
JAKARTA – Dua hari lalu Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai menyambangi kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Pigai mengenang kedekatannya dengan Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang juga tokoh NU.
“Hidup saya hidup di lingkaran NU, saya dari Papua dibawa oleh Gus Dur. Saya menjadi menteri karena dibawa oleh Gus Dur, saya satu-satunya menteri yang dibawa Gus Dur dari Papua,” ujar Pigai kepada media di kantor PBNU, Jakarta Pusat, Selasa.
Pigai datang ke PBNU juga untuk membahas sejumlah kerja sama terkait dengan HAM.
Menurut Pigai, NU telah menjadi pedoman hidupnya.
“Kalau NU sudah menjadi pedoman hidup kami selama ini,” kata Pigai terus terang.
Menurut Pigai, kerja sama ini juga dilakukan atas kepercayaannya pada kiprah PBNU memahami isu HAM selama ini. Menurutnya, PBNU telah memahami prinsip dan standar HAM internasional.
“Menurut saya, saya tidak ragu karena mereka ( NU )punya dasar agama yang nilainya memuliakan manusia, memuliakan alam semesta, memuliakan Tuhan, karena itu saya tidak meragukan, dan mereka memahami prinsip dan standar HAM internasional,” ujar Pigai.
Kepercayaan Pigai pada PBNU makin diperkuat karena PBNU memiliki nilai spiritual yang menghormati HAM. Pigai mengatakan PBNU memiliki nilai menghormati HAM, punya standar dan cara HAM serta paham deklarasi HAM.
“Kalau kami sangat percaya dengan NU, karena dia dipayungi tiga, yang pertama adalah nilai-nilai spiritualitas yang ada, yang tentu menghormati human rights. Yang kedua PBNU punya standar dan cara pandang human rights, berpedoman pada prinsip dasar yang sudah ada,” kata Pigai.
“Ketiga, PBNU sangat paham berbagai deklarasi human rights internasional,” tambahnya.
Ketua Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) Ahmad Suaedy mengatakan, PBNU menyambut positif inisiatif Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai yang berencana melakukan kerja sama membangun kesadaran masyarakat, terutama warga NU, mengenai pentingnya hak asasi manusia.
“Yang penting adalah PBNU menyediakan diri untuk melakukan kerja sama terutama penyadaran terhadap masyarakat, lebih khusus lagi warga NU. Jadi ada berbagai masalah di masyarakat ini bisa dikerjasamakan,” kata Suaedy.
Ketum PBNU KH Yahya Cholil Staquf didampingi Ahmad Suedy dan Ketua PBNU sekaligus Staf Ahli Kementerian HAM Rumadi Ahmad menerima kunjungan Menteri HAM Natalius Pigai di Lantai 3 Gedung PBNU, Jalan Kramat Raya 164, Salemba, Jakarta, Selasa (14/1/2025) pukul 11.15 hingga 13.20 WIB. Pigai didampingi Wakil Menteri HAM Mugiyanto Sipin dan Staf Khusus Menteri HAM Thomas Suwarta.
Sedangkan Pigai menyampaikan rencana memperkuat kerja sama dengan NU guna membangun kesadaran HAM di kalangan masyarakat. Salah satu langkah yang digagas adalah melalui pendidikan. “Khusus dalam dunia pendidikan. Kemungkinan kita akan gagas salah satu program untuk pendidikan pusat studi HAM di universitas di bawah naungan NU. Tapi tidak semua, kita akan lihat satu atau dua kita akan bangun,” jelasnya.
Pigai juga menggagas program untuk pendidikan HAM, termasuk pengembangan program pelatihan bagi tenaga pelatih yang akan berfokus pada organisasi pendidikan, penyuluhan di sekolah-sekolah, perguruan tinggi, dan pesantren. “Itu semua disambut baik oleh oleh ketua umum PBNU,” katanya.
Selain itu, Pigai mengatakan, pertemuan dengan ketum PBNU yang akrab disapa Gus Yahya itu juga bertujuan untuk meminta pandangan soal pembangunan peradaban manusia di Indonesia.
“Ini konteksnya membangun peradaban secara spesifik, yaitu dengan mainstreaming (arus utama) human right, yaitu bagaimana mengubah mindset pikiran tentang HAM. Kedua, bagaimana kultur human right dan tindakan atau kebijakan yang berkaitan dengan human right tidak hanya ada di dalam institusi pemerintah, tetapi juga disebarluaskan ke sektor-sektor dan masyarakat umum,” terang ketua Komnas HAM 2012–2017 itu.*Imam Kusnin Ahmad*
*
