Mendokumentasikan Hubungan dengan Bangsa Malaysia lewat Puisi: Sesaji Dewa Ringgit’ karya Nur Habib

 

Kediri-Menaramadinah. Com Rabu Kliwon, 28 Mei 2025 Pagi ini cuaca redup, mengingatkan kenangan masa lalu saat awal menginjakkan kaki di Negeri Malaka Malaysia, bermandikan peluh, kerja di proyek bangunan sebagai kuli bangunan dalam kelompok atau geng ikat batu, mengantarkan satu tong atau timba plastik, kepada tukang-tukang batu yang jumlahnya puluhan, lari sana, lari sini, sambil melihat tukang-tukang mana yang membutuhkan adonan semen atau ‘luluh’. Jari-jari tangan sampai terasa kaku, dan sakit untuk di luruskan.

 

Sebagai anggota baru dalam geng aku mendapatkan bimbingan dari senior tetapi juga sekaligus menjadi bahan tertawan, yang kadang aku tidak menyadari nya.

Namun itu adalah kenangan indah aku berinteraksi dengan bangsa Malaysia yang terdiri dari Bangsa Melayu sebagai Bumi Putra, Bangsa India dan Bangsa Cina yang menjadi Bangsa Pendiri Negara Malaysia, pertemuan di kawasan bangunan inilah yang memberikan kenangan indah dan mengesankan sebagai bangsa ‘serumpun’ dengan dinamika serta romantika yang menginspirasi.

Kenangan-kengan indah itu aku dokumentasikan dalam bentuk karya: puisi-puisi pendek’ yang terangkum dengan judul besar: “SESAJI DEWA RINGGIT”.

Pada tulisan kali ini diambilkan pada jilid 1 judul kecilnya: ‘Dibawah Ketiak Perempuan’ inilah puisi tersebut:

BIAR

Biar aku direndahkan
Biar aku dikalah-kalahkan
Biar aku disusah-susahkan
Biar,
aku disucikan
oleh Mu
Tuhan

Sebagai pekerja kuli bangunan yang mengandalkan kekuatan otot dan tulang tentu membutuhkan tenaga yang kuat. Pengalaman mengajarkan bahwa hidup merantau mensyaratkan hubungan yang erat, kekompakan saling tolong-menolong khusus nya dalam kelompok kecil yang di sini disebut: ‘geng’ agar bisa selaras dalam melaksanakan pekerjaan.
Semboyan nya: ‘Tetap Semangat’, artinya seberat apapun pekerjaan harus dilakukan dengan semangat tinggi.
Ada anekdotnya juga: ‘Malaysia Pakde’. Maksudnya adalah bahwa: Ringgit-demi Ringgit yang kita kumpulkan dari hari ke hari itu sangat di tunggu dan dinantikan oleh keluarga, anak-istri yang ditinggalkan di Tanah Air Indonesia.

Ringgit-Ringgir yang dikirimkan itu diperoleh dengan kerja keras sampai ‘banjir keringat’ arti semua anggota tubuh mengeluarkan keringat, tak terkecuali alat vital pun mencucurkan air keringat.
Nur Habib, membuat puisi-puisi tersebut setiap sore selepas kerja sore hari.

Nur Habib