
BLITAR– Nuansa khidmat, mengiringi Haul Eyang Djugo ke 155 yang di selenggaran Pemerintahan Desa Jugo Kecamatan Kesamben Kabupaten Blitar.

Acara yang dihelat di Padepokan Eyang Djugo, di Desa Jugo, Kesamben 4 Mei 2025 ini bukan sekadar ritual tahunan saja.Melainkan menjadi pengikat nilai-nilai luhur yang diwariskan seorang tokoh besar: Eyang Djugo.
Pemerintah Desa Jugo menggandeng seluruh elemen masyarakat untuk menyukseskan acara tersebut. Tak hanya warga lokal, para peziarah dari berbagai daerah turut hadir. Doa tahlil terlantun dalam suasana hening yang nyaris mistis.
Di tengah keramaian itu, Bupati Blitar H.Rijanto berdiri dengan penuh penghormatan. Dalam sambutannya, ia menekankan bahwa haul ini bukan hanya tradisi spiritual, melainkan juga pengingat akan jati diri dan kearifan lokal.
Selain itu menurut Bupati Blitar, dalam haul Eyang Jugo ini terdapat nilai-nilai luhur yang diajarkan, seperti gotong royong, kesederhanaan, kearifan, keimanan yang kuat dan semangat pantang menyerah.
Mantan Ketua IPSI dan PSBI Blitar ini sangat mengapresiasi seluruh rangakaian kegiatan haul Eyang Djugo.Karena dapat menarik wisatawan sehingga dapat meningkatkan perekonomian warga.
“Sekali lagi monggo sama-sama menjaga marwah dari kegiatan ini agar tetap lestari, anak cucu tetap bisa menikmati dan menjaganya. Hal ini juga menjadi pengingat bagi kita akan pentingnya menghormati para leluhur, menjaga silaturahmi antar keluarga dan masyarakat, juga dapat melestarikan nilai-nilai budaya yang telah diwariskan,” ujar Bupati
” Kita juga termotivasi untuk menjadi pribadi yang lebih baik dan memberikan kontribusi positif bagi keluarga, masyarakat, dan bangsa,”tambahnya.
Kegiatan seperti ini,lanjut Bupati,bisa menguatkan ikatan sosial sekaligus menjadi wadah pelestarian budaya. “Antusiasme warga dan para peziarah juga memberi dampak ekonomi positif bagi desa. Warung makan dan para pedagang kaki lima di sekitar padepokan tampak ramai sejak pagi hari,” pungkasnya.
Bagi masyarakat Jugo Haul ini diselenggarakan tidak sekadar peringatan. Acara ini juga merupakan refleksi panjang atas perjalanan hidup seorang tokoh spiritual yang misterius namun amat dihormati. Eyang Djugo, yang memiliki nama asli R.M. Soerjokoesoemo—juga dikenal sebagai Kiai Zakaria II atau Mbah Kromodi Redjo—adalah mantan pengawal Pangeran Diponegoro. Pasca kekalahan dalam Perang Jawa Tahun 1825-1830.Beliau menanggalkan identitas kebangsawanannya dan memilih jalan sunyi sebagai seorang pertapa.
Helatan Haul ke 155 Eyang atau Mbah Djugo menjadi saksi napak tilas spiritualitas dan budaya. Sejarah mencatat, ia pertama kali muncul di Desa Jugo dengan cara yang tak biasa, menjelma di hadapan para penggembala dan tinggal di sebuah kandang sapi kosong. Dari sana, ia menyebarkan ajaran spiritual, menyembuhkan penyakit, dan membangun pusat pembelajaran spiritual. Dalam upaya menghindari kejaran Belanda, ia mengubah namanya menjadi Djugo—berasal dari kata Jawa “sajugo”, yang berarti sendiri.
Kisah penyembuhannya selama wabah kolera di Jawa Timur pada 1860-an menjadi legenda yang tak lekang.
Sejarawan lokal, Khalid Adnan, menyebut bahwa metode penyembuhan Eyang Djugo dengan doa dan air berkah masih menjadi tradisi di kalangan masyarakat sekitar. “Tak sedikit orang dari luar daerah datang untuk mencari kesembuhan dari metode warisan beliau,” ujar Khalid.
Warisan spiritualnya tak hanya berhenti di Desa Jugo. Setelah wafat pada 22 Januari 1871, Eyang Djugo dimakamkan di Gunung Kawi—yang kini menjadi pusat ziarah lintas budaya dan etnis. Di sana, tiap malam Jumat Legi dan malam 1 Suro, ribuan orang berkumpul untuk berdoa, menyuguhkan sesaji, dan membakar dupa. Tradisi tahlil dan semedi dipimpin juru kunci keturunan Eyang Sudjo, putra angkat Eyang Djugo.
Yang menarik, penghormatan terhadap Eyang Djugo juga datang dari komunitas Tionghoa. Di pesarean Gunung Kawi, barongsai dan pembagian angpau menjadi bagian tak terpisahkan dari ritual haul, terutama saat perayaan Imlek dan Tahun Baru Islam. Bahkan, di beberapa klenteng seperti Kim Tek Ie di Jakarta, Eyang Djugo dipuja sebagai guru agung, menunjukkan betapa inklusifnya ajaran yang diwariskannya.*Imam Kusnin Ahmad*
