
BLITAR-Hari Raya Idul Fitri bukan sekadar momen kemenangan setelah sebulan penuh menunaikan ibadah puasa.Tetapi juga kesempatan bagi setiap insan untuk kembali fitri, suci dari dosa, dengan meraih ampunan Allah yang Maha Kuasa.
Kehidupan manusia tidak lepas dari khilaf dan kesalahan, baik kepada Allah maupun kepada orang-orang yang berinteraksi dalam kehidupan.
“Idul Fitri menjadi waktu yang tepat untuk memperbaiki hubunganspiritual dan sosial yang lebih kuat,”.
Hal ini disampaikan Ustadz Mohammad Abdullah ( Ustadz A’ab ), saat
Khutbah Idul Fitri dengan tema Kembali Suci dengan Ampunan Ilahi dan Silaturahmi “.
di Masjid Al-Musthofa Bakung Udanawu Blitar.
Dihadapan ratusan jamaah ustadz A’ab menyampaikan, setelah satu bulan penuh umat Islam mempuh jalan kesabaran, kini tibalah saatnya merayakan kemenangan dan keberkahan. Teriring kalimat doa.
“Semoga kita menjadi orang yang kembali fitri dan terjamin, serta masuk dalam golongan orang-orang muttaqin.”
Dipagi ini, jiwa-jiwa yang haus akan rahmat Allah,lanjutnya dipenuhi keceriaan yang mendalam. “Dibasuh lautan ampunan dari Allah, Tuhan semesta alam. Di bawah langit yang bertasbih atas izin ilahi, kita berkumpul dalam kemenangan sejati. Bukan hanya karena menuntaskan puasa di bulan yang suci, tetapi karena berhasil menundukkan hawa nafsu untuk menjadikan diri jiwa-jiwa yang suci,” katanya.
Idul Fitri adalah tentang hati yang kembali suci, tentang ruh yang bersujud dalam damai di hati. Merasakan kelembutan kasih sayang Allah yang Maha Abadi. Idul Fitri adalah tentang panggilan untuk kembali pada kesucian, memperkuat silaturahmi dan kebersamaan. Menanamkan kasih sayang pada mereka yang selama ini bersama dalam kehidupan. Semoga kebahagiaan ini tidak hanya berhenti di hari ini, tetapi terus menyala dalam setiap langkah kehidupan ini.
Untuk mewujudkan kesucian diri kita, lanjut Ustasz A’ab ada dua hal yang perlu kita pahami dan tancapkan dalam hati dan sukma. Pertama adalah penguatan dimensi vertikal kepada Allah SWT, melalui penguatan ibadah dan meraih ampunan atas segala dosa. Kedua adalah penguatan dimensi horisontal kepada sesama manusia, melalui kepekaan sosial dan senantiasa menebar kebaikan dan cinta. Jika dua hal ini mampu diaplikasikan dalam kehidupan kita, maka insyaallah kehidupan kita akan dinaungi kebahagiaan sampai akhir masa.
“Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.” (Surat Ali Imran ayat 133).
Dilanjutkan dengan
(Surat Ali Imran ayat 134).
Artinya, “(Yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.”
Dari ayat ini kita diingatkan cara untuk menyucikan jiwa. Langkah pertama untuk meraihnya adalah berdasarkan ayat Al-Imran 133. Kita diperintahkan untuk bersegera meraih ampunan dan surga-Nya. Seraya menyadari bahwa kuasa Allah begitu luas bagi kita. Seluas surga yang Ia sediakan bagi orang-orang yang bertaqwa.
Bentuk ikhtiar meraih ampunan-Nya, telah kita lakukan selama satu bulan penuh. Berpuasa menjalankan perintah Allah dengan hati yang kukuh. Iman dan takwa juga terus kita semai untuk memastikan ibadah kita senantiasa utuh.
Semoga semua ini berujung pada ampunan Allah sebagaimana hadits Rasulullah dari Abu Hurairah:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Artinya, “Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadan, dengan keimanan dan mengharapkan pahala dari Allah, maka akan diampuni dosa masa lalunya.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Langkah kedua untuk mensucikan diri adalah sesuai dengan lanjutan ayat pada surat Ali Imran ayat 134. Jika kita ingin kembali kepada kesucian dan ketakwaan yang kuat, maka kita harus menguatkan ibadah sosial dengan sedekah, infak, dan zakat. Ibadah ini tidak hanya dilakukan saat kita dalam kondisi finansial kuat, namun harus dilakukan saat kita merasa berat sebagai wujud taat kepada Allah sang pemberi nikmat.
