
S 2 IAIN Sunan Ampel Surabaya.
Sebentar lagi kita merayakan Hari Raya Idhul Adha 1446 H / 2025 M. Seluruh umat Islam melaksanakan dengan riang gembira. Ditandai dengan pembagian daging qurban.
Boleh dibilang berbeda dengan Hari Raya Idhul Fitri yang dilakukan beberapa bulan lalu oleh umat Islam. Hati Raya Idhul Adha ada pembagian daging Qurban untuk faqir miskin.
Hal tersebut berasal dari kisah Nabi Ibrahim bermimpi melihat dirinya menyembelih putranya Nabi Ismail dan menggantikan dengan domba.
Bagi Nabi Ibrahim, ini bukan sekadar mimpi. Dia tahu betul jika mimpi para nabi adalah wahyu dari Allah SWT.
Dikisahkan dalam Al Quran Nabi Ibrahim mendatangi Nabi Ismail dan menceritakan tentang mimpinya itu dan berkata :
“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu, maka pikirkanlah apa pendapatmu?” (Surat As-Saffat: 102).
Usai bertanya, Ismail langsung menjawab dengan tenang dan penuh keyakinan. Tak ada penolakan. Bahkan menerima dengan ikhlas.
“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.” (Surat As-Saffat: 102).
Keduanya kemudian berjalan menuju tempat penyembelihan. Saat Ibrahim membaringkan Nabi Ismail dan mengangkat pisau, datang seruan dari Allah.
“Wahai Ibrahim, sungguh, engkau telah membenarkan mimpi itu.” (Surat As-Saffat: 102).
Selanjutnya, Allah meminta Nabi Ibrahim agar menggantikan Nabi Ismail dengan seekor hewan qurban. Nabi Ibrahim memilih domba. Meskipun ada hewan lain seperti Onta dan Sapi.
Dari sinilah awal mula ibadah kurban tiap perayaan Idul Adha, yang kemudian identik dengan kambing, domba. Di Indonesia banyak yang menyembelih sapi. Sedangkan di Arab Saudi banyak yang menyembelih Onta.
Allah kemudian juga berfirman dalam Surat Al-Hajj ayat 34 bahwa, “bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (kurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka”.
Hal ini ternyata pemilihan kambing bukan sekadar kebetulan. Melainkan sangat kontekstual dengan realitas sosial dan budaya tempat Nabi Ibrahim itu tinggal di Makkah yang banyak domba domba dipelihara dan diternakkan.
Dibanding hewan lain, ini menunjukkan kambing atau domba adalah hewan pertama yang dilakukan domestikasi atau penjinakan sebagai hewan ternak di Makkah di wilayah kerajaan Mesopotamia.
“Kambing tampaknya merupakan spesies pertama yang didomestikasi sebagai ternak sekitar tahun 8000 SM yang kini dikenal sebagai Timur Tengah,” ungkap riset “The Goat in Ancient Civilisations: from the Fertile Crescent to the Aegean Sea” (2004).
Kondisi geografis Timur Tengah sangat cocok untuk pengembangbiakan kambing. Wilayah ini didominasi dataran dan perbukitan kering yang tidak cocok untuk pertanian basah, tetapi cukup ideal bagi ternak seperti kambing dan domba.
Kambing dan domba punya keunggulan biologis yang membuatnya bisa adaptasi di lingkungan seperti itu.
Hewan-hewan domba atau kambing memiliki kantung depan di dalam perut yang memungkinkannya mencerna rumput, dedaunan, dan makanan lain yang terutama mengandung selulosa dengan lebih efisien dibanding mamalia lain.
Selain itu, kambing perlahan juga dianggap hewan serbaguna. Bagian-bagian dari tubuhnya bisa dikonsumsi manusia, seperti susu dan kulit. Dari sinilah, hewan tersebut menyatu dalam kebudayaan Timur Tengah. Banyak dikembangbiakkan.
Salah satu penggembala kambing paling terkenal adalah pemuda dari suku Quraisy bernama Muhammad yang kelak jadi nabi terakhir.
Mengacu pada autobiografi berjudul Muhammad Sang Nabi: Sebuah Biografi Kritis (2011), Muhammad awalnya menjalani pekerjaan sebagai penggembala kambing. Pekerjaan ini dibutuhkan karena para pemilik kambing butuh penggembala agar hewan ternak mereka bisa memperoleh rumput dengan teratur.
Beranjak dari alasan inilah, wajar apabila Nabi Ibrahim memilih kambing sebagai pengganti penyembelihan anaknya. Sebab, kambing atau domba jadi hewan paling mudah ditemukan di Timur Tengah. Begitu juga terjawab kenapa Nabi Muhammad memilih jadi penggembala kambing..
