Tradisi Sastra Dalam Ramadan

Catatan Amien Ridwan.

Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh berkah, Banyak umat Islam memiliki cara yang berbeda-beda dalam mengekspresikan dengan berbagai tradisi berkenaan dengan ramadan. Jangankan di seluruh dunia, di Indonesia saja, tradisi mengisi bulan Ramadan luar biasa banyak ragamnya. Setiap daerah memiliki tradisi yang berbeda satu sama lain. Mulai dari ngabuburit, tongtek, buka bersama, tadarus, tarhim, munggahan, nyekar, nyadran, megengan, baro’atan, Resik Resik Masjid, resik kuburan dan sebagainya.

Jepara, salah satu kota pesisir dipulau Jawa, punya satu tradisi unik setiap bulan Ramadan. kita akan menjumpai suasana yang berbeda setiap kali selesai jamaah tarawih. Bukan lantunan ayat suci yang akan kita dengar, tapi kita akan mendengarkan suara puji-pujian berbahasa Jawa mendayu-dayu melalui Toa masjid atau musala. Itu adalah senandung syi’ir mu’takad seket (aqoid 50) yang dilantunkan para jamaah.

Sebagian besar jamaah masih tetap duduk di tempat shalatnya untuk sejenak melantunkan syi’ir tersebut. Setelah syi’iran selesai, baru mereka pulang atau tadarus Alquran. Biasanya dipimpin seorang muadzin, jamaah melantunkan syi’iran aqoid 50 dengan langgam Jawa yang khas, membawa kita pada imajinasi tentang kehidupan muslim Jawa klasik yang agamis, tetapi tetap guyub dan rukun dengan sesama.

Ada beberapa versi syi’ir mutakad seket namun intinya tetap sama. Syiir ini dikenal oleh masyarakat Jepara secara turun temurun. Pembacaan syi’ir setelah tarawih juga sudah menjadi tradisi rutin yang berjalan di banyak masjid dan musala Jepara setiap bulan Ramadan.

Singkatnya, tradisi melantunkan syi’ir mu’takad seket bukanlah semata-mata agar suasana Ramadan menjadi ramai dan semarak. Tetapi lebih dari itu, para leluhur sengaja mendesain tradisi tersebut agar umat Islam senantiasa menghayati keagungan Allah dan Rasul-Nya dengan cara bertadarus sifat-sifat-Nya, terutama dalam rangka menggapai berkah di bulan Ramadan. Tidak hanya itu, lewat syi’iran mu’takad seket ini pula sebagai sebuah tradisi sastra masyarakat muslim Jawa, berfungsi sebagai hiburan, spiritual, dan edukasi. Intinya para leluhur juga mengajak masyarakat untuk lebih mengenal Allah dan utusan-Nya dengan cara yang mudah dan menyenangkan.

Wallahu A’lam