Kita harus yakin bahwa berbagi tidaklah sama sekali akan mengurangi harta kita. Sebaliknya, dengan berbagi maka hakikatnya Allah sedang menambah apa yang kita punya. Zakat fitrah yang kita keluarkan di bulan puasa dan zakat mal untuk menyucikan jiwa kita, adalah wujud kesadaran jiwa, bahwa semua yang kita punya adalah milik Allah SWT dan akan kembali kepada-Nya.
Hal ini sekaligus menyadarkan kita bahwa ada hak orang lain di dalam harta kita, semua bukan milik kita dan tak akan di bawa saat kita meninggalkan dunia. Hanya dengan cara berbuat baik dengan harta yang disedekahkan kepada sesama, harta kita akan memberi manfaat saat kita sudah kembali kepada Allah SWT.
Ma’asyiral muslimin wal muslimat, jama’ah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah
Allah juga memerintahkan, agar kita senantiasa mengendalikan amarah dan suka memaafkan kesalahan. Karena Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan. Ramadhan dan Idul Fitri menjadi momentum pembuktian.
Saat puasa, kita diwajibkan mengendalikan nafsu amarah yang sering kita lakukan. Kemudian di Hari Idul Fitri, kita diperintahkan untuk saling memaafkan. Mari semua itu kita lakukan dengan tulus tanpa kepalsuan. Perkuat silaturahmi untuk mengikat hati kita sesama penuh kedamaian.
Mari jadikan Idul Fitri kali ini, Idul Fitri yang terbaik bagi kita. Mari kuatkan tekad untuk senantiasa mempertahankan kesucian ini bersama. Kita tidak tahu apakah kita akan bisa bertemu kembali dengan Idul Fitri-Idul Fitri di masa selanjutnya. Mari kita saling memaafkan atas segala dosa yang pernah kita perbuat pada sesama.
Terutama meminta maaf kepada kedua orang tua kita, yang telah melahirkan kita ke dunia. Beruntunglah yang masih memiliki kedua orang tua. Mereka adalah jimat yang harus terus kita jaga.
Merekalah yang telah berjasa dalam kehidupan kita dan menghantarkan kita meraih kesuksesan kehidupan di dunia.
Bulan Ramadan telah berlalu, dan kini umat Muslim memasuki bulan Syawal. Kepergian Ramadan menimbulkan rasa rindu di hati seorang Muslim karena keberkahan ibadah di bulan tersebut, terutama puasa, merupakan anugerah yang besar. Oleh karena itu, sebagian umat Islam melanjutkan ibadah puasa selama enam hari di bulan Syawal, mengikuti sunnah Rasulullah SAW yang menyatakan bahwa pahala puasa Ramadhan yang diikuti dengan enam hari puasa Syawal setara dengan pahala berpuasa setahun
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ ثُمَّ أَتْبَعَهُ سِتًّا مِنْ شَوَّالٍ كَانَ كَصِيَامِ الدَّهْرِ , “
Siapa saja yang
berpuasa Ramadan, kemudian dilanjutkan dengan enam hari di bulan Syawal, maka seperti pahala berpuasa setahun.” (HR Muslim).
Ada beberapa Keutamaan Puasa Sunah Syawal.Diantaranya
sebagai penyempurna puasa Ramadan. Sebagaimana salat sunnah rawatib melengkapi kekurangan dalam salat fardhu. Puasa Syawal menyempurnakan ibadah puasa Ramadan. Keutamaan yang lain. Melaksanakan puasa enam hari di bulan Syawal setelah Ramadan dijanjikan pahala seperti berpuasa selama setahun dan menjadi tanda diterimanya Puasa Ramadan.
Kebiasaan melakukan kebaikan setelah beribadah, seperti puasa Syawal setelah Ramadan, merupakan indikasi diterimanya ibadah Ramadan. “Sebaliknya, usai puasa ramadan melakukan keburukan setelah kebaikan bisa menjadi tanda tertolaknya. amalan tersebut,” tuturnya.
Salat Idul Fitri di Masjid Al Musthofa, dimulai pukul 6.30. Dengan Imam Kiai Makrus dan bilal ustadz Minhajul Qowim. Usai salat dan kutbah acara disempurnakan dengan halal bi halal dan genduri. *Imam Kusnin Ahmad*
