Oleh : Bambang Asrini Wijanarko.
Masih dari desa Muaro Jambi, secara tradisi para penduduknya intim dengan kerajinan mengayam, biasanya pandan dari generasi ke generasi diturunkan. Maka, ketika material tanaman gulma Resam dibawa oleh para seniman dan pengrajin lain desa, tak asing sebenarnya bagi mereka. Kerja bahu-membahu dengan komunitas Kilau Art Studio dan pengrajin menghidupkan area kompleks Candi. Seniman-seniman pada akhirnya tak hanya memikirkan bentuk desain lengkap yang berbahan Resam, tantangan-tantangan teknis mengkonstruksi dari draft/konsep awal dan bagaimana memilih lokasi dan tentu saja merisetnya soal Kedaton, sebagai pusat ajar-mengajar global masa lalu itu. Semua pada akhirnya terhubung pada buku sederhana yang penting: “mimpi-mimpi dari pulau emas, 2013”, sebagai salah satu rujukan para seniman. Buku ini disokong oleh sebuah agen perjalanan CEO Asia dari Perancis atas jasa baik seorang jurnalis, penulis dan sastrawan yg diganjar penghargaan bergengsi di Perancis atas kecintaanya yang besar pada sejarah dan karya2 klasik nusantara, terutama Jawa dengan “novel” fenomenalnya “kekasih yang tersembunyi, serat centhini”, yakni: elizabeth inandiak. 30 tahun hidup di Indonesia membuat dia tak menjadi seorang arkeolog atau ahli sejarah kuna, sebab pendekatan tulisannya yang cair, imajinatif dan kekuatan narasi-lah yang membuat karakter tulisannya menjadi istimewa. Proyek2 penulisan dan penyaduran baik naskah kuna dan kontemporer sejak 2000 an membuat Inandiak tertarik pada Muaro Jambi dan memberi sentuhan yang unik tatkala menjadi editor dengan membangun cerita di buku “mimpi-mimpi dari pulau emas” yang layak dibaca dan menjadi sumber utama. Ia menjawab pertanyaan bahwa kebajikan ilmu pengetahuan berkelindan dalam mitos, dongeng, sejarah riil masa lalu dalam khasanah budaya kita. Buku setebal 182 halaman ini dengan ciamik dibuat seperti seorang narator, pemuda2 kampung, aktivis lokal dan masyarakat Muslim disana seolah ungkapan berbagi rasa dari teks-teks dan syair I tsing sebagai saksi yang terpesona dengan candi itu dalam bahasa sansekerta, mandarin dan perancis, juga istilah-istilah dan lokasi dalam kompleks budhist, serta ini yang mengejutkan, ancaman-ancaman kerusakan lingkungan. Buku ini mengungkap juga cerita bagaimana masyarakat setempat menentang situs cagar budaya yang penting dari tangan-tangan perusak alam: tambang batu bara dan sawit. Seniman2 kemudian selama sebulanan mensurvei di desa sukamaju, sisa2 lahan sawit itu. Buku itu menuntun pada kita bahwa masa2 Emas masa lalu, puncak2 prestasi perguruan tinggi kuna diantara pusat2 studi dunia, keyakinan spiritual yang tak hanya menyoal ritual dan semadhi, tapi pencerahan akal dan budi, juga ratusan tahun ilmu2 pengetahuan itu dikenal dunia dan ancaman2 nyata situs budaya ini dari kerusakan lingkungan tersebab manusia-manusia modern telahbterhubung dengan karya Instalasi Harmoni ini. Salut pada sahabat2 muda setempat sebagai “living museum” dengan kekuatan tutur dan ingatan yang terwariskan, kepala cagar budaya candi muaro jambi, kemdikbud yang memfasilitasi para seniman2 ini. Ancaman tambang dan sawit yang telah menyebadan dalam karya instalasi, adalah semacam Alarm bahwa Indonesia tak sedang baik-baik saja Brotah and Sistah๐ silakan teman2 muda Saepul Bahri, Rengga Gautama Satria, Djoyo Begjo, Maong Tak, Faturrahman Ardiansyah dll. Salam Cinta๐๐๐๐ foto: rengga gautama
