Paguyuban Penghayat Kapribaden

Paguyuban Penghayat Kapribaden (Kapribaden) terdaftar pada :
Terdaftar pada DEPDIKBUD R.I. : No. 1.099/F.3/N.1.1/1980
Terdaftar pada DEPDAGRI sesuai UU No. 8/1985
Terdaftar pada Kejaksaan Agung R.I. : No. 250 tahun 1986
Tanda Pemaparan Ajaran oleh DEPDIKBUD R.I. : No. 31/F.6/F.5/1988
Pengumuman Pemerintah tentang Organisasi Organisasi Kemasyarakatan yang Sah Tingkat Nasional, bernomor 324.
Surat Keterangan Terdaftar di DEPDAGRI No : 29/D.III.3/III/2008.
SEJARAH KAPRIBADEN

Pada tanggal 29 April 1978, dihadapan 5 orang Putro, Romo menerbitkan satu-satunya Sabdo Tinulis, dengan huruf Jawa (Honocoroko), yang berbunyi :
ROMO Mangestoni, Putro-Putro Kudu Ngakoni Putro ROMO

Sekalipun Putro yang menghadap waktu itu 5 (lima) orang, yaitu Dr. Wahyono Raharjo GSW, MBA (Alm), Ibu Hartini Wahyono, Drs. Soehirman, S. Parmin (Alm) dan Sakir. Tetapi Romo menyebut yang menghadap 4 orang, karena Wahyono dan Istrinya, bagi Romo selalu dihitung satu. Bahkan
beliau dawuh, kalau yang sowan saat itu tidak ada wanitanya, maka akan ditinggal tidur oleh Romo.

Sabdo tinulis itu ditulis pada tutup kue dadar-gulung berwarna merah-putih. Penjelasan Romo : “ditulis ono tutup, kareban Putro-Putro podo nyawang mengisor, sebab Putro-Putro isih pada nyawang menduwur. Ben podo nyawang sing urip ono ngisor kreteg”.

Putro Putro yang sowan didawuhi memperbanyak sabda tinulis itu dan menyebar-luaskan ke semua Putro. Putro Putro yang menghadap saat itu mohon petunjuk cara ”ngakoni Putro Romo”. Dan Romo ndawuhi membentuk Paguyuban yang kemudian bernama Paguyuban Penghayat Kapribaden. Sesuai dengan KTP Romo Semono maupun ibu Tumirin, tertulis Kapribaden.

Dr. Wahyono sampai 3 kali menolak, dengan alasan : “mangke mboten wurung nami / wahyono pun dhadhosaken ontran-ontran ing kalangan Putro Putro”. Kemudian Romo dawuh : “Siro ora pareng nolak, amorgo iki wis dikersakake Moho Suci”. Maka dengan sangat berat Dr. Wahyono akhirnya menyatakan sanggup. Dr. Wahyono mengemukakan syarat atau permintaan kepada Romo :
“Dalem sagah, nanging nyuwun Romo Dhawuhi langsung Putro Putro, supados sampun ngantos Putro Putro nginten wontenipun paguyuban saking kajengipun Wahyono” Romo menyanggupi (bisa di cek melalui Bapak S. Soenarjo, Surabaya. Beliau langsung didawuhi Romo, tidak melalui Dr.
Wahyono, bahkan kemudian Romo sendiri membagi-bagikan formulir bagi Putro-Putro)

Sewaktu 5 orang Putro yang sowan itu pamit pulang, sampai di depan kamarnya Romo Semono, lengan Dr. Wahyono beliau pegang dan disuruh menunggu di depan kamar Romo Semono. Ternyata beliau mengambil sesuatu yang dibungkus kain merah. Kain merah pembungkusnya beliau buang di
lantai. Ternyata isinya sebatang tongkat berwarna coklat kehitam-hitaman. Tongkat itu ternyata dari Galih Kelor. Lalu beliau berikan kepada Dr. Wahyono dengan disertai sabdo : “Iki tongkat komando,
jeneng siro wis ngerti tegese. Sopo wae sing mbangkang, sektiyo, Digdhayoa koyo ngopo, mbok dhudhul iki mesti modar. Siro ora usah was sumelang amargo sakabeheing bolo sirolah bakal sabiyantu marang jeneng siro. Iki sabdane Moho Suci, Tampanana” dari 4 orang yang berdiri di
belakang Dr. Wahyono, saat itu ada 2 orang yang terlempar sampai membentur dinding di seberang.

Persiapan persiapan dilakukan. Saat itu sangat berat dan sulit, mengingat keberadaan Putro Romo masih dilarang oleh pihak pemerintah Orde Baru. (kemudian baru diketahui bahwa alasan sebenarnya adalah karena Bung Karno adalah Putro Romo, sehingga Romo Semono dicap sebagai gurunya Soekarno). Jadi berbagai langkah strategis dan taktis terpaksa dilakukan, dan akhirnya Paguyuban Penghayat Kapribaden bisa diresmikan berdirinya. Upacara ritual dilakukan di Sanggar Sasono Adiroso, sedang upacaranya di Anjungan Mataram Taman Mini Indonesia Indah. Tepatnya
malam Senen Pahing 30 Juli 1978.

Sebelum peresmian, Putro Putro Jakarta sowan Romo dulu untuk mohon petunjuk. Kemudian, Dr. Wahyono diantar Bapak S. Hoetomo, menggunakan kendaraan kadhang Hendra Yudianto, yang juga ikut, 2 bulan keliling ke daerah-daerah, tanpa pulang, untuk membentuk Paguyuban di daerah-daerah, sekaligus mengantarkan pengurus di daerah mendaftar ke 5 instansi pemerintah. Kalau provinsi ke 7 instansi, Pusat ke 9 instansi. Ini agar Kapribaden diakui sah menurut Undang-Undang Negara. Tidak hanya resmi diakui Pemerintah. Kemudian dengan wadah Paguyuban Penghayat Kapribaden, bisa dipaparkan Paringan dan Wulang Wuluk Romo (secara umum disebut ajaran), sehingga diakui sah, yang berarti sah kalau dijalani, disampaikan kepada orang lain, di wilayah hukum Republik Indonesia. Itulah sejarah singkat adanya Paguyuban Penghayat Kapribaden. Tentu saja dalam kesempatan ini tidak dibeberkan secara lengkap, termasuk betapa besar kesulitan yang harus dihadapi dan betapa besar pula pengorbanan Putro Putro serta resiko yang dihadapi waktu itu.

Totok Budiantoro

Koresponden MM.com.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *