
Pemalang-menaradinah.com-Dpd Pwi Ls Kab Pemalang Jawa Tengah Randudongkal, 28 Juni 2025 — Malam ini, Sabtu malam Minggu, suasana spiritual dan budaya bersatu dalam satu tarikan napas dalam acara diskusi budaya bersama Ustadz Imron dan Bapak H. Slamet Sungkowo, membedah makna terdalam dari filsafat, hakekat tasawuf, dan seni budaya Sintren. Acara yang digelar menjelang pementasan Sintren esok hari dalam RAKORDA PWI LS Randudongkal ini menjadi titik temu antara kearifan lokal dan pemaknaan sufistik atas tradisi leluhur.
Dipandu oleh Mbah Jai, tokoh karismatik dari Ranting PWI LS Randudongkal, pertunjukan Sintren bukan sekadar seni tari, tetapi menjadi manifestasi spiritual masyarakat pesisir utara Jawa. Diselenggarakan di Pondok Pesantren Darul Falah, Rembul, Kecamatan Randudongkal, Kabupaten Pemalang, acara ini tidak hanya merayakan kekayaan seni, tetapi juga menggali nilai-nilai filsafat dan tasawuf dalam warisan budaya bangsa.
Sintren: Antara Mistisisme dan Estetika Tradisi
Sintren, yang berasal dari wilayah Cirebon, Indramayu, hingga merambah ke Pemalang, Tegal, dan Pekalongan, adalah tarian sakral yang kaya dengan unsur magis. Tarian ini biasanya dimainkan oleh seorang gadis perawan yang dijaga kesuciannya, sebagai simbol kemurnian jiwa. Ia dimasukkan ke dalam kurungan ayam, sebagai lambang pengasingan diri dari dunia material. Melalui ritual pemanggilan roh—yang secara sufistik bisa dipahami sebagai proses fana’ atau hilangnya ego diri—penari keluar dalam kondisi trans dan mengenakan pakaian berbeda. Ia kemudian menari, seolah digerakkan oleh kekuatan lain yang lebih tinggi.
Tasawuf dalam Gerak dan Irama
Dalam kaca mata tasawuf, prosesi Sintren mengandung filosofi mendalam tentang perjalanan ruhani manusia. Musik gamelan yang mengiringi bukan hanya bunyi, tapi zikir budaya yang menggema di antara langit dan bumi. Setiap gerakan penari bukan sekadar estetika tubuh, tapi ibarat perjalanan suluk menuju Sang Maha, tempat kedirian luluh dan kesadaran hakiki muncul.
Ustadz Imron dalam pengantarnya malam ini menyampaikan bahwa, “Sintren adalah bentuk ekspresi sufistik masyarakat Jawa dalam bingkai budaya. Ia bukan sekadar pertunjukan, tetapi tafsir lokal atas kerinduan ruh kepada Tuhannya.”
Pelestarian dalam Arus Zaman
Kesenian Sintren telah melewati zaman, dari era kerajaan, kolonial, hingga modernisasi, namun makna luhurnya tetap bertahan. Ia tumbuh sebagai sarana pendidikan, hiburan, ekspresi sosial, dan penguat ekonomi rakyat. Lebih dari itu, Sintren adalah ruang tafakur dalam bentuk budaya, tempat nilai-nilai religi dan sejarah diwariskan tanpa kehilangan keindahan.
Pementasan Sintren besok di RAKORDA bukan sekadar hiburan penutup, tetapi pernyataan tegas bahwa budaya luhur bangsa ini harus terus dihidupkan, bukan hanya dipertontonkan. Sebab di balik gemulai tari dan denting gamelan, tersembunyi kearifan yang menuntun manusia mengenal dirinya, mengenal Tuhannya.
Hengky Sendyanto
Tim Divisi Media dan Informasi DPD PWI LS Kab Pemalang.
