, bukan diinterogasi.

Nahdlatul Ulama harus kembali menghidupkan keulamaan lokal, memperbarui cara komunikasi dakwah, dan menjadi payung yang teduh bagi semua pencari kebenaran—baik yang masih di surau maupun yang sedang mencari Tuhan dalam kesendirian layar.

Karena jalan kebenaran bukan di medan teriakan, melainkan di jalan sunyi yang dijaga oleh mereka yang ikhlas. Dan di jalan sunyi itulah, peran kiai kampung akan tetap relevan—bukan karena mereka bising, tapi karena mereka hadir.

*Muhamad Tajul Mafachir*
_Pengasuh PP. Asy-Syafi An-Nawawi Kutorejo & Penyuluh Agama Islam KUA Bagor Nganjuk_