
Oleh ?: Gus Ahong.
Ada potongan video yang belakangan beredar di media sosial—sekelompok orang Madura membawa celurit, mengayunkannya di udara sambil diiringi lagu mars Banser yang telah digubah sedemikian rupa. Lirik aslinya yang heroik dan patriotik diubah menjadi provokatif, dan yang membawakan lagu itu bukanlah seorang tokoh NU, bukan pula seniman Madura, melainkan Bahar bin Smith—seorang yang lebih dikenal karena retorikanya yang meledak-ledak ketimbang kedalaman ilmu dan kearifan tutur katanya.
Sekilas mungkin tampak seperti ekspresi budaya. Tapi kalau dilihat lebih jeli, ini adalah ironi. Miris, karena yang ditampilkan ke publik bukanlah kekayaan budaya Madura yang penuh etika, keberanian yang disertai adab, atau kesetiaan kepada nilai. Akan tetapi yang muncul malah kesan: garang, brutal, dan siap bentrok. Saya melihat, ini bukan terjadi tanpa sengaja. Ini adalah produk rekayasa, terjadi berdasarkan desain; disusun dan diarahkan oleh mereka yang lihai memanfaatkan emosi.
Loyalitas dan Ekploitasi
Kalau kita bicara tentang karakter orang Madura, berbagai studi dan teori sosial mencatat: mereka adalah kelompok etnis yang terkenal loyal, punya solidaritas tinggi, dan sangat patuh terhadap para tokoh agama, utamanya kiai dan habaib. Dalam kerangka teori Clifford Geertz, loyalitas santri terhadap kiai bukan hanya urusan agama, tapi juga politik dan sosial. Dan dalam konteks Madura, itu bahkan lebih dalam lagi: kiai bisa menjadi rujukan hidup.
Sayangnya, di titik inilah kadang terjadi manipulasi. Kepolosan dalam berloyalitas kadang berubah jadi kerentanan. Mereka yang cerdik dalam memainkan simbol agama dan lihai dalam memancing emosi, termasuk Bahar bin Smith dan kelompok-kelompok sejenis—melihat celah ini. Dengan modal retorika agamis dan jargon “membela ulama”, sebagian warga Madura didorong untuk tampil ke depan, dengan dalih “membela agama”. Tentu, sebagai orang yang berdarah dan berkultur Madura, secara pribadi saya sangat menyayangkan kondisi ini.
Saya teringat dengan peristiwa sekitar tahun 2012 di Kalimantan Barat, ketika sempat ada ketegangan antara ormas tertentu dengan suku Dayak. Kala itu, sebagian warga Madura ikut terseret, terbawa suasana panas, dengan narasi “membela agama dan ulama”. Hasilnya? Ketegangan meningkat, dan yang paling dirugikan justru masyarakat akar rumput, bukan elite ormas, bukan pula para “provokator”.
Apa yang terjadi hari ini dalam video yang beredar ini seakan mengulang pola yang sama. Bahar bin Smith—yang tidak dikenal punya hubungan historis, emosional, ataupun kultural dengan Madura—malah dengan enteng memainkan dan memanfaatkan simbol-simbol kekerasan yang dilekatkan pada orang Madura (celurit, nyali, aksi jalanan), demi narasi yang sangat politis.
Dari Kultur ke Karikatur
Sosiolog asal Prancis, Pierre Bourdieu, berbicara tentang simbolik kapital. Dalam banyak hal, warga Madura punya simbolik kapital besar: keberanian, loyalitas, dan kekuatan solidaritas. Tapi ketika simbol itu diambil alih dan dipelintir untuk jadi karikatur semata, seperti adegan memainkan celurit dengan lagu mars yang telah dimodifikasi—maka yang muncul adalah eksploitasi.
Budaya Madura yang semestinya ditampilkan sebagai etika perlawanan terhadap ketidakadilan, kini justru dikerdilkan menjadi alat agitasi. Dan ini menyedihkan. Potensi sosial yang besar malah dijadikan tameng oleh mereka untuk kepentingannya.
Saatnya Sadar dan Mengelola Warisan Budaya
Warga Madura, termasuk saya di dalamnya, harus mulai berpikir ulang. Sudah saatnya yang tampil ke depan bukan celurit, tapi kecerdasan sosial. Berani membela ulama yang Haq itu harus, namun demikian, kita juga harus berani berkata tidak pada mereka yang menjadikan Madura sebagai alat perpanjangan konflik. Kiai dan ulama sejati Madura selama ini selalu menjadi perekat, bukan pemantik.
Maka, jika ada yang datang hanya membawa retorika keras, simbol kekerasan, dan narasi provokasi, lalu mengatasnamakan agama, tanyakan satu hal sederhana: “Apa sebenarnya yang kalian perjuangkan, dan mengapa harus kami yang dijadikan tameng?”
