
Menara Madinah.com,Ini adalah lanjutan dari artikel tentang Sarjana Kuburan Part 1 beberapa hari lalu.
Dalam dunia Sarjana Kuburan,ada istilah maqbaroh(makam) dan petilasan.Kedua kata tersebut memiliki makna yang berbeda.
Makam adalah suatu tempat dimana jasad seseorang atau atau tokoh tertentu dikebumikan.Bentuk makam ada banyak bentuknya.Ada yang hanya gundukan tanah dan diberi patokan bertuliskan nama orang yang dimakamkan,ada makam yang diberi cungkup (rumah kubur) yang bagus dan permanen ,ada yang berupa tumpukan batu bata tersusun rapi dan jenis makam yang terdengar aneh adalah makam gantung di Jl.Melati No.43,Kota Blitar. Pemakaman tersebut adalah maqbaroh seorang patih (mertua tokoh Emansipasi Wanita Ibu Kartini) yang semasa hidupnya dikenal sakti mandraguna karena memiliki Ajian Pancasona hingga sang patih mampu hidup lagi ,meskipun berkali-kali beliau dilukai .Sebenarnya yang digantung disana bukanlah makamnya,melainkan ilmu,pakaian,dan senjatanya yang tergantung diatas pusara.
Untuk petilasan,definisinya adalah suatu lokasi yang pernah ditinggali atau ditempati oleh seorang tokoh berpengaruh di zaman dahulu.Petilasan bisa berupa gua,tempat bertapa ,padepokan dan sebagainya.
Seperti Goa Selomangleng yang pernah dipakai bertapa Dewi Kilisuci,Pertapaan Eyang Abiyasa di Ngukiran,Gemarang,Madiun dan petilasan Ki Ageng Mangir di Saradan .Ketiga tempat bersejarah tersebut telah kami kunjungi beberapa waktu lalu.Suasanya cocok untuk olah batin,maka tak heran pada waktu-waktu tertentu disana banyak dijumpai orang-orang yang tirakat,dzikir dan lainnya bermeditasi.
Apa aktivitas para sarkub di makam dan petilasan?
Mereka berdo’a,tabarukkan,tawasul ,membuat dokumentasi perjalanan ziarah,ngobrol dengan juru kunci makam atau petilasan.Khusus bagi yang berilmu tinggi,mereka berusaha untuk melakukan mediumisasi untuk mendapat informasi secara supranatural.Tentu ini tidak dapat dilakukan oleh semua orang,hanya orang-orang yang berkemampuan khusus.
“Ziarah kubur merupakan salah satu amalan Kaum Nahdhliyyin.Amalan ziarah tidak dilarang agama ,sepanjang niat dan caranya tepat.Tujuannya tidak menyimpang dan tidak menyalahi syari’at.Jangan ziarah kubur untuk mencari pesugihan dan nomer togel.Suatu hal yang harus digaris bawahi bahwa peziarah harus berdo’anya pada Allah,jangan memohon pada makam yang dikunjungi”, urai Kang Teguh” Al-Farie”Santoso,seorang sarkub asal Madiun yang masih kuliah di Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Pangeran Diponegoro,Nganjuk.Lebih lanjut ,Kang Teguh “Al-Farie” Santoso menjelaskan bahwa para ulama aswaja telah mengajarkan do’a dan tata cara ziarah.Hal -hal itu penting untuk diketahui sebagai bekal dalam berziarah kubur dimakam wali,kyai,tokoh pejuang agama,dsb.
Selama ini,Kang Teguh “Al-Farie” Santoso telah bergabung dalam crew “Jelajah Wisata Religi” dari media online ini,Biro Nganjuk dan Madiun.
Dari crew”Jelajah Wisata Religi” masih memiliki banyak tugas untuk mengetahui asal-usul beberapa makam disekitar Saradan dan Nganjuk.Misalnya makam Syekh Ismail di Situs Mangiran(Saradan),makam Syekh Abdurrahman di Jatisari,Wilangan,makam Mbah Hasan Irsyad Kedungrejo,Bandungan dan dua makam aulia di Kerep Kidul,Bagor.
**Photo :Bro J dan Kang Teguh “Al-Farie ” Santoso di makam Kyai Karim,Gondang,Nganjuk.
#BroJ# 28 April 2020
#SejarahItuIndah#
#JanganLupakanSejarah#
#LestarikanSejarah
#HikmahZiarah#
