(1)CURHATAN SEDIH ANAK SEORANG DOKTER yang MENINGGAL di Tengah Wabah Covid 19.

Ditengah wabah Covid 19 semua tau dokter bekerja keras membantu tanpa kenal lelah lagi..

Pengabdian pada masyarakat dengan didasari Lillah tak terasakan sedikitpun rasa lelahnya sebagai seorang dokter.

Lebih fokus mencari keberkahan dalam hidup. Kepuasan batin ia peroleh dengan bisa membantu sesama manusia.

Sabar dan telaten untuk menumbuhkan jiwa sosial seorang dokter.
Senyum dan santun menghadirkan RahmatNya untuk kesembuhan pasien pasien yang ditangannya.

ketenangan dalam bertugas menciptakan daya energik dan sinergis

Selain jarak tempuh yg cukup jauh GKB ke Bungah & tak jarang harus menginap karena Hujan di Tempat tugas “Rumah Sakit Islam Mabarrot MWC NU Bungah dan RS.Fathma Medika Sembayat ” yg ditempuh dengan kendaraan sepeda Motor karena kesederhanaanya.

Kesibukkannya sangat melelahkan dalam kondisi wabah Covid 19 khususnya yg terjadi di kota Gresik

Semua diceritakan secara langsung oleh dr.Hilmi Wahyudi kepada penulis beberapa bulan yang lalu .

Sa’at penulis melakukan Takziah
dirumah kediamannya di Jl.Madiun I / 10 GKB yosowilangon kec.Manyar Gresik pada hari Sabtu 30 Mei 2020 didapat keterangan bahwa 3 bulan terakhir ini tubuhnya mulai melemah setelah penyakit diabetesnya kambuh dan harus cuci darah seminggu 2 kali ( Selasa dan Jum’at) dengan waktu 4 jam setiap sekali cuci Darah di Rs.Ibnu Sina Gresik, “Ucap Dewi Anggrahani Istri Almarhum (37 Th)
Yg didampingi Richard 16 Th Putra tertua dari 4 bersaudara

Diceritakan bahwa pada Hari RABU 27 MEI 2020 ,” Ayahku Jatuh sakit om..,” Ucap Richard Putra pertama dr.Hilmi Wahyudi mengawali cerita kesedihannya mengenang Ayahnya.

Ayahku lemas dan kesakitan diperutnya, Hasil Rapid Test dinyatakan Non Reaktif / Negatif Covid 19 sambil menunjukan surat hasil test tgl 27 Mei 2020 kepada penulis

Kapan Ayah meninggal? ,” Tanya sang penulis

29 – MEI -2020 Detik detik terakhir ayah dibawah keruangan ICU dan tidak sadarkan diri tapi Richard hanya bisa melihat dalam bilik kaca sambil terus berdo’a ,” Ya Allah… sembuhkan Ayahku…
Ya Rabb….Aku masih butuh Ayahku untuk membimbingku..dan adik adikku ya Rabb…

Tak terasa linangan air mata jatuh mendengar cerita ini..

Terasakan kesedihan Richard menahan derasnya air matanya ketika menjawab pertanyaan penulis.

Diceritakan Tepatnya pada Hari Jum’at 29 Mei 2020
Richard melihat Dokter dokter pada bantu pernafasan ayah saat itu.

Richard hanya bisa melihat air dalam gelas yg menempel dalam tabung oksigen yg dipakai alat bantu pernafasan Ayahku berhenti bergerak om..
Sesekali mengusap air matanya agar bisa melanjutkan ceritanya.

Para Dokter berusaha melakukan pertolongan untuk menyelamatkan Nyawa Ayah..

Jam 21.15 WIB Nyawa Ayah tidak tertolong dan dinyatakan dokter telah meninggal Dunia artinya Ayah telah kembali pada Tuhan dengan meninggalkan Richard ,mama dan 3 Adikku untuk selamanya om…

Kesedihan belum berhenti sampai disini ketika urusan rumah sakit dan surat kematian yg disiapkan untuk membawa pulang Jenazah

Terhadang oleh keresahan Warga setempat yg dikomandoi oleh putusan kepala Desa yg melarang untuk dibawa pulang dengan Alasan bahwa Almarhum dr.Hilmi Wahyudi meninggal karena PDP covid 19 dengan pemahaman Protokol kesehatan Covid 19 dan pemberlakuan PSBB Covid 19 ke III di Kota Gresik Jawa Timur.

Disinilah kepanikan Dewi Anggrahani istri Almarhum mulai terjadi “ibarat sudah Jatuh tertimpa tetangga”

Bersambung…

Dan dia Adalah Sosok dokter Hilmi Alumnus Universitas Airlangga Surabaya yg meninggal 29 Mei 2020 di Rs .Ibnu sina Gresik dalam usianya ke 40 Tahun dgn meninggalkan sifat sederhananya kepada seorang istri dan 4 anak anaknya.

# Gilang Adiwidya
Jurnalis Gresik
Menaramadinah.